Hormon DHT Jadi Penyebab Utama Kebotakan Pria, Dokter Jelaskan Cara Mencegahnya
Hormon dihidrotestosteron (DHT) sering disebut sebagai hormon yang menjadi penyebab utama kebotakan pada pria.
Apakah hormon DHT aktif secara alami, sehingga pria tinggal menunggu waktu sampai kebotakan terjadi, atau hormon DHT baru aktif karena dipicu faktor tertentu?
“Sebenarnya DHT alami di dalam tubuh, tapi (waktu menyebabkan kebotakan) berbeda-beda, tergantung genetik manusia,” ujar dr. Tirta dalam peluncuran Bonvie For Men di Jakarta Pusat, Minggu (16/11/2025).
Apa Itu Hormon DHT?
Untuk diketahui, hormon DHT adalah turunan dari testosteron. Ini dapat menyebabkan folikel rambut menyusut dan rambut menipis seiring berjalannya waktu, suatu proses yang disebut miniaturisasi folikel rambut.
Pada pria yang mengalami gangguan pada hormon DHT-nya, mereka bisa mengalami kebotakan dini, karena kerontokan yang cukup parah.
Dalam kondisi seperti itu, dr. Tirta mengatakan bahwa penggunaan produk perawatan rambut sudah bukan menjadi solusi.
“Harus konsultasi dengan dermatologi. Pakai perawatan rambut itu bukan menyembuhkan, tapi mengurangi risiko untuk kerusakan rambut dari mistreatment,” jelas dia.
dr. Tirta dalam peluncuran Bonvie For Men di Jakarta Pusat, Minggu (16/11/2025).
Apakah hormon DHT hanya ada pada pria?
Ada beberapa hormon yang ada pada pria dan wanita, salah satunya adalah hormon kortisol. Namun, bagaimana dengan DHT? Apakah hormon ini juga ada pada wanita, dan bisa menyebabkan kebotakan?
“Pada dasarnya, DHT, testosteron itu, ada di cowok. Kalau di cewek kan dominasinya estrogen, sehingga (kebotakan) sangat dipengaruhi oleh siklus menstruasi,” jelas dr. Tirta.
Bagaimana dengan kebotakan normal?
Terkait kebotakan normal karena hormon DHT, bukan berarti para pria tidak bisa mencegah atau setidaknya memperlambat hal ini terjadi.
Produk perawatan rambut dengan kandungan DHT blocker bisa dimanfaatkan. Sebab, DHT blocker membantu menekan pembentukan hormon DHT.
Disadur dari Healthline, DHT blocker juga terdapat pada beberapa produk alami, seperti teh hijau, minyak kelapa, edamame, biji labu, kunyit, serta bahan makanan yang mengandung senyawa kuersetin (quercetin) seperti bawang-bawangan, asparagus, bayam, kangkung, apel, dan beri.
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Ikuti terus update topik ini dan notifikasi penting di Aplikasi KOMPAS.com.