Orangtua Bisa Bikin Anak Kurang Percaya Diri, Ini Penjelasan Psikolog

anak pemalu, psikolog anak, tips parenting anak, rasa percaya diri anak, membangun rasa percaya diri pada anak, aturan sikap orangtua terhadap anak, percaya diri pada anak, percaya diri anak, Orangtua Bisa Bikin Anak Kurang Percaya Diri, Ini Penjelasan Psikolog

Rasa percaya diri pada anak bisa terbentuk dari orangtua, tidak hanya dari keberhasilan di sekolah atau dari temannya. 

Psikolog anak dan play therapy, Anastasia Satriyo, M.Psi., menjelaskan, anak-anak menyerap kata dan emosi dari lingkungan terdekatnya. Kalimat yang diulang terus-menerus, baik yang positif maupun negatif, dapat membentuk pola pikir yang akan terbawa hingga dewasa.

"Kata-kata orangtua kebanyakan yang selalu nge-judge (menilai) anak kayak, 'Ah gitu aja kamu pasti enggak bisa', 'Kok kamu gitu terus sih'. Seakan-akan sikap anak itu suatu kepastian," kata Anastasia dalam peluncuran Lexus edisi spesial BT21, di Jakarta, Jumat (10/10/2025).

Menurutnya, anak ibarat cermin emosi orangtua. Mereka tidak hanya meniru kata-kata tapi juga membaca nada suara dan ekspresi wajah yang muncul dalam interaksi sehari-hari.

Anak menyerap emosi dari wajah dan suara orangtua

anak pemalu, psikolog anak, tips parenting anak, rasa percaya diri anak, membangun rasa percaya diri pada anak, aturan sikap orangtua terhadap anak, percaya diri pada anak, percaya diri anak, Orangtua Bisa Bikin Anak Kurang Percaya Diri, Ini Penjelasan Psikolog

Rasa percaya diri pada anak bisa terbentuk dari orangtua. Kalimat seperti, "Ah gitu aja kamu pasti enggak bisa" bisa tertanam di otaknya.

Lebih lanjut, kata Anastasia, anak tidak hanya belajar dari kata-kata yang diucapkan orangtua, tapi juga dari ekspresi wajah dan nada suara orangtuanya. 

Bahkan, tanpa disadari, emosi orangtua bisa menular dan memengaruhi bagaimana anak memandang dirinya sendiri.

"Pakai ekspresi wajah terus nada suara kita kayak merendahkan, kayak 'ngenyek' dia, kalau itu berlaku berkali-kali, kan otak kayak otot ya, ribuan kali pengalaman itu, yang akan bikin dia lumayan ngedrop atau nggak berani," jelas Anastasia. 

Dengan demikian, hal-hal sederhana yang misalnya, mendengus kesal ketika anak menumpahkan air atau menunjukkan wajah jijik ketika anak berbuat salah, bisa terekam kuat di memori emosional anak.

Dalam jangka panjang, pengalaman semacam itu membuat buah hati takut mencoba dan ragu terhadap kemampuan sendiri.

Reaksi yang berlebihan bisa mengikis keberanian anak

anak pemalu, psikolog anak, tips parenting anak, rasa percaya diri anak, membangun rasa percaya diri pada anak, aturan sikap orangtua terhadap anak, percaya diri pada anak, percaya diri anak, Orangtua Bisa Bikin Anak Kurang Percaya Diri, Ini Penjelasan Psikolog

Anastasia Satriyo, M.Psi., psikolog anak dan play therapy, dalam peluncuran Lexus edisi spesial BT21, di Jakarta Selatan, Jumat (10/10/2025).

Anastasia mencontohkan, ada banyak kasus anak yang menjadi pemalu atau tidak berani mengambil inisiatif karena terbiasa mendapat reaksi berlebihan dari orangtuanya.

"Klien saya, hanya sesederhana, misalnya dia cuman numpahin air di rumah, marahnya kayak heboh banget, 'Kamu gimana sih mata enggak bisa liat'. Dia anak umur 13 tahun, cowok, dia jadi pemalu dan minder banget," jelas Anastasia.

Reaksi yang tidak seimbang dengan situasi membuat anak belajar bahwa kesalahan kecil adalah sesuatu yang menakutkan.

Akibatnya, mereka tumbuh dengan rasa takut salah dan sulit menumbuhkan keberanian untuk mencoba hal baru. 

Sebaliknya, untuk menumbuhkan rasa percaya diri pada anak, orangtua perlu menggunakan nada suara yang hangat dan bahasa yang menenangkan, terutama saat anak gagal atau merasa takut.

Kalimat seperti, "Enggak apa-apa, yuk kita coba lagi bareng" jauh lebih menenangkan. Intonasi suara yang lembut, ekspresi wajah yang ramah, akan menjadi sinyal bagi anak bahwa dia aman untuk belajar.

Ketika anak merasa aman secara emosional, mereka lebih berani mengeksplorasi dan mencoba hal-hal baru tanpa takut merasa dihakimi. 

Ia menyarankan agar orangtua mulai membiasakan diri melakukan refleksi, misalnya lewat journaling atau berbicara dengan profesional, agar lebih sadar dengan pola reaksi yang muncul saat menghadapi anak.

Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Ikuti terus update topik ini dan notifikasi penting di Aplikasi KOMPAS.com.