Imlek 2026: Makna Kue Keranjang, dari Ritual ke Simbol Kebersamaan

Kue keranjang, keranjang, Imlek 2026: Makna Kue Keranjang, dari Ritual ke Simbol Kebersamaan

Kue keranjang atau nian gao hampir selalu hadir dalam perayaan Tahun Baru Imlek.

Di balik rasa manis dan teksturnya yang kenyal, kue ini menyimpan sejarah panjang serta makna filosofis yang telah diwariskan selama ribuan tahun dalam budaya Tionghoa.

Kue berbahan dasar tepung beras ketan, gula, dan air ini tidak sekadar menjadi hidangan penutup.

Kue keranjang juga menjadi simbol harapan akan kehidupan yang lebih baik di tahun yang baru, sekaligus penanda pentingnya keharmonisan keluarga dan hubungan sosial.

Dari ritual persembahan ke tradisi Imlek

Dalam tradisi Tionghoa, kue keranjang dikenal dengan sebutan nian gao.

Di China, kue ini telah dikenal sejak ribuan tahun lalu dan awalnya digunakan sebagai persembahan dalam ritual adat.

Dikutip dari China Highlights, nian gao mulanya disajikan dalam berbagai upacara kepercayaan sebelum kemudian menjadi sajian khas Festival Musim Semi atau Tahun Baru Imlek.

Pada masa Dinasti Liao (907–1125), masyarakat Beijing sudah terbiasa menyantap kue keranjang pada hari pertama tahun baru.

Tradisi tersebut berlanjut pada masa Dinasti Ming dan Dinasti Qing, hingga akhirnya kue keranjang menjadi hidangan yang lekat dengan perayaan Imlek di berbagai wilayah.

Salah satu kisah populer tentang asal-usul kue keranjang berkaitan dengan Wu Zixu, seorang jenderal Kerajaan Wu pada periode Musim Semi dan Gugur.

Dalam cerita tersebut, fondasi tembok kota yang terbuat dari bahan ketan menjadi penyelamat prajurit saat terjadi pengepungan dan kelaparan.

Sejak itu, nian gao dibuat untuk mengenang peristiwa tersebut.

Selain itu, ada pula legenda Dewa Dapur. Kue keranjang dipersembahkan agar mulut Dewa Dapur “lengket” sehingga tidak melaporkan hal buruk tentang penghuni rumah kepada Kaisar Giok.

Makna manis dan lengket dalam kehidupan

Seiring waktu, fungsi ritual kue keranjang bergeser menjadi simbol kehidupan yang lebih luas. Pemilik usaha kue keranjang Hoki, Kim Hin Jauhari, menyebut bahan-bahan kue keranjang memiliki filosofi tersendiri.

"Kue keranjang ini kan dibuat dari gula, ketan dan juga air. Jadi, dalam kue keranjang itu memiliki filosofi yang begitu erat dalam kehidupan kita," kata Jauhari, dikutip dari Antara, Sabtu (10/12/2024). 

Menurut dia, rasa manis melambangkan harapan akan rezeki dan hubungan yang lebih baik di tahun baru.

Sementara teksturnya yang lengket dipercaya dapat merekatkan hubungan antara nggota keluarga dan kerabat.

Bentuknya yang bulat juga dimaknai sebagai simbol keutuhan dan kebersamaan. Karena itu, kue keranjang kerap disantap lebih dulu saat Imlek sebagai pembuka keberuntungan sebelum hidangan lainnya.

Jejak kue keranjang di Nusantara

Di Indonesia, kue keranjang sudah dikenal sejak abad ke-19. Sejarawan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Padjadjaran, Fadly Rahman, menyebut kue ini menjadi bagian dari sejarah kuliner masyarakat peranakan Tionghoa.

“Kalau dari bukti-bukti tertulis dan sejarah, kue ini mulai tampak pada abad ke-19. Banyak keluarga peranakan Tionghoa di Betawi dan Pulau Jawa memunculkan home industry kue ini untuk perayaan Imlek,” ujar Fadly.

Ia menilai tekstur kue keranjang yang lengket memiliki kemiripan dengan dodol yang dikenal dalam tradisi Jawa dan Betawi.

Hal tersebut menunjukkan adanya proses akulturasi kuliner antara budaya Tionghoa dan Nusantara.

Menurut Fadly, kue keranjang bukan hanya kudapan khas Imlek, tetapi juga simbol keharmonisan sosial yang tumbuh dari perjumpaan budaya.

Hingga kini, tradisi menyajikan dan membagikan kue keranjang tetap lestari sebagai pengingat pentingnya kebersamaan dan niat baik di awal tahun baru.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang