Zohran Mamdani yang Muslim akan Pimpin Kota dengan Populasi Yahudi Terbesar di Dunia
Zohran Mamdani menang Pemilihan Wali Kota (Pilwalkot) New York, Amerika Serikat (AS), yang digelar pada Selasa, 4 November waktu setempat atau Rabu hari ini, 5 November 2025 waktu Indonesia.
Ia akan menjadi wali kota Muslim pertama di kota dengan populasi Yahudi terbesar di dunia, setelah mengalahkan mantan gubernur Andrew Cuomo dan Curtis Sliwa dari Partai Republik.
Mamdani akan menggantikan Wali Kota Eric Adams, yang membatalkan pencalonannya kembali pada September, tetapi tetap mengikuti pemungutan suara.
Zohran Mamdani adalah seorang sosialis demokrat dan anggota dewan negara bagian berusia 34 tahun yang akan menjadi wali kota termuda di kota tersebut dalam lebih dari satu abad.
Ia memasuki pilkada sebagai favorit menyusul kemenangan 12 poin dalam pemilihan pendahuluan Partai Demokrat awal tahun ini.
Kampanye cerdas digital Mamdani, yang fokus pada isu-isu biaya hidup, telah menggemparkan warga New York.
The Associated Press menyatakan Zohran Mamdani sebagai pemenang pada pukul 21.34 waktu setempat.
Hasil polling sementara menunjukkan Mamdani memeroleh 50,5 persen sementara sedangkan saingan terberatnya Andrew Cuomo mendapatkan 41,3 persen suara.
Zohran Mamdani resmi menjadi wali kota New York.
Zohran Mamdani resmi menjadi wali kota New York. Sebagian besar gagasan politik Zohran Mamdani berakar dari pengalamannya sebelum terjun ke dunia politik, yakni membantu masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) agar tidak diusir dari rumah mereka.
Maka tak heran, isu keterjangkauan perumahan menjadi pilar utama kampanyenya.
Dalam sebuah laporan Deutsche Bank Tahun 2025, New York dinobatkan sebagai kota dengan biaya sewa pusat kota termahal di dunia — rata-rata apartemen tiga kamar mencapai US$8.500 (Rp142,2 juta) per bulan.
Di tengah kenyataan itu, seruannya untuk membekukan kenaikan harga sewa unit rumah agar sesuai aturan pemerintah, meningkatkan ketersediaan rumah terjangkau, serta memperketat regulasi bagi tuan tanah swasta mendapat sambutan hangat dari warga.
Sebagai anggota Democratic Socialists of America, keyakinan politiknya semakin jelas.
Ia menyerukan penerapan pajak tetap 2 persen bagi warga berpenghasilan di atas US$1 juta (Rp16,7 miliar) per tahun, peningkatan pajak korporasi, transportasi bus gratis, upah minimum US$30 (Rp465 ribu) per jam (dari US$16,50 atau Rp250 ribu per jam saat ini), serta perluasan layanan penitipan anak publik.
Selain kebijakannya yang prorakyat, Zohran Mamdani juga disoroti terkait pembelaannya terhadap Palestina di kota dengan populasi Yahudi terbesar di luar Israel.
Ia menjanjikan akan menangkap Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu jika berani menginjakkan kaki di New York.
Sikap itu dan janji kampanyenya membuat lobi Israel dan para pengusaha mengucurkan dana raksasa untuk mengalahkan Mamdani.
Dengan populasi hampir 8,5 juta jiwa dan sekitar 65 juta pengunjung per tahun, New York adalah pusat budaya dan keuangan dunia — sekaligus menghadapi tantangan besar dalam hal perumahan, transportasi, dan keuangan publik.
Jabatan wali kota New York bertugas mengelola anggaran pendapatan dan belanja daerah (APBD) sebesar US$116 miliar (Rp1.940 triliun), dengan kewenangan luas yang mencakup pendidikan, keamanan publik, dan kebijakan sosial.
Karena ukuran serta pengaruh global kota ini, posisi tersebut menjadikannya panggung politik berskala nasional dan internasional — beberapa wali kota sebelumnya bahkan pernah mencalonkan diri sebagai presiden AS, meski gagal.
Ia pun mendapat cemoohan dari para kritikus termasuk Presiden AS Donald Trump, yang menyebutnya sebagai "komunis edan" dan "bencana yang mengintai", seperti dikutip dari situs DW.
Zohran Mamdani menanggapi dengan tenang. "Saya akan bekerja sama dengan Presiden Trump demi kebaikan kota ini, tapi saya tidak akan tunduk padanya. Jika Anda ingin memperumit kehidupan warga New York dengan menyerang mereka dan jalinan sosial kota ini, maka saya akan berdiri di garis depan untuk melawan Anda," tegasnya.