Apa Itu Aritmia yang Dialami Kak Seto? Kenali Gejala dan Bahayanya untuk Kesehatan Jantung!
Kabar kurang menyenangkan datang dari psikolog anak terkenal, Seto Mulyadi atau yang akrab disapa Kak Seto. Pria berusia 74 tahun ini dikabarkan tengah menjalani perawatan intensif di rumah sakit setelah didiagnosis mengalami stroke ringan yang menyerang fungsi kognitifnya.
Meski begitu, kondisi jantungnya masih tergolong sehat, meskipun dokter juga menemukan bahwa Kak Seto mengalami aritmia, yaitu gangguan pada irama detak jantung. Scroll untuk info lebih lanjut...
Dalam unggahan di akun Instagram pribadinya, @kaksetosahabatanak, ia menceritakan bahwa dirinya mulai merasakan gejala tidak biasa sekitar sepekan sebelum masuk rumah sakit. “Seminggu yang lalu saya merasakan gejala yang tidak seperti biasanya, yaitu pusing di bagian kepala dan seperti linglung (20/10),” tulisnya, dikutip Selasa, 28 Oktober 2025.
Namun, seperti kebanyakan orang, ia sempat mengabaikan tanda-tanda tersebut dan tetap menjalani aktivitas rutin sebelum akhirnya memutuskan untuk beristirahat. “Meski sudah tidur dan beristirahat, sampai hari Kamis (23/10) (gejala pusing) tak kunjung mereda juga,” sambungnya.
Akhirnya, pada Jumat (24/10), ia dibawa ke unit gawat darurat (UGD) untuk menjalani serangkaian pemeriksaan, mulai dari MRI (Magnetic Resonance Imaging), EKG (Elektrokardiogram), hingga cek darah menyeluruh. Hasilnya menunjukkan bahwa Kak Seto mengalami stroke ringan (mild stroke) yang memengaruhi fungsi kognitif, bukan motorik.
“Ternyata saya terdiagnosa ‘Mild Stroke’ (Stroke Ringan) yang menyerang fungsi kognitif, bukan motorik. Saya juga mengalami Aritmia, yaitu kondisi di mana detak jantung tidak beraturan,” ungkap Kak Seto.
Meski begitu, Kak Seto tetap bersyukur karena jantungnya masih berfungsi baik. “Syukurnya, karena menjalani pola hidup sehat maka stroke ini disebabkan oleh faktor kekentalan darah belaka, di mana kondisi jantung tetap dalam keadaan sehat,” ujarnya.
Dokter pun menyarankan agar Kak Seto beristirahat total di rumah sakit untuk memulihkan kondisi tubuhnya. Dalam pesannya, ia mengingatkan masyarakat agar selalu menjaga pola hidup sehat dan tidak menyepelekan gejala ringan yang mungkin menandakan masalah kesehatan serius.
Apa Itu Aritmia?
Ilustrasi serangan jantung
Melansir dari Mayo Clinic, Rabu, 29 Oktober 2025, aritmia atau gangguan irama jantung adalah kondisi di mana detak jantung berdetak tidak teratur, bisa terlalu cepat, terlalu lambat, atau tidak konsisten. Secara medis, aritmia terjadi ketika sinyal listrik yang mengatur detak jantung tidak berfungsi dengan baik, sehingga menyebabkan irama jantung menjadi kacau.
Kondisi ini bisa menimbulkan sensasi berdebar, berdetak cepat, atau bahkan berdebar tidak beraturan di dada. Sebagian besar kasus aritmia bersifat ringan dan tidak berbahaya.
Namun, pada beberapa orang, aritmia dapat menyebabkan gangguan serius pada sirkulasi darah, hingga berisiko memicu stroke atau serangan jantung mendadak. Ada kalanya detak jantung cepat atau lambat bisa dianggap normal, misalnya saat berolahraga atau tidur, tetapi jika terjadi tanpa sebab yang jelas, hal ini perlu diwaspadai.
Gejala Aritmia
Beberapa gejala umum aritmia antara lain:
- Jantung berdebar cepat atau lambat.
- Rasa bergetar atau berdetak kuat di dada.
- Sesak napas atau nyeri dada.
- Pusing, lemas, atau hampir pingsan.
- Keringat dingin dan rasa cemas berlebihan.
Pada beberapa orang, aritmia tidak menimbulkan gejala apa pun dan baru diketahui saat melakukan pemeriksaan rutin, seperti EKG. Karena itu, penting untuk tidak menunda pemeriksaan jika muncul keluhan seperti jantung berdebar tidak teratur atau rasa nyeri dada yang tiba-tiba.
Kapan Harus ke Dokter?
Segera temui dokter jika Anda merasa detak jantung Anda terlalu cepat, terlalu lambat, atau terasa seperti melompat-lompat. Dokter spesialis jantung (kardiolog) dapat melakukan pemeriksaan lanjutan untuk memastikan penyebabnya.
Jika Anda mengalami nyeri dada, sesak napas, atau pingsan, segera cari pertolongan medis darurat. Salah satu bentuk aritmia yang paling berbahaya adalah ventricular fibrillation, yang dapat menyebabkan tekanan darah turun drastis dan henti jantung mendadak.
Kondisi ini merupakan penyebab utama kematian jantung mendadak (sudden cardiac death) dan membutuhkan penanganan segera.
Menjaga kesehatan jantung bisa dilakukan dengan pola makan seimbang, olahraga teratur, istirahat cukup, serta menghindari stres berlebih dan konsumsi rokok atau alkohol. Seperti yang dialami Kak Seto, gaya hidup sehat terbukti membantu meminimalkan risiko komplikasi meski sempat mengalami aritmia dan stroke ringan.
Mengenali gejala aritmia sejak dini dan menjaga pola hidup sehat adalah langkah penting untuk menjaga detak jantung tetap stabil dan tubuh tetap bugar hingga usia lanjut.