AI Bikin Data Center Menjamur, Gaji Tukang dan Teknisi Bisa Tembus Rp1,5 Miliar

Data center.
Data center.

Perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) mulai mengubah pasar tenaga kerja global. Di tengah kekhawatiran AI menggantikan pekerjaan kantoran, pembangunan data center justru membuka banyak peluang kerja baru untuk pekerja teknis dan sektor blue-collar.

Laporan terbaru menyebut, lonjakan pembangunan data center AI di Amerika Serikat mendorong kebutuhan besar terhadap pekerja konstruksi, teknisi data center, teknisi listrik, spesialis pendingin ruangan (HVAC), hingga tenaga pemeliharaan fasilitas.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Perusahaan teknologi saat ini terus menggelontorkan dana besar untuk membangun pusat data baru demi mendukung kebutuhan komputasi AI yang terus meningkat. McKinsey memperkirakan investasi pembangunan data center di Amerika Serikat dapat mencapai US$7 triliun atau setara Rp124.600 triliun hingga 2030.

Saat ini terdapat sekitar 4.000 data center aktif di Amerika Serikat. Selain itu, sekitar 3.000 fasilitas baru telah diumumkan atau sedang dalam tahap pembangunan menurut Apollo Global Management.

Meski AI mulai memangkas sejumlah pekerjaan white-collar, pembangunan pusat data justru menciptakan peluang kerja baru dalam jumlah besar, terutama di sektor konstruksi. Namun, para ahli menilai sebagian besar pekerjaan tersebut bersifat sementara karena fokus utamanya berada pada fase pembangunan fasilitas.

“Mereka sebenarnya dihuni oleh sangat sedikit pekerja,” kata CEO Revelio Labs Ben Zweig terkait operasional data center, sebagaimana dikutip dari CBS News, Jumat, 29 Mei 2026.

Kepala ekonom Revelio Labs Lisa Simon juga mengatakan jumlah tenaga kerja permanen di data center relatif terbatas. “Peran jangka panjang yang diciptakan data center sebenarnya tidak terlalu besar volumenya,” ujarnya.

“Mereka adalah proyek yang jauh lebih padat modal dibanding padat karya.”

Meski begitu, dampak ekonomi dari pembangunan data center tetap dianggap besar bagi daerah sekitar proyek. Ahli tenaga kerja dari Brookings Institution, Greg Wright, mengatakan pembangunan fasilitas tersebut dapat menggerakkan ekonomi lokal karena banyak pekerja konstruksi membutuhkan hotel, makanan, dan layanan lainnya selama proyek berlangsung.

“Ketika perusahaan konstruksi mendatangkan pekerja untuk membangun fasilitas ini, mereka perlu menginap di hotel dan makan. Jadi pembangunan data center bisa menciptakan dampak pekerjaan bagi ekonomi lokal,” kata Wright.

Menurut laporan American Edge Project pada 2025, pembangunan data center di Amerika Serikat diperkirakan menghasilkan sekitar 4,7 juta pekerjaan konstruksi sementara. Selain itu, sekitar 697 ribu pekerjaan permanen diproyeksikan tercipta untuk mengoperasikan dan mengelola fasilitas tersebut.

Salah satu profesi yang paling dibutuhkan adalah teknisi data center. Pekerjaan ini bertugas memasang, memantau, dan merawat ribuan server komputer yang berada di pusat data.

Teknisi data center juga bertanggung jawab menangani kerusakan perangkat, memastikan sistem berjalan stabil, serta menjaga operasional fasilitas selama 24 jam penuh. “Setiap data center AI membutuhkan orang-orang yang mampu memantau, memperbaiki, dan menjalankan fasilitas tersebut secara terus-menerus,” kata insinyur serat optik sekaligus pendiri platform pelatihan tenaga kerja Umudl, Parminder K. Jassal.

Ia menjelaskan pekerjaan teknisi data center fokus menjaga infrastruktur fisik di balik sistem AI tetap berjalan. “Peran ini secara khusus fokus menjaga infrastruktur fisik di balik seluruh sistem komputasi dan AI tetap beroperasi,” ujarnya.

Menurut situs lowongan kerja Glassdoor, teknisi data center di Amerika Serikat memiliki median gaji sekitar US$88 ribu per tahun atau setara Rp1,56 miliar. Sejumlah perusahaan besar seperti Microsoft, IBM, Amazon, dan Google saat ini disebut aktif membuka lowongan untuk posisi tersebut.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Di sisi lain, pembangunan data center AI juga mulai memunculkan penolakan dari sebagian masyarakat. Beberapa pihak menilai fasilitas tersebut membebani jaringan listrik lokal dan meningkatkan konsumsi energi dalam jumlah besar. Selain itu, muncul pula kekhawatiran soal dampak lingkungan dan kebisingan.

Kritik juga diarahkan pada pemberian insentif pajak besar-besaran oleh pemerintah daerah untuk menarik investasi data center. Meski demikian, tren pembangunan pusat data diperkirakan masih akan terus meningkat dalam beberapa tahun mendatang seiring persaingan teknologi AI global yang semakin agresif.