Batuk Pilek Tak Kunjung Sembuh? Ahli Kesehatan Ungkap Penyebab yang Sering Diabaikan
Batuk dan pilek menjadi masalah kesehatan yang paling banyak dikeluhkan masyarakat selama beberapa hari terkahir ini. Banyak dari kita yang merasa batuk dan pilek tak kunjung sembuh meski sudah mengonsumsi obat dan beristirahat cukup.
Lantas kenapa batuk dan pilek yang banyak dialami masyarakat tak kunjung sembuh? Terkait dengan hal ini, Epidemiolog dan Ahli Kesehatan Lingkungan dari Griffith University, Dr. Dicky Budiman angkat bicara.
Dijelaskan oleh Dicky Budiman bahwa masalah kesehatan ini bukan hanya terjadi di Indonesia beberapa negara lain juga mengalami masalah serupa.
” Jadi peningkatan keluhan batuk pilak yang berlangsung lama di masyarakat, bukanlah tanda satu penyakit tunggal dan juga bukanlah satu kondisi di mana penyebabnya tunggal ya, karena ini bisa menjadi penyebabnya adalah selain patogen ya, patogen itu penyebab penyakit yang bisa bakteri, virus, tapi juga bisa dari lingkungan, Polusi antara lain, termasuk juga kondisi tubuh dari yang bersangkutan ya,” kata dia saat dihubungi VIVA.co.id, Selasa 14 Oktober 2025.
Dicky juga mengidentifikasi setidaknya ada enam penyebab mengapa batuk dan pilek yang terjadi di masyarakat tak kunjung sembuh.
Pertama co-circulation virus dan infeksi berulang atau co-infeksi. Dijelaskannya saat beberapa virus beredar bersamaan, seseorang itu bisa terkena satu virus lalu tertular oleh virus yang lain atau bahkan bakterinya yang mengakibatkan gejalanya batuk pilak itu menjadi lebih lama atau kambu.
Kedua, terkait post viral cough atau batuk pasca virus. Batuk pasca virus ini terjadi biasanya setelah infeksi virus akut sembuh.
”Batuknya itu bisa bertahan berminggu-minggu karena hiperreaktifitas saluran nafas. Ini mirip-mirip asma ringan dan pemulihan karena adanya pemulihan epitel. Nah, batuk pasca virus sering berlangsung beberapa minggu sampai 8 minggu,” jelas dia.
Ketiga, downstream effect atau post nasal drip dan sinusitis. Ketika lendir yang turun dari sinus ke tenggorokan ini memicu batuk berkepanjangan. Keempat, penyakit komorbid atau penyebab bukan virus.
”Jadi penyakit seperti asma gerda atau reflux gastroesophageal atau bronchitis kronik atau pneumonia bakteri sekunder itu juga dapat membuat batuk lama sembuh atau tidak sembuh,” jelas dia.
Kelima, faktor lingkungan dan perilaku yang melemahkan pemulihan. Polusi udara seperti PM2.5 atau NO2 atau paparan asap rokok, kurang tidur, termasuk ini pekerja shift malam atau pekerja shift, kemudian stress kronik atau hidrasi buruk, semua ini menurunkan respon imun dan memperlambat pemulihan.
Keenam, pengobatan yang tidak tepat atau penggunaan obat sembarangan.
”Jadi salah pilih obat, misalnya penggunaan antibiotik tanpa indikasi infeksinya virus dikasih antibiotik misalnya. Atau antihistamin yang menimbulkan kekeringan saluran nafas. Ini yang dapat memperparah atau memperlama gejala,” jelas dia.
Terkait dengan ketakutan masyarakat akan kasus COVID-19 yang mungkin meningkat, Dicky memastikan tidak ada lonjakan besar kasus COVID-19. Dia menyebut berdasarkan laporan WHO Weekly Update Nomor 547 dan data nasional menunjukkan kasus COVID-19 tetap rendah, rata-rata di bawah 20 kasus per hari.
" Informasi ini sekali lagi tetap menunjukkan gejala yang dilaporkan masyarakat kemungkinan besar disebabkan kombinasi virus dan faktor non-viral. Jadi bukan lonjakan besar COVID-19, bukan. Kemudian bukti epidemiologi selain adalah WHO Weekly Update nomor 547 yang menunjukkan perbedaan pola regional di mana influensa dan RSV aktif di beberapa area tropis sementara SARS-CoV-2 tetap bervariasi menurut wilayah,” jelas dia.
Dicky juga menyarankan beberapa langkah yang bisa dilakukan oleh masyarakat untuk mengatasi masalah batuk pilek yang tak kunjung sembuh. Pertama dengan cukup beristirahat, minum cukup cairan hangat, tidur cukup dan berkumur dengan air garam.
”Pantau juga tanda bahaya misalnya demam yang tidak turun-turun atau ada kesulitan bernafas. Lalu kalau ada sesak nafas demam tinggi lebih 3 hari sekali lagi muntah terus penurunan kesadaran atau gejala yang memburuk segera cari bantuan medis ya ke rumah sakit,” kata dia.
Dicky juga merekomendasikan untuk melakukan vaksinasi influenza teruama bagi mereka yang memiliki mobilitas tinggi, lansia, pasien dengan komorbid.
”Kemudian juga kurangi paparan polusi dan asap ya dan kurangi aktivitas luar saat polusi tinggi. Gunakan juga N95 masker kalau harus keluar di situasi mana udara buruk. Kemudian juga hentikan merokok atau hindari asap rokok ini yang juga dapat memperparah, memperpanjang juga batu. Ingat jangan sembarangan minum antibiotik ya ini harus ke dokter berbasis resep ya pemeriksaan,” kata dia