Kesaksian Diah Permatasari Lengkapi Kisah Aurelie di Broken Strings

Diah Permatasari, Aurelie Moeremans, Broken Strings, Kesaksian Diah Permatasari Lengkapi Kisah Aurelie di Broken Strings, Ingatan Diah Permatasari saat syuting 2013, Sosok yang selalu menjaga Aurelie di lokasi syuting, Pengakuan yang membuat Diah Permatasari terkejut, Klarifikasi soal gaun pernikahan dalam buku Broken Strings, Respons Diah setelah membaca buku Broken Strings

Buku Broken Strings membawa kembali ingatan Diah Permatasari pada masa syuting bersama Aurelie Moeremans pada 2013. 

Kesaksian Diah muncul setelah publik menyoroti pengakuan Aurelie sebagai korban child grooming yang dituangkan dalam buku tersebut. 

Pernyataan Diah Permatasari menambah kesaksian atas pengalaman Aurelie Moeremans yang dituangkan dalam buku Broken Strings.

Lantas, bagaimana kesaksiaan Diah Permatasari yang melengkapi cerita Aurelie?

Ingatan Diah Permatasari saat syuting 2013

Diah Permatasari mengaku baru mengingat kembali kebersamaannya dengan Aurelie Moeremans setelah membaca buku Broken Strings. 

Ia menyebut sempat lupa detail proyek yang mempertemukannya dengan Aurelie.

"Saya baru inget semua, judulnya aja tadinya saya lupa kalau Aurelie enggak ngepost di IG Story," kata Diah di acara Rumpi Trans TV, dikutip dari , Rabu (21/1/2026).

"Jadi ternyata dulu saya pernah jadi mamanya Aurelie waktu syuting sinetron itu," sambungnya.

Sosok yang selalu menjaga Aurelie di lokasi syuting

Diah mengingat ada satu sosok yang selalu berada di sekitar Aurelie selama proses syuting berlangsung. Ia melihat sosok tersebut hampir setiap hari di lokasi.

"Dia diem aja, mungkin ada yang jaga kan, dia dijagain terus," ujar Diah Permatasari, dikutip dari , Rabu.

"Sambil main gitar yang jaga, yang saya inget cuma itu," lanjutnya.

Karena sering berada dalam satu adegan, Diah kerap melihat sosok yang disebutnya sebagai penjaga tersebut.

"Yang ‘jaga’ itu sempat memperkenalkan diri ke saya, enggak mungkin enggak, karena setiap hari kita syuting," ujar Diah.

"Dan saya intens banget, karena saya cuma syuting sama Aurelie, karena saya sebagai ibunya kan," tambahnya.

Pengakuan yang membuat Diah Permatasari terkejut

Menurut Diah, pria tersebut memperkenalkan diri dan mengungkap status hubungannya dengan Aurelie saat waktu istirahat syuting. 

Pengakuan itu membuat Diah terkejut mengingat usia Aurelie saat itu.

"Waktu itu sih yang cowoknya yang memperkenalkan diri ke saya, seinget saya waktu itu lagi break makan siang, dia memperkenalkan, ‘mbak, kami sudah itu,’" kenang Diah.

"Saya ‘Ooooo’ panjang, karena saya lihat Aurelie masih kecil banget, masih polos banget. Udah gitu syutingnya pakai baju seragam SMA, jadi saya mikirnya masih kecil banget," paparnya. 

Meski demikian, Diah mengaku tidak menggali lebih jauh pengakuan tersebut.

"Saya sempat kaget waktu itu, dari pengakuan si laki-laki tersebut," kata Diah.

"Cuma saya pikir ‘oh oke.’ Saya pikir memang begitu, memang sudah menikah," lanjutnya.

Klarifikasi soal gaun pernikahan dalam buku Broken Strings

Dalam kesempatan lain, Diah juga memberikan klarifikasi terkait gaun pernikahan yang dikenakan Aurelie dalam foto yang muncul di buku Broken Strings

Ia menyebut gaun tersebut merupakan bagian dari adegan sinetron.

"Iya betul, ini adegan ultah," ungkap Diah Permatasari.

"Betul, betul," ucapnya.

Diah menegaskan tidak mengetahui detail lain di balik penggunaan riasan saat itu.

"Aku enggak sampai perhatiin, (kalau ternyata) dia ditutup (riasan), itu sama sekali enggak (perhatiin)," jelasnya.

Respons Diah setelah membaca buku Broken Strings

Setelah membaca sebagian isi buku, Diah mengaku merasakan dampak emosional dari kisah Aurelie.

"Nyesek, nyesek banget loh, belum kelar (baca) itu, baru ujung-ujungnya udah nyesek, karena kita pernah muda, zaman dulu pernah jatuh cinta," ujar Diah Permatasari.

Dalam Broken Strings, Aurelie Moeremans mengungkap pengalaman pahitnya sebagai korban child grooming pada usia 15 tahun. 

Ia menyebut hubungan tersebut tampak penuh perhatian, tetapi sarat manipulasi dan kontrol psikologis.

Aurelie menegaskan bahwa penulisan buku ini bertujuan meningkatkan kesadaran publik tentang bahaya child grooming, bukan untuk menjadikan pengalaman pribadinya sebagai konsumsi sensasional.

Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang