Usai Broken Strings Viral, Kak Seto Tegaskan Sikap soal Child Grooming

Kak Seto, child grooming, Aurelie Moeremans, Usai Broken Strings Viral, Kak Seto Tegaskan Sikap soal Child Grooming, Sikap Kak Seto soal child grooming, Suara penyintas dan evaluasi perlindungan anak, Klarifikasi Kak Seto soal aduan lama ke Komnas PA, Broken Strings dan pengalaman yang diungkap Aurelie, Dampak Broken Strings terhadap diskusi publik

Kasus yang diungkap Aurelie Moeremans lewat memoar Broken Strings memicu diskusi luas soal child grooming dan perlindungan anak. 

Menyikapi sorotan itu, Kak Seto menunjukkan sikapnya terhadap praktik manipulasi dan relasi kuasa tidak setara.

Seperti diketahui, orangtua Aurelie pernah mencoba meminta pertolongan Kak Seto saat sang aktris masih berada dalam 

Lantas, bagaimana sikap Kak Seto terkait fenomena child grooming yang kini tengah menjadi sorotan publik?

Sikap Kak Seto soal child grooming

Kak Seto menyampaikan sikap tersebut melalui unggahan Insta Story pada Rabu (14/1/2026). Ia menempatkan child grooming sebagai praktik yang selalu merugikan anak.

"Kami mengecam segala bentuk manipulasi, relasi tidak setara, dan praktik child grooming. Anak tidak pernah berada dalam posisi setara untuk dimintai pertanggungjawaban atas relasi yang dibangun melalui tekanan, bujuk rayu, atau ketimpangan kuasa," tulis Kak Seto, dikutip dari , Kamis (15/1/2026).

Ia menegaskan, relasi yang melibatkan anak dan remaja harus selalu dipahami dalam konteks kerentanan. 

Oleh karena itu, tanggung jawab berada sepenuhnya pada pihak dewasa.

Suara penyintas dan evaluasi perlindungan anak

Kak Seto menilai suara penyintas memiliki peran penting dalam evaluasi sistem. 

Ia menegaskan perlunya memperkuat perlindungan anak pasca pengakuan Aurelie Moeremans.

"Kami memandang suara tersebut sebagai pengingat penting agar sistem perlindungan anak terus diperbaiki, diperkuat, dan semakin berpihak pada kepentingan terbaik anak," ungkapnya. 

Ia mengajak publik menyikapi isu ini dengan empati. Kak Seto meminta diskusi tetap berorientasi pada keselamatan anak.

"Kami mengajak seluruh pihak untuk fokus pada tujuan bersama: menciptakan ruang yang aman bagi anak-anak Indonesia hari ini dan di masa depan," sambung Kak Seto.

Klarifikasi Kak Seto soal aduan lama ke Komnas PA

Isu lain yang kembali muncul adalah aduan lama ke Komnas Perlindungan Anak sekitar 2010. 

Laporan itu disebut diajukan ayah Aurelie saat Komnas PA dipimpin Seto Mulyadi.

Kak Seto meminta publik menyikapi kembali informasi tersebut secara bijak. Ia menegaskan upaya lembaga saat itu berjalan sesuai kapasitas.

"Mohon kepada para sahabat semua, kiranya kita dapat menyikapi kembali pemberitaan terkait kasus tersebut dengan kepala dingin dan hati yang jernih, tanpa memelintir fakta ke arah pemahaman yang keliru," tulis Kak Seto, dikutip dari , Rabu (14/1/2026).

Ia menutup dengan menekankan bahwa isu perlindungan anak di Indonesia masih menjadi pekerjaan rumah bersama. 

"Saat ini, kita masih dihadapkan pada begitu banyak persoalan anak di tanah air. Masih banyak pekerjaan rumah yang membutuhkan perhatian, kepedulian, dan kerja bersama," pungkasnya.

Broken Strings dan pengalaman yang diungkap Aurelie

Memoar Broken Strings: Fragments of a Stolen Youth dirilis Aurelie Moeremans pada akhir 2025. Buku ini menjadi sorotan publik setelah versi bahasa Indonesianya beredar luas dan viral di media sosial.

Dalam buku tersebut, Aurelie Moeremans menuturkan pengalaman pribadinya saat masih remaja, sekitar usia 15 tahun. 

Aktris berusia 32 tahun itu menggambarkan hubungan dengan seorang pria dewasa yang hampir dua kali usianya.

Aurelie menulis bahwa hubungan itu bermula dari perhatian dan kedekatan emosional. Namun, seiring waktu, relasi tersebut berubah menjadi kontrol psikologis, manipulasi, dan tekanan emosional.

Bintang film "Story of Dinda" itu kemudian menyadari pola tersebut sebagai child grooming. 

Dalam pengakuannya, Aurelie menilai relasi itu dibangun melalui ketimpangan kuasa, usia, dan posisi psikologis.

Aurelie menegaskan bahwa Broken Strings tidak ditulis untuk menyerang siapa pun. Ia menyebut buku tersebut sebagai media penyembuhan dan upaya membuka dialog publik.

Dampak Broken Strings terhadap diskusi publik

Sejak dirilis, Broken Strings diakses puluhan ribu kali dalam beberapa minggu. 

Banyak pembaca menyampaikan dukungan, terutama mereka yang memiliki pengalaman serupa dalam relasi manipulatif.

Aurelie juga mengungkap adanya ancaman dan fitnah setelah buku itu terbit. 

Bahkan, intimidasi disebut turut menyasar pihak-pihak yang menyatakan dukungan.

Meski demikian, dukungan publik terus menguat. Buku ini mendorong diskusi lebih luas tentang child grooming, relasi kuasa, dan dampak psikologis jangka panjang.

Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang