Kenapa Jeruk Wajib Ada Saat Imlek? Ternyata Ini Makna Keberuntungannya
Setiap Tahun Baru China atau Imlek tiba, satu hal yang hampir pasti terlihat di meja makan adalah jeruk mandarin.
Buah kecil berwarna oranye keemasan ini bukan sekadar suguhan untuk keluarga dan kerabat, tetapi simbol keberuntungan yang sudah hidup dalam tradisi selama ratusan tahun.
Laporan TIME (2/2/2024) menjelaskan bahwa jeruk menjadi bagian penting Imlek karena makna bahasa, warna, hingga sejarah budaya yang melekat padanya.
Berawal dari makna bunyi dan warna
Dalam budaya Tionghoa, bunyi kata memiliki arti penting, terutama saat perayaan tahun baru. Dalam bahasa Mandarin, pelafalan kata jeruk terdengar mirip dengan kata yang berarti keberuntungan.
Dalam bahasa Kanton, kata jeruk juga terdengar seperti kata “emas”.
South China Morning Post (9/2/2024) menuliskan bahwa jeruk disebut “kam” dalam bahasa Kanton, yang merupakan homofon dari emas.
Selain bunyinya, warna oranye keemasan jeruk dianggap menyerupai emas, sehingga melambangkan kekayaan dan kemakmuran. Karena alasan itulah jeruk dipandang sebagai simbol rezeki dan kesejahteraan.
Memberikan jeruk saat berkunjung ke rumah kerabat berarti menyampaikan doa agar tuan rumah mendapat kebahagiaan dan keberuntungan sepanjang tahun.
Tradisi yang sudah berlangsung lama
Ilustrasi jeruk mandarin Jeruk mandarin saat Imlek bukan sekadar suguhan, melainkan simbol keberuntungan dan kemakmuran yang dipercaya membawa rezeki sepanjang tahun.
Makna jeruk dalam Imlek tidak muncul begitu saja
TIME mencatat bahwa sejak masa Dinasti Qing, orang tua meletakkan buah seperti jeruk di samping bantal anak-anak bersama amplop merah berisi uang. Tradisi tersebut dipercaya dapat melindungi anak dari makhluk mitologi pembawa sial.
Keesokan harinya, buah itu dimakan sebagai simbol keberuntungan dan perlindungan.
Selain itu, jeruk dan kumquat kerap dijadikan persembahan di altar keluarga dan kuil. Beberapa dekade lalu, keluarga di Hong Kong bahkan membeli jeruk impor mahal untuk dipersembahkan kepada leluhur, meski jarang dimakan sendiri.
Ditukar dalam jumlah genap
Hingga kini, kebiasaan bertukar jeruk masih dilakukan di banyak wilayah China selatan dan Asia Tenggara.
Jeruk biasanya diberikan dalam jumlah genap karena angka genap dianggap membawa keberuntungan.
Jeruk yang masih memiliki daun dan tangkai dipercaya memiliki makna tambahan, yakni umur panjang dan kesuburan.
Melansir Monash University Malaysia, kehadiran jeruk di rumah, kantor, dan toko saat Imlek menjadi simbol undangan bagi keberuntungan untuk masuk.
Bagian dari momen kebersamaan
Selain makna simbolik, jeruk juga menjadi bagian dari suasana hangat Imlek. Meski dalam kepercayaan tradisional buah sitrus dianggap bersifat “mendinginkan” tubuh, banyak orang tetap menikmatinya sebagai penyeimbang hidangan Imlek yang berlemak.
Permintaan jeruk menjelang Imlek selalu meningkat sehingga harganya ikut naik, menandakan betapa pentingnya buah ini dalam perayaan.
Pada akhirnya, jeruk saat Imlek bukan hanya soal rasa segar dan manis. Buah ini membawa pesan sederhana tentang harapan, doa, dan kebersamaan.
Memberikan dua buah jeruk saat berkunjung mungkin terlihat sederhana, tetapi di baliknya tersimpan makna panjang tentang keberuntungan, penghormatan, dan harapan akan tahun yang lebih baik.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang