Peneliti Ungkap Usia 32 Tahun Masih Dianggap Remaja, Kok Bisa?
Masih berpikir masa usia remaja hanya sampai 17 tahun? Sepertinya kamu harus menganulir pemikiran itu. Sebab dalam sebuah studi terbaru menemukan masa remaja ternyata bisa berlangsung hingga usia 32 tahun. Hal ini seiring dengan temuan bahwa manusia mengalami empat titik balik utama dalam perkembangan otak, masing-masing pada usia sekitar sembilan, 32, 66, dan 83 tahun.
Penelitian yang dipublikasikan pada akhir November lalu di jurnal Nature Communications ini menganalisis hampir 4.000 hasil pemindaian otak dari para partisipan dengan rentang usia hingga 90 tahun. Berdasarkan data tersebut, para peneliti memetakan perkembangan otak manusia dan menemukan bahwa manusia melewati lima “fase otak”. Di dalam fase-fase itu terdapat empat titik balik penting yang terjadi seiring proses tumbuh, matang, hingga menua.
Menarik, hasil studi ini menunjukkan bahwa kepribadian dan kecerdasan manusia baru benar-benar mencapai titik stabil atau plateau pada usia 32 tahun, setelah mengalami berbagai perubahan sejak masa remaja awal.
Menurut penelitian ini, perkembangan dan penuaan otak terbagi ke dalam lima fase berbeda, yaitu:
- Masa kanak-kanak: sejak lahir hingga usia 9 tahun
- Masa remaja: usia 9 hingga 32 tahun
- Masa dewasa: usia 32 hingga 66 tahun
- Penuaan awal: usia 66 hingga 83 tahun
- Penuaan lanjut: usia 83 tahun ke atas
Kapan otak berpindah dari satu fase ke fase berikutnya?
Seiring otak beradaptasi dengan lingkungan dan situasi baru sejak lahir hingga usia lanjut, para peneliti menemukan bahwa usia 9, 32, 66, dan 83 tahun merupakan momen paling krusial dalam perkembangan otak.
Peralihan ini ditandai oleh berbagai proses penting, seperti pubertas, stabilisasi kepribadian, ’penataan ulang’ jaringan otak, hingga penurunan fungsi. Berikut ini penjelasan lengkapnya tiap masing-masing fase seperti dilansir dari laman Al Jazeera, Senin 29 Desember 2025.
Masa kanak-kanak: lahir hingga 9 tahun
Pada periode ini, materi abu-abu dan materi putih di otak berkembang dengan sangat pesat.
Menurut Johns Hopkins Medicine di Amerika Serikat, materi abu-abu berfungsi utama untuk memproses dan menafsirkan informasi, sedangkan materi putih bertugas mengirimkan informasi tersebut ke bagian lain dari sistem saraf.
“Di otak, materi abu-abu merujuk pada bagian luar yang lebih gelap, sementara materi putih adalah bagian dalam yang lebih terang di bawahnya. Namun, pada sumsum tulang belakang, susunannya terbalik, yakni materi putih berada di luar, sedangkan materi abu-abu di bagian dalam,” jelas Johns Hopkins.
Penulis studi ini menjelaskan bahwa tahun-tahun awal kehidupan ditandai dengan penguatan dan pengurangan sinapsis yaitu titik pertemuan tempat sel saraf saling berkomunikasi serta peningkatan volume materi abu-abu dan putih yang sangat cepat.
Usia ini juga bertepatan dengan awal pubertas, yang umumnya dimulai pada usia 8–13 tahun pada perempuan dan 9–14 tahun pada laki-laki. Masa ini menandai dimulainya perubahan hormon yang signifikan dan perubahan neurologis yang kuat.
Laporan tersebut juga mencatat bahwa peralihan menuju masa remaja disertai dengan peningkatan risiko gangguan kesehatan mental, kognitif, dan perilaku. Hal ini berkaitan dengan perubahan hormon dan adanya “pergeseran neurobiologis”.
Masa remaja: Usia 9 hingga 32 tahun
Sebelumnya, masa remaja umumnya dipahami dimulai sejak pubertas dan berakhir sebelum usia 20 tahun. Namun, studi ini menemukan bahwa meskipun remaja memang dimulai dengan pubertas, batas akhirnya tidak sesederhana itu.
Para peneliti menyebutkan bahwa transisi menuju dewasa dipengaruhi oleh faktor budaya, sejarah, dan sosial. Artinya, proses ini sangat bergantung pada konteks, bukan semata-mata perubahan biologis.
Temuan mereka menunjukkan bahwa di negara-negara Barat, seperti Inggris dan Amerika Serikat, perkembangan jaringan otak khas remaja berlangsung hingga sekitar usia 32 tahun. Setelah itu, jaringan otak mulai memasuki arah perkembangan yang baru.
Pada usia 32 tahun, otak mengalami perubahan arah yang paling signifikan dibandingkan titik balik lainnya. Hal ini terjadi karena integritas dan volume materi putih di otak meningkat dengan cepat pada fase ini.
Para penulis tidak menjelaskan secara rinci mengapa pola ini tampak jelas di negara-negara Barat, maupun bagaimana kelanjutan masa remaja pada masyarakat di wilayah dunia lain.
Masa dewasa: Usia 32 hingga 66 tahun
Studi ini menemukan bahwa meskipun perkembangan otak berlangsung sangat cepat pada dua fase awal kehidupan, pada masa dewasa yang merupakan fase terpanjang perkembangannya melambat. Tidak ada titik balik besar hingga memasuki usia 60-an.
Periode ini juga bertepatan dengan stabilnya jaringan otak, serta kondisi di mana kecerdasan dan kepribadian cenderung berada pada titik yang relatif konstan.
Penuaan awal: Usia 66 hingga 83 tahun
Pada fase ini, otak tidak langsung menunjukkan penurunan drastis. Namun, terjadi perubahan pada pola koneksi antarbagiannya akibat menurunnya integritas materi putih.
Akibatnya, berbagai wilayah otak bekerja lebih mandiri dan tidak lagi terkoordinasi seutuh sebelumnya.
Usia awal 60-an juga menjadi masa penting terkait kesehatan dan fungsi kognitif. Banyak orang mulai mengalami demensia atau tekanan darah tinggi, yang keduanya dapat mempercepat proses penuaan otak.
Penuaan lanjut: Usia 83 tahun ke atas
Data mengenai fase ini memang lebih terbatas karena jumlah sampel yang lebih sedikit. Meski begitu, temuan studi ini menunjukkan adanya tren penurunan konektivitas otak.
Menurut para peneliti, hal ini kemungkinan mencerminkan melemahnya hubungan antara usia dan struktur jaringan otak pada tahap akhir kehidupan.