Dampak Diskriminasi, Pasien HIV Kerap Terjebak dalam Self-Stigma

Ilustrasi HIV/AIDS.
Ilustrasi HIV/AIDS.

 Kasus HIV masih menjadi salah satu masalah kesehatan di Indonesia. Berdasarkan keterangan Kementerian Kesehatan pada 2025 diperkirakan terdapat 564 ribu orang dengan HIV. Namun baru sekitar 385 ribu orang atau 68 persen yang mengetahui status HIV mereka.

Tingginya angka HIV ini harus mendapat penanganan yang serius. Penanganan HIV sendiri bukan sekedar dari aspek medis semata namun juga dari aspek sosial. Mengingat hingga saat ini masih banyak stigma negatif dari masyarakat terkait HIV. Alhasil banyak orang yang masih takut memeriksakan diri mereka dan mendapatkan pengobatan.

”Nggak melulu masalah medis, tapi juga ada masalah sosial di dalamnya. Nah, yang seringkali sebenarnya masalah sosial itu jarang tersentuh. Jarang, dibicarakan dan juga jarang diobrak-obrik,” kata Program Manager  Indonesia AIDS Coalition (IAC), Patric J Laurens, baru-baru ini.

Patrick mengungkapkan bahwa saat seseorang positif HIV maka muncul tekanan yang besar. Bila ditambah dengan stigma terhadap orang tersebut maka bisa membuat orang tersebut juga melakukan stigma terhadap dirinya (self-stigma).

”Tantangannya isu sosial itu kan ketika orang mendapatkan diskriminasi, ketika orang mendapatkan stigma, lama-lama menekan dia. Yang menekan dia mengaktibatkan dianya jadi self-stigma ketika orang kena self-stigma, dia pasti akan menutup diri, mengunci dia nggak mau keluar, nggak ketemu atau apa,” sambungnya.

Melihat masalah ini, IAC membuat kampanye bertajuk ‘Tenang Ada Gue’.  Kampenye ini mengajak masyarakat untuk mengedepankan sikap empati, kesetaraan dan kemanusiaan.

”Gerakan ini menegaskan bahwa setiap orang memiliki martabat yang sama serta layak untuk diperlakukan dengan hormat, tanpa pengecualian sekaligus menimbulkan efek kenyamanan karena adanya sistem dukungan (support system) yang berasal dari masyarakat,” kata dia.

Patric mengungkapkan bahwa ide kampanye Tenang Ada Gue itu muncul dari musisi Bongki Ismail. Patric menyebut bahwa Bongki tu menyuarakan pentingnya masyarakat umum di luar LSM dan komunitas untuk tahu dan tidak memberi stigma pada HIV.

”Saya masih ingat banget kata-kata Bang Bongki, ’kalian berharap gimana kitanya bisa terlibat ya orang kalian bikin kampanye, kalian juga yang mengundang kalian-kalian juga’. Nah, kita bukannya tidak mau, tapi kami tidak tahu. Kira-kira begitu ya Bang, kami tidak tahu ada campaign ini, ada campaign begitu. Nah, karena dari itu kita ubah strategi. Kita mencoba pendekatan yang tidak biasa, yaitu dari luar justru yang menyuarakan mengajak teman-teman komunitas yang ayo ga usah khawatir untuk tes HIV, untuk berobat, dan segala macamnya, karena kenal ada gue jadi teman lo,” ujar dia.

Dukungan melalui musik

Menyambut Hari AIDS sedunia, Band BRODERBONG grup yang digawangi oleh Bongky Ismail, merilis single terbaru mereka berjudul “Tak Pernah Sendiri.”  Lagu tersebut dirilis sebagai bentuk kepedulian dan dukungan BRODERBONG terhadap teman-teman HIV positif dan juga populasi terdampak lainnya, yang kerap merasa pesimis bukan hanya karena kondisi kesehatan, tetapi juga akibat tekanan sosial, stigma, dan diskriminasi yang menyakitkan. Hal itu mengakibatkan adanya ketakutan sendiri (self stigma) untuk mengakses pemeriksaan dan juga pengobatan, dan kemudian berdampak pada penurunan kualitas hidup mereka.