Bukan Baperan! Ini Penyebab Cewek Gampang Moody Setiap Hari
Perubahan mood pada perempuan sering kali dianggap sebagai sifat “baperan” atau terlalu sensitif. Padahal, kondisi tersebut memiliki dasar ilmiah yang kuat dan berhubungan erat dengan faktor biologis serta psikologis.
Para ahli kesehatan mental mencatat bahwa fluktuasi suasana hati yang dialami perempuan bukanlah hal sepele, melainkan respons tubuh terhadap perubahan hormon, kondisi otak, hingga proses internalisasi emosi yang berjalan terus-menerus.
Dari sisi biologis, pengaruh hormon berperan besar terhadap perubahan suasana hati.
“Selain hormonal, memiliki dampak ke mood langsung dan berkaitan dengan peningkatan serotonin dan dopamin,” kata Filmore Psychiatrist, dr. Karina Kalani, SpKJ, dalam acara Grand Opening Filmore medical Clinic Setiabudi, di Jakarta, Senin 17 November 2025.
Ia menjelaskan bahwa serotonin merupakan hormon yang berperan dalam ketenangan dan kenyamanan, sedangkan dopamin berkaitan dengan motivasi dan semangat dalam mengambil keputusan.
Selama siklus menstruasi, kadar hormon estrogen naik dan turun dengan cepat. Pada fase tertentu, estrogen dapat meningkatkan energi dan motivasi. Namun menjelang PMS, ketidakstabilan hormon tersebut memicu sensasi emosional yang lebih intens.
“Kalau siklus haid memang hormon esterogen sedang naik jadi semangat, motivasi, apa yang mau dikerjakan menuju waktu PMS itu meningkat. Itu karena ketidakstabilan esterogen,” jelasnya.
Gitta Amelia, Founder & CEO Filmore Women & dr. Karina Kalani
Selain estrogen, hormon progesteron juga memiliki peran penting. Ketika kedua hormon ini fluktuatif, otak merespons dengan perubahan mood yang kadang terjadi setiap hari.
Namun penyebab mood swing pada perempuan tidak hanya berasal dari hormon. Faktor psikologis seperti kebiasaan refleksi diri turut berpengaruh.
“Lebih banyak refleksi diri. Ketika refleksi biasanya ada internalizing, makanya saat nggak ada kerjaan, biasanya mengulang yang terjadi dan itu mempengaruhi mood. Itu yang membuat perempuan jadi moody,” jelasnya.
Ia juga menegaskan bahwa ekspresi emosional perempuan bukanlah tanda tidak mampu mengelola emosi, melainkan bagian dari cara mereka berkomunikasi.
“Itu sebenarnya adalah cara perempuan menunjukkan komunikasi, itu dianggap sebagai komunikasi dan upayanya,” ujarnya.
Bahkan, tanpa disadari, perempuan sering mengekspresikan perasaan mereka sebagai bentuk komunikasi interpersonal.
“Secara nggak sadar perempuan menunjukkan emosi dengan cara speak up. Itu sesuatu yang dianggap nggak bisa kelola emosi, padahal itu caranya berkomunikasi,” katanya.
Dalam aktivitas profesional yang padat, perempuan sering kali menghadapi tekanan mental dan emosional yang berdampak pada kondisi fisik, mulai dari gangguan hormonal, kelelahan, hingga penurunan kualitas tidur. Melalui klinik terbarunya di Setiabudi One, Filmore ingin meningkatkan kesadaran bahwa kesehatan mental dan kesehatan tubuh saling terhubung serta sama pentingnya untuk dijaga.
Gitta Amelia, Founder & CEO Filmore Health mengatakan, “Kami memahami bahwa perempuan menjalankan peran ganda, di rumah, di pekerjaan, maupun di masyarakat. Karena itu, Filmore ingin menghadirkan layanan kesehatan yang benar-benar selaras dengan ritme keseharian mereka. Pembukaan Filmore Medical Clinic ini merupakan langkah untuk mendekatkan layanan kami kepada segmen perempuan profesional yang aktif di kawasan perkantoran. Kami juga melihat semakin tingginya kebutuhan akan ‘safe space’ layanan medis yang cepat, terpercaya, dan mendukung keseharian perempuan yang dinamis.”