Kisah Damkar yang Menembus Asap Selamatkan Lansia di Kebakaran Panti Wreda Damai Manado
Kebakaran hebat yang melanda Panti Wreda Damai di Kelurahan Ranomuut, Kecamatan Paal Dua, Manado, Sulawesi Utara, pada Minggu malam (28/12/2025), tidak hanya menyisakan puing bangunan dan duka mendalam, tetapi juga kisah heroik relawan pemadam kebakaran dan warga yang berpacu dengan waktu demi menyelamatkan para lansia.
Tragedi ini merenggut nyawa 16 penghuni panti, sementara 16 orang lainnya berhasil dievakuasi dan kini menjalani perawatan medis.
Di tengah kobaran api dan asap tebal yang menyelimuti bangunan panti, relawan pemadam kebakaran bernama Reki menjadi salah satu saksi sekaligus pelaku langsung proses evakuasi yang berlangsung dramatis.
Bersama sejumlah warga, ia menembus asap pekat demi menyelamatkan penghuni panti yang sebagian besar sudah lanjut usia dan tidak berdaya.
Bagaimana detik-detik relawan menembus asap dan api?
Reki mengisahkan, situasi di dalam panti saat itu sangat mencekam. Api dengan cepat membesar dari bagian belakang bangunan, sementara asap hitam tebal memenuhi hampir seluruh ruangan. Dalam kondisi tersebut, Reki berlari berpacu dengan waktu.
“Kami angkat satu per satu, ada yang sudah di kursi roda, kami naikkan ke pagar,” ujar Reki dengan suara bergetar.
Ia menyebut, setidaknya tujuh penghuni berhasil ia evakuasi bersama warga. Proses evakuasi dilakukan secara manual, dengan mengangkat tubuh para lansia yang sebagian sudah tidak mampu berjalan. Tangisan, teriakan minta tolong, dan kepanikan menyatu di tengah kobaran api.
Namun, perjuangan itu tidak selalu berakhir bahagia. Beberapa penghuni yang sempat dikeluarkan dari dalam bangunan akhirnya meninggal dunia akibat terlalu lama menghirup asap.
“Seorang opa berhasil kami selamatkan, tapi akhirnya meninggal karena terpapar banyak asap,” kata Reki.
Apa kisah paling memilukan yang dialami relawan?
Salah satu peristiwa yang paling membekas bagi Reki adalah cerita seorang oma yang sempat berbicara kepadanya saat proses evakuasi.
“Oma itu katakan ia akan bersama keluarganya pada tanggal 5, tapi ia meninggal dunia. Itu yang saya sesali,” ucapnya.
Reki mengaku mengalami guncangan hebat setelah peristiwa tersebut. Di sela-sela proses evakuasi, air matanya menetes melihat satu per satu penghuni panti tak mampu menyelamatkan diri.
Kapolresta Manado Kombes Pol Irham Halid mengatakan, hingga kini pihak kepolisian masih melakukan olah tempat kejadian perkara untuk memastikan penyebab kebakaran.
“Kami masih melakukan olah TKP,” kata Irham.
Sementara itu, Sekretaris Daerah Kota Manado, Steven Dandel, menyampaikan bahwa sebanyak 16 jenazah ditemukan di lokasi kejadian. Seluruh jenazah kemudian dibawa ke RS Bhayangkara Manado untuk keperluan identifikasi.
“Sebanyak 16 jenazah ditemukan di TKP dan saat ini dibawa ke RS Bhayangkara untuk proses identifikasi,” ujarnya.
Bagaimana suasana lokasi pascakebakaran?
Warga sekitar mengungkapkan, api datang sangat cepat dari bagian belakang panti. Proses evakuasi berlangsung dramatis, dengan warga memecahkan kaca untuk menyelamatkan penghuni.
Namun, sejumlah penghuni yang berada di dalam kamar tidak dapat diselamatkan karena api sudah terlanjur membesar dan menghalangi akses masuk.
Terinformasi, total penghuni Panti Wreda Damai Ranomuut berjumlah 35 orang. Dari jumlah tersebut 16 penghuni meninggal dunia dan 16 penghuni berhasil dievakuasi dan dirawat di RSUD Manado
Sementara itu, 16 korban selamat yang berhasil diidentifikasi antara lain:
- Olfa Sumual (76 tahun), Ketua/Pengurus Panti Werda
- Rike Kaligis (73 tahun)
- Meiske Merke (60 tahun)
- Christian Yusuf (52 tahun)
- Petrus Fredy (83 tahun)
- Stien Walelenh (80 tahun)
- Chia Chin Hin (92 tahun)
- Olin Kopalit (61 tahun)
- Joppy Wahani (70 tahun)
- Paulus Kaonang (70 tahun)
- Jetty Kandou (86 tahun)
- Stien Gerungan (70 tahun)
- Yutindam (70 tahun)
- Kean She Poe (68 tahun)
- Rolin Rumeen (64 tahun)
- Lao Kim Hoa (73 tahun).
Sebagian artikel ini telah tayang di TribunManado.co.id dengan judul Detik-detik Dramatis Damkar Selamatkan Lansia Kebakaran Panti Werda Manado: “Kami Naikkan ke Pagar".
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang