Top 5+ Alasan Kak Seto Dihujat karena Gagal Selamatkan Aurelie Moeremans dari 'Bobby'
Nama Seto Mulyadi atau yang lebih dikenal sebagai Kak Seto kembali menjadi perbincangan hangat di media sosial. Sosok pemerhati anak tersebut menuai kritik tajam dari netizen menyusul terbitnya buku memoar Broken Strings karya aktris Aurelie Moeremans pada awal 2026.
Buku tersebut mengungkap kembali pengalaman pahit Aurelie di masa remajanya, yang diduga berkaitan dengan praktik grooming oleh pria dewasa bernama “Bobby” yang merupakan karakter dalam bukunya. Scroll lebih lanjut yuk!
Publik pun menyoroti kembali peran lembaga perlindungan anak pada masa itu, termasuk posisi Kak Seto sebagai figur sentral dalam isu perlindungan anak.
Berikut sejumlah alasan yang membuat Kak Seto akhirnya menjadi sasaran hujatan netizen.
Laporan Keluarga Dianggap Tidak Ditindaklanjuti Maksimal
Kasus ini berakar dari peristiwa lebih dari satu dekade lalu, tepatnya sekitar 2009–2010. Saat itu, Aurelie yang masih berusia sekitar 15 tahun diduga terlibat dalam hubungan tidak sehat dengan pria dewasa bernama Bobby.
Merasa khawatir, orang tua Aurelie, Jean Marc Moeremans dan Sri Sumarti, mendatangi Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA) yang kala itu berada dalam lingkup pembinaan Kak Seto. Namun, arsip pemberitaan lama menunjukkan adanya kekecewaan dari pihak keluarga karena laporan tersebut dinilai tidak menghasilkan langkah perlindungan yang tegas.
Mediasi Dinilai Tidak Memberikan Solusi Jelas
Berdasarkan pemberitaan lama yang kembali viral, Komnas PA sempat mencoba memfasilitasi pertemuan antara keluarga Aurelie dan pihak pria dewasa tersebut.
Sayangnya, proses mediasi berjalan alot dan tidak membuahkan keputusan konkret. Situasi ini memicu anggapan publik bahwa lembaga perlindungan anak gagal memberikan pendampingan efektif bagi korban.
Kondisi Psikologis Korban Kurang Dipahami
Salah satu faktor yang kini terungkap dalam Broken Strings adalah kondisi psikologis Aurelie yang masih membela pelaku. Dalam bukunya, Aurelie mengaku sempat berbohong kepada petugas karena mendapat ancaman serius, mulai dari ancaman kekerasan hingga penyebaran foto pribadi.
Pengakuan ini membuat publik memahami mengapa kasus tersebut dulu terkesan buntu, meski tetap menyisakan pertanyaan tentang sejauh mana upaya perlindungan yang diberikan.
Kesan Tidak Proaktif dan Tuduhan Pilih Kasus
Di media sosial, sebagian netizen menuding Kak Seto tidak cukup proaktif dalam menangani laporan tersebut. Bahkan, muncul sindiran bahwa Kak Seto hanya bergerak cepat jika korban berasal dari kalangan tertentu. Tuduhan ini semakin memperkeruh persepsi publik terhadap perannya di masa lalu.
Viral Kembali Seiring Popularitas Buku
Situasi memanas setelah Broken Strings menjadi perbincangan luas. Kisah personal Aurelie memicu empati publik sekaligus kemarahan terhadap pihak-pihak yang dianggap lalai melindungi korban anak di bawah umur.
Menanggapi kritik tersebut, Kak Seto memberikan klarifikasi melalui Instagram Story pada 13 Januari 2026. Ia meminta publik menyikapi kembali kasus lama itu dengan bijak.
"Mohon kiranya kita dapat menyikapi kembali pemberitaan terkait kasus tersebut dengan kepala dingin dan hati yang jernih, tanpa memelintir fakta ke arah pemahaman yang keliru,” tulis Kak Seto.
Ketua Lembaga Perlindungan Anak Indonesia (LPAI) itu menegaskan bahwa pada masa kejadian, pihaknya telah bekerja sesuai kapasitas dan tanggung jawab yang dimiliki. Ia juga mengingatkan agar kisah dalam Broken Strings tidak dijadikan ajang saling menyerang, melainkan sebagai ruang refleksi dan empati. Kak Seto pun berharap semua pihak dapat berdamai dengan masa lalu dan melangkah ke depan dengan lebih baik.