4 Gejala Atrial Fibrilasi yang Sering Terabaikan, Jadi Penyebab Stroke hingga Gagal Jantung

Ilustrasi jantung.
Ilustrasi jantung.

 Gangguan irama jantung atau atrial fibrilasi (AFib) menjadi salah satu masalah kesehatan yang perlu mendapat perhatian serius. Kondisi ini sering tidak disadari karena gejalanya kerap dianggap sepele atau hanya kelelahan biasa. Padahal, jika tidak ditangani dengan baik, AFib dapat meningkatkan risiko komplikasi serius seperti stroke hingga gagal jantung.

Dokter spesialis jantung dan pembuluh darah subspesialis aritmia, Dony Yugo Hermanto, menjelaskan bahwa atrial fibrilasi terjadi akibat gangguan sistem kelistrikan pada serambi jantung. Akibatnya, irama detak jantung menjadi tidak teratur dan kemampuan jantung memompa darah ikut terganggu. Scroll lebih lanjut yuk!

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

“Orangnya akan merasa berdebar-debar, tidak nyaman seperti lari terus-menerus, dan pasti akan merasa lelah. Ada 'korslet' di serambinya yang menyebabkan listrik jantung terganggu,” ujar dr. Dony Yugo Hermanto, Sp.J.P Subsp.Ar (K), FIHA, Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah Subspesialis Aritmia Rumah Sakit Pondok Indah Jakarta, dalam diskusi media di Jakarta, Selasa 12 Mei 2026.

AFib dikenal sebagai “silent killer” karena gejalanya bisa muncul dan menghilang sehingga sering luput dari perhatian. 

Berikut empat gejala atrial fibrilasi yang paling sering diabaikan masyarakat.

1. Jantung Berdebar Tidak Normal

Salah satu tanda paling umum adalah jantung berdebar atau detak jantung terasa sangat cepat meski tubuh sedang tidak melakukan aktivitas berat. Pada kondisi tertentu, denyut nadi bisa melebihi 100 denyut per menit saat sedang beristirahat.

Sebagian orang menganggap kondisi ini hanya akibat stres, kurang tidur, atau terlalu banyak konsumsi kafein. Padahal, jika terjadi berulang, kondisi tersebut perlu diperiksakan lebih lanjut.

2. Rasa Tidak Nyaman di Area Dada

Gejala berikutnya adalah sensasi tidak nyaman di dada, seperti terasa tertekan, berat, atau sesak ringan. Keluhan ini kadang muncul singkat lalu menghilang sehingga penderita sering menundanya untuk memeriksakan diri.

Rasa tidak nyaman di dada bisa menjadi tanda bahwa kerja jantung mulai terganggu akibat irama detak yang tidak stabil.

3. Mudah Lelah Meski Aktivitas Ringan

Penderita AFib juga sering mengalami kelelahan berlebihan walaupun hanya melakukan aktivitas sederhana. Tubuh terasa cepat lemas karena aliran darah dan oksigen tidak terpompa optimal ke seluruh tubuh.

Kondisi ini banyak disalahartikan sebagai efek usia, kurang istirahat, atau kelelahan biasa. Padahal, kelelahan yang berlangsung terus-menerus dapat menjadi sinyal adanya gangguan jantung.

4. Sesak Napas Tanpa Aktivitas Berat

Sesak napas yang muncul tiba-tiba tanpa pemicu jelas juga perlu diwaspadai. Penderita biasanya merasa napas menjadi pendek atau berat meski hanya berjalan santai atau beraktivitas ringan di rumah.

Gangguan ini terjadi karena jantung tidak mampu memompa darah secara efisien sehingga tubuh kekurangan suplai oksigen.

Risiko Komplikasi yang Mematikan

Atrial fibrilasi lebih sering ditemukan pada kelompok lanjut usia, terutama mereka yang memiliki penyakit penyerta seperti hipertensi yang tidak terkontrol. Faktor usia dan genetik juga disebut berperan dalam meningkatkan risiko munculnya gangguan irama jantung ini.

Jika tidak ditangani, AFib dapat memicu terbentuknya gumpalan darah yang meningkatkan risiko stroke. Selain itu, kerja jantung yang terus terganggu dalam jangka panjang juga dapat menyebabkan gagal jantung.

Menurut dr. Dony, penderita atrial fibrilasi memiliki risiko kematian lebih tinggi dibandingkan orang dengan irama jantung normal.

Pentingnya Deteksi Dini

Deteksi dini menjadi langkah penting untuk mencegah komplikasi serius. Pemeriksaan sederhana seperti rutin mengecek denyut nadi dan tekanan darah dapat membantu menemukan tanda awal gangguan irama jantung.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

“Di Indonesia sering sekali hipertensi disepelekan karena tidak ada gejala, hanya dilihat saja. Padahal, itu bisa menyebabkan atrial fibrilasi dan penyakit jantung yang lebih serius,” pungkas dr. Dony.

Karena itu, masyarakat dianjurkan tidak mengabaikan gejala yang tampak ringan, terutama jika muncul berulang. Pemeriksaan kesehatan secara berkala dapat membantu mendeteksi masalah jantung lebih cepat sehingga penanganan dapat dilakukan sebelum terjadi komplikasi berbahaya.