Penampakan Kerusakan Gempa Sangihe, Gereja Rusak hingga Rumah Warga Nyaris Ambruk

Kerusakan Gereja Masehi Injili Sangihe Talaud (GMIST) akibat terdampak gempa bumi Magnitudo 7.7
Kerusakan Gereja Masehi Injili Sangihe Talaud (GMIST) akibat terdampak gempa bumi Magnitudo 7.7

 Jejak kerusakan terlihat jelas usai gempa bumi berkekuatan Magnitudo 7,7 yang mengguncang wilayah Kepulauan Sangihe, Sulawesi Utara, pada Senin, 8 Juni 2026. Sejumlah foto yang beredar memperlihatkan kondisi rumah warga hingga gereja yang mengalami kerusakan akibat kuatnya guncangan yang dirasakan di beberapa wilayah terdampak.

Meski BMKG telah mengakhiri status peringatan dini tsunami, perhatian kini beralih pada dampak fisik yang ditinggalkan gempa tersebut. Potret-potret dari lapangan menunjukkan bagaimana bangunan yang sebelumnya berdiri kokoh mengalami kerusakan pada bagian struktur penting, termasuk rumah hingga gereja. 

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Salah satu foto memperlihatkan sebuah bangunan warga di Desa Maliambao, Kecamatan Likupang Barat, Kabupaten Minahasa Utara, yang mengalami kerusakan seperti retak-retak. 

Sementara itu, pada rumah yang terdampak terlihat atap teras miring dan nyaris roboh setelah sejumlah tiang penyangga tidak lagi mampu menopang beban bangunan. Pecahan beton berserakan di halaman rumah, sementara beberapa bagian dinding dan struktur penyangga tampak retak akibat getaran gempa.

Kerusakan paling mencolok terlihat pada area teras yang sebagian konstruksinya runtuh. Material bangunan yang berjatuhan membuat area depan rumah dipenuhi puing-puing. Meski bangunan utama masih berdiri, kondisi tersebut menunjukkan besarnya energi gempa yang mengguncang wilayah tersebut.

Tidak hanya rumah warga, sebuah bangunan Gereja Masehi Injili Sangihe Talaud (GMIST) juga dilaporkan terdampak.

Dari foto yang dibagikan, bagian depan gereja mengalami kerusakan cukup parah. Dinding bagian muka bangunan tampak roboh sehingga bagian dalam gereja terlihat dari luar. Beberapa material bangunan terlihat berjatuhan dan berserakan di sekitar area teras.

Meski salib hitam yang berada di halaman gereja masih berdiri tegak, kerusakan pada bangunan utama menunjukkan bahwa guncangan gempa memberikan tekanan besar terhadap struktur bangunan.

Sebelumnya, gempa Magnitudo 7,7 yang berpusat di laut sempat membuat masyarakat pesisir siaga setelah BMKG mengeluarkan peringatan dini tsunami.

Namun setelah dilakukan pemantauan terhadap aktivitas laut dan kondisi kegempaan, BMKG memastikan bahwa status peringatan tsunami telah resmi berakhir.

Meski demikian, masyarakat tetap diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap kemungkinan gempa susulan dan selalu mengikuti informasi resmi dari BMKG, BNPB, serta pemerintah daerah.

Data sementara yang dihimpun hingga Senin siang menunjukkan sedikitnya 27 kepala keluarga terdampak akibat gempa tersebut.

Sebanyak 20 kepala keluarga berada di Kabupaten Kepulauan Sangihe, sedangkan tujuh kepala keluarga lainnya berada di Kabupaten Kepulauan Talaud.

Selain itu, tercatat 27 unit rumah mengalami kerusakan. Sejumlah fasilitas umum juga terdampak, termasuk dua gereja, satu sekolah, satu rumah dinas guru, dan satu gedung GMIM 76 di Kabupaten Minahasa Utara.

Getaran gempa dirasakan di sejumlah wilayah seperti Marore, Tabukan Tengah, Tabukan Selatan, Tabukan Selatan Tengah, Tahuna, Tahuna Barat, Rainis, Likupang Barat hingga Kota Manado.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

BNPB bersama BPBD setempat saat ini masih terus melakukan pendataan dan asesmen di lapangan untuk memastikan jumlah kerusakan serta kebutuhan warga terdampak. 

Pemerintah juga mengimbau masyarakat untuk tetap tenang, tidak mudah mempercayai informasi yang belum terverifikasi, serta segera melaporkan bangunan yang mengalami kerusakan agar dapat ditangani lebih lanjut demi keselamatan bersama.