Bursa Asia Melemah Tertekan Anjloknya Tajam Wall Street Akibat Investor Cemaskan Efek Perang Dagang

Ilustrasi Singapura.
Ilustrasi Singapura.

Kecemasan muncul di kalangan investor karena menyoroti potensi meningkatnya jumlah pinjaman bermasalah. Akibatnya menimbulkan risiko kerugian bagi bank dan memicu penurunan kepercayaan investor terhadap sektor perbankan.

Harga saham bank-bank regional dan bank investasi Jefferies anjlok pada penutupan semalam, Kamis, 17 Oktober 2025. 

Dari kawasan regional, investor akan memperhatikan perusahaan pembuat chip, Taiwan Semiconductor Manufacturing Co. , yang akan mengumumkan kinerja keuangan kuartal III-2025. 

Sementara itu, Singapura melaporkan ekspor domestik non-minyak pada bulan September 2025 melonjak 6,9 persen secara year on year (yoy). Hasil tersebut berbanding terbalik dengan ekspektasi pasar yang memperkirakan kontraksi sebesar 2,1 persen sekaligus membalikkan penurunan tajam sebesar 11,3 persen pada bulan Agustus 2025.

Dikutip dari CNBC internasional, indeks Nikkei 225 turun 1 persen pada awal perdagangan. Indeks Topix juga merosot 0,83 persen.

Indeks acuan Korea Selatan, Kospi, melemah 0,47 persen. Sedangkan indeks Kosdaq melawan tren dan mencatat penguatan tipis 0,15 persen. 

Di Australia, indeks S&P/ASX 200 tergerus 0,6 persen. Indeks Hang Seng Hong Kong menyusut dari 25.888,51 menjadi 25.862.

Wall Street New York

Aksi jual yang dipicu oleh kekhawatiran tentang praktik pinjaman bank regional mewarnai perdagangan semalam di Wall Street. Indeks Dow Jones Industrial Average  turun 301,07 poin atau hampir 0,7 persen ke level 45.952,24. 

Indeks  S&P 500  ditutup melemah 0,6 persen menjadi 6.629,07. Nasdaq Composite anjlok 0,5 persen ke posisi 22.562,54.