Top 20+ Tahun Terkurung di Kandang Besi karena Dianggap Sakti, Mbah Kirno Akhirnya Dibebaskan

Mbah Kirno, Ponorogo, dikurung, 20 Tahun Terkurung di Kandang Besi karena Dianggap Sakti, Mbah Kirno Akhirnya Dibebaskan, 5 Fakta Pembebasan Mbah Kirno di Ponorogo, Alasan Keluarga: Takut Keamanan Terancam, Penjelasan Medis vs Stigma Sosial, Koordinasi Dinas Sosial Ponorogo

Pintu kandang besi berukuran 0,5 x 1 x 2 meter itu akhirnya terbuka pada Kamis (29/1/2026).

Di dalamnya, Mbah Kirno (60), warga Dusun Gombak, Desa Temon, Kecamatan Sawoo, Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur, telah menghabiskan waktu selama 20 tahun dalam kondisi terpasung.

Mbah Kirno bukanlah seorang pelaku kriminal. Ia dikurung oleh keluarganya sendiri karena dianggap memiliki "ilmu sakti" yang membahayakan lingkungan sekitar.

Pembebasan ini dilakukan oleh Ipda Purnomo, anggota Polres Lamongan yang dikenal aktif menangani Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ), didampingi Kapolsek Sawoo AKP Tutut Aryanto dan Kasat Binmas Ponorogo AKP Agus Syaiful Bahri.

5 Fakta Pembebasan Mbah Kirno di Ponorogo

Berdasarkan penelusuran lapangan, berikut adalah fakta-fakta terkait pembebasan Mbah Kirno:

1. Dua Dekade dalam Kurungan

Mbah Kirno telah dikurung selama kurang lebih 20 tahun di sebuah ruangan di belakang rumahnya tanpa menyentuh tanah.

2. Stigma "Ilmu Sakti"

Keluarga mengurung Mbah Kirno karena meyakini ia memiliki kesaktian tingkat tinggi yang membuatnya agresif, seperti kebal api hingga mengonsumsi benda tajam.

3. Evakuasi yang Alot

Proses pembebasan sempat terkendala penolakan keluarga dan kunci gembok kandang yang hilang, sehingga warga harus menggunakan alat las.

4. Layanan Kesehatan Terhambat

Selama 20 tahun, Mbah Kirno belum pernah melakukan perekaman KTP elektronik, sehingga akses BPJS Kesehatan sulit didapat.

5. Dibawa ke Lamongan

Setelah dibersihkan dan dimandikan, Mbah Kirno dibawa oleh Ipda Purnomo ke Lamongan untuk menjalani perawatan intensif.

Alasan Keluarga: Takut Keamanan Terancam

Mbah Kirno, Ponorogo, dikurung, 20 Tahun Terkurung di Kandang Besi karena Dianggap Sakti, Mbah Kirno Akhirnya Dibebaskan, 5 Fakta Pembebasan Mbah Kirno di Ponorogo, Alasan Keluarga: Takut Keamanan Terancam, Penjelasan Medis vs Stigma Sosial, Koordinasi Dinas Sosial Ponorogo

Mbah Kirno dimandikan oleh warga setelah dibebaskan dari kerangkeng yang selama ini membelenggunya. Keluarga menempatkan Mbah Kirno di kerangkeng besi karena khawatir dengan ancaman akan membunuh merka. Keluarga juga khawatir dianiaya Mbah Kirno karena memiliki kesaktian dari belajar ilmu kebatinan yang dia pelajari sehingga mengalami gangguan kejiwaan.

Pihak keluarga, yang diwakili oleh Sarti (adik kandung Mbah Kirno), mengaku tindakan pengurungan ini terpaksa dilakukan demi keselamatan. Sarti menceritakan bahwa di masa lalu, Mbah Kirno pernah mengancam akan membunuh dan menganiaya anggota keluarga.

“Saya cuma minta jaminan, jika Mbah Kirno dibebaskan keluarga saya aman. Beberapa tahun lalu pernah saya bawa ke orang pintar. Tapi nyatanya dia sudah balik terlebih dahulu,” ungkap Sarti kepada Ipda Purnomo di lokasi, Kamis (29/1/2026).

Sarti menambahkan bahwa kesaktian kakaknya seringkali di luar nalar manusia biasa.

"Sering makan besi, makan bambu itu pakai gigi. Minum oli 1 liter, makan api juga enggak apa-apa. Saya tahu sendiri itu bukan bohong," tambah Sarti.

Penjelasan Medis vs Stigma Sosial

Ipda Purnomo memberikan pandangan berbeda. Menurutnya, kondisi Mbah Kirno adalah murni gangguan jiwa (ODGJ) yang diperparah oleh kurangnya edukasi masyarakat mengenai kesehatan mental.

“Kalau kami berbicara secara medis, Pak Kirno mengalami gangguan kejiwaan. Mungkin karena pengetahuan atau SDM, Pak Kirno dianggap kebal. Tidak boleh menyentuh tanah,” kata Ipda Purnomo.

Ia juga menegaskan pentingnya memperlakukan ODGJ secara manusiawi.

"Saya mohon doanya, mudah-mudahan Pak Kirno bisa kami bawa, kami rawat, insya Allah, pulih sehat kembali," tegasnya.

Koordinasi Dinas Sosial Ponorogo

Kasus ini baru diketahui setelah unggahan media sosial Ipda Purnomo viral. Dinas Sosial Kabupaten Ponorogo melalui Kepala Bidang Rehabilitasi Sosial, Yusril Susiati, mengakui tidak ada laporan dari pemerintah desa setempat terkait kondisi Mbah Kirno.

“Tidak ada laporan dari desa. Kami tahunya dari Dinas Sosial Provinsi yang mendapatkan informasi dari unggahan Instagram Pak Purnomo,” ujar Yusril, Jumat (30/1/2026).

Pihak Dinsos kini tengah berupaya melakukan perekaman KTP elektronik di Lamongan agar Mbah Kirno bisa didaftarkan ke bantuan kesehatan masyarakat miskin dan layanan BPJS.

Momen haru mewarnai keberangkatan Mbah Kirno menuju Lamongan. Wahyudi, anak kandung Mbah Kirno, tampak memeluk erat ayahnya.

"Gek ndang mari Bapak (cepat sembuh Bapak)," ucapnya lirih.

Sebagian Artikel Telah Tayang di Kompas. com dengan Judul  dan TribunJatim.com dengan judul Ipda Purnomo Bebaskan Mbah Kirno dari Kandang Besi Selama 20 Tahun: Gangguan Jiwa Bukan Sakti

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang