Mengapa Dinamakan Kue Keranjang? Ini Sejarah Kudapan Imlek yang Lahir 2.500 Tahun Lalu

kue keranjang, Imlek, Mengapa Dinamakan Kue Keranjang? Ini Sejarah Kudapan Imlek yang Lahir 2.500 Tahun Lalu

Kue keranjang tak pernah absen dari perayaan tahun baru Imlek.

Kue yang terbuat dari tepung beras ketan ini biasanya hadir penuh warna, dari coklat, merah muda, juga hijau.

Bercita rasa manis legit, kue keranjang yang lengket bisa dimakan begitu saja, atau diolah menjadi beragam sajian menggiurkan seperti digoreng tepung.

Namun, hingga kini, masih banyak orang bertanya-tanya mengapa kudapan khas Imlek ini dinamakan kue keranjang.

Asal-usul nama "keranjang"

Dilansir dari (9/2/2024), nama "keranjang" disematkan pada kue ini lantaran proses pembuatannya dicetak pada wadah berbentuk keranjang.

Untuk membuatnya, adonan kue tradisional ini akan dituang ke dalam keranjang kecil dari anyaman bambu, sehingga bentuk akhirnya menyerupai keranjang.

Karena dicetak di keranjang anyaman, maka permukaannya sering terlihat bertekstur garis anyaman, mengikuti pola cetakannya.

Kue yang identik dengan warna khas coklat ini memiliki sebutan lain, termasuk kue bakul, kue manis, atau dodol China, karena rasanya yang manis dengan tekstur kenyal dan lengket.

Sementara di negeri asalnya, China, istilah untuk kue keranjang adalah nian gao yang bermakna kue lengket.

Namun, nama “nian gao” sulit dilafalkan sebagian masyarakat, sehingga sebutan deskriptif berdasarkan bentuknya, yaitu mirip keranjang, lebih banyak digunakan di Indonesia.

Secara makna budaya, kue ini identik dengan perayaan Imlek dan melambangkan kenaikan rezeki atau kemajuan setiap tahun, karena kata “gao” juga bermakna “tinggi” atau “naik”.

Kue keranjang lahir tahun berapa?

Dilansir dari laman Fakultas Ilmu Budaya Universitas Brawijaya, ada tiga kisah yang menceritakan asal-usul kue ini.

Salah satu yang paling populer yakni, legenda keberadaan kue keranjang sebagai cadangan makanan saat perang.

Menurut cerita, kue keranjang berasal dari daerah Suzhou, dan telah ada sejak sekitar 2.500 tahun silam.

Kala itu, China masih terpecah-pecah menjadi beberapa kerajaan, yang sewaktu-waktu dapat pecah perang.

Suzhou adalah ibu kota Kerajaan Wu, yang dikelilingi oleh benteng kokoh untuk melindungi dari serangan musuh.

Kehadiran benteng sedikit mengusir rasa cemas semua orang di ibu kota akan kemungkinan perang, namun tidak begitu bagi Perdana Menteri Wu Zixu.

"Perang tidak bisa dianggap remeh. Tembok yang kokoh memang melindungi kita. Namun, bila musuh mengepung kerajaan kita, tembok juga menjadi penghalang untuk melarikan diri atau mencari makanan. Apabila kelak sesuatu yang buruk terjadi, ingatlah untuk menggali lubang di bawah tembok itu," ujar Wi Zixu kepada anak buahnya.

Beberapa tahun kemudian, Wu Zixu tewas, dan perkataannya menjadi kenyataan. Banyak orang mati kelaparan karena kehabisan pasokan pangan saat ibu kota dikepung oleh musuh.

Para pengawal kerajaan lantas teringat pesan dari Zixu untuk menggali tanah di bawah tembok benteng.

Mereka terkejut ketika menemukan dinding benteng di bagian bawah dibangun dengan menggunakan bata yang dibuat dari tepung ketan dan gula.

Makanan inilah yang kemudian menyelamatkan banyak nyawa dari kelaparan.

"Bata" itulah yang kemudian disebut-sebut sebagai asal-usul nian gao atau kue keranjang.

Sejak saat itu, orang mulai membuat nian gao setiap tahun untuk memperingati jasa Wu Zixu.

Dari sajian persembahan di upacara adat, lama-kelamaan kue ini menjadi kudapan umum dan lazim disajikan ketika tahun baru.

Makna kue keranjang

Warga Tionghoa percaya, memakan kue keranjang di tahun baru bisa mendatangkan energi positif.

Kue keranjang menjadi simbol atas pendapatan dan jabatan yang lebih tinggi, anak-anak yang tumbuh dengan baik, dan secara umum menjanjikan tahun yang lebih baik dari sebelumnya.

Sehingga mereka meyakini, makan kue keranjang selama perayaan Imlek atau Tahun Baru China dapat mendatangkan banyak keberuntungan dan nasib baik.

Pada awal Dinasti Liao (907-1125), orang-orang di Beijing memiliki kebiasaan memakan kue di hari pertama bulan pertama.

Lalu dalam perkembangannya, seperti pada masa Dinasti Ming (1368-1644) dan Dinasti Qing (1644-1911), kue keranjang mulai menjadi santapan sehari-hari orang-orang di China.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang