Bitcoin Ngacir Lebih dari 5 Persen, Efek AS Gulingkan Maduro Harga Tembus Rp1,5 Miliar
Harga Bitcoin dan aset kripto lainnya melonjak tajam di tengah eskalasi ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat (AS) dan Venezuela. Analis menyebut penggulingan Presiden Venezuela, Nicolas Maduro, merupakan katalis tidak langsung terhadap bullish aset emas digital ini.
Dikutip dari Investor's Bussiness Daily pada Selasa, 6 Januari 2024, Bitcoin menguat lebih dari 5 persen melampaui US$94.000 atau Rp 1,57 miliar (estimasi kurs Rp 16.740 per dolar AS) pada Senin, 5 Januari 2025. Lonjakan ini melanjutkan reli pada akhir pekan.
Sebelumnya, harga Bitcoin sempat berada di bawah US$90.000 sebelum kabar penangkapan Maduro mencuat. Dalam enam hari di tahun 2026 ini, Bitcoin tercatat sudah menguat sekitar 7 persen setelah terkoreksi 6 persen sepanjang 2025.
Kenaikan juga terjadi pada Ethereum ke kisaran US$3.240, dari level sekitar US$3.000 pada Jumat lalu. Sepanjang tahun berjalan 2026, harga Ethereum membukukan lompatan harga hampir 8 persen, berbalik arah setelah anjlok sekitar 11 persen pada tahun 2025.
Bitcoin, Etherium, dan aset kripto.
Lonjakan harga kripto terkerek pernyataan Presiden Donald Trump mengumumkan AS akan mengelola minyak di Venezuela setelah pemimpin negara kaya minyak ini dingkap otoritas negara Paman Sam atas tuduhan narkoba dan senjata. Trump menambahkan, perusahaan minyak AS akan mulai berinvestasi di infrastruktur energi Venezuela.
Saham-saham yang terkait dengan kripto ikut kinclong. Saham Coinbase Global (COIN) dan Strategy (MSTR), masing-masing naik setidaknya 4 persen.
Saham-saham di industri minyak juga melonjak. Faktor pendorongnya adalah harapan perusahaan energi AS akan mendapat manfaat dari kebangkitan industri minyak Venezuela.
Analis Bitunix (bursa derivatif kripto), Dean Chen, menyampaikan penangkapan Maduro merupakan faktor pendorong tidak langsung terhadap rebound Bitcoin.
Di samping itu, tekanan yang meningkat tanpa konflik militer langsung antara AS dan Venezuela mendukung harga Bitcoin karena memperkuat daya tariknya sebagai aset lindung nilai (safe haven) di tengah ketidakpastian geopolitik.
"Penggulingan Maduro bukanlah katalis bullish langsung untuk Bitcoin, tetapi mungkin merupakan katalis tidak langsung," ujar Chen dikutip dari Investopedia pada Selasa, 6 Januari 2026.
Chen menyoroti pemblokiran akses ekspor minyak oleh AS dapat memengatuhi devisa negara mengingat Venezuela sangat bergantung terhadap hasil bumi ini. Secara historis, kata Chen, setiap sanksi yang diperketat selalu disertai dengan meningkatnya permintaan terhadap Bitcoin di wilayah yang terkena dampak.