Fakta Baru Kecelakaan Bus ALS vs Truk Tangki di Muratara Diungkap Kernet
Tragedi kecelakaan maut antara Bus Antar Lintas Sumatera (ALS) dan truk tangki di Jalan Lintas Sumatera, Kabupaten Musi Rawas Utara (Muratara), Sumatera Selatan, mulai menemukan titik terang. Polisi kini mendalami kesaksian kernet bus yang selamat dari insiden mengerikan yang menewaskan 16 orang tersebut.
Tim gabungan Polda Sumatera Selatan melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP) dengan menghadirkan kernet Bus ALS bernama M. Fadli bin Ibrahim. Dalam proses itu, polisi mencocokkan keterangan saksi dengan kondisi di lokasi kecelakaan yang sempat memicu kobaran api besar.
Fadli mengungkap momen menegangkan sesaat sebelum tabrakan maut terjadi. Menurut dia, sopir bus berusaha menghindari jalan berlubang ketika kendaraan melaju di Jalinsum.
“Kita menghindari lubang. Jadi datanglah mobil (truk tangki) arah sana kencang kan, jadi menghantam,” kata Kernet bus ALS, Fadli dikutip dari tvOne.
Bus disebut melaju dengan kecepatan sekitar 80 kilometer per jam sebelum kecelakaan terjadi. Saat sopir membelok menghindari lubang, dari arah berlawanan muncul truk tangki yang melaju cepat hingga tabrakan tak bisa dihindari. Benturan keras itu langsung memicu ledakan dan api besar yang melahap kedua kendaraan.
“Langsung hidup api, sampai langsung hidup api,” ujar Fadli.
Ia juga mengungkap kondisi penumpang saat kejadian. Sebagian besar penumpang disebut tidak sempat menyelamatkan diri karena tengah beristirahat selama perjalanan malam.
“Penumpang ada yang tidur, ada yang main HP,” katanya.
Sebelumnya diberitakan, sebanyak 16 orang dilaporkan tewas dalam kecelakaan tersebut. Rinciannya, 14 korban berasal dari Bus ALS, sementara dua lainnya merupakan sopir dan kernet truk tangki BBM. Polda Sumatera Selatan menyebut proses identifikasi korban masih terus berlangsung. Dari total korban meninggal dunia, 10 orang telah berhasil dikenali identitasnya oleh Tim Disaster Victim Identification (DVI) Polri.
Kepala Bidang Humas Polda Sumsel Komisaris Besar Polisi Nandang Mu’min Wijaya mengatakan seluruh jenazah sebelumnya dibawa ke RS Bhayangkara Mohammad Hasan Palembang untuk proses identifikasi.
“Proses identifikasi dilakukan secara intensif oleh Tim Disaster Victim Identification (DVI) Biddokkes Polda Sumsel bersama Tim DVI Pusdokkes Mabes Polri,” ujar Nandang, Kamis, 7 Mei 2026.
Korban meninggal yang telah teridentifikasi antara lain Aryanto (49), sopir mobil tangki asal Lubuk Linggau, serta Martono (48), penumpang truk tangki asal Musi Rawas Utara. Polisi juga mengidentifikasi sopir Bus ALS bernama Alif (44) asal Jawa Tengah. Dua kru bus lainnya yang turut meninggal dunia yakni Saf (50) dan Maleh (42), keduanya warga Medan.
Sementara dari kalangan penumpang, korban yang telah dikenali yakni Relodo, Zulkifli, Aldi Sulistiawan, Rani, dan Bela yang diketahui merupakan satu keluarga penumpang Bus ALS. Selain korban meninggal, polisi mencatat ada empat korban selamat. Tiga di antaranya mengalami luka bakar serius dan masih menjalani perawatan intensif di RSUD Rupit.
Mereka adalah Jumiatun (35) dan Ngadiono (44), warga Pati, Jawa Tengah, serta Muhammad Fahrul Hubaidi (31), warga Tegal. Sedangkan kernet Bus ALS, M. Fadli bin Ibrahim (30) asal Riau, hanya mengalami luka ringan.
Kapolres Muratara Ajun Komisaris Besar Polisi Rendy Surya Aditama sebelumnya menyebut dugaan awal kecelakaan mengarah pada faktor human error, meski kondisi jalan berlubang juga ditemukan di lokasi kejadian. Menurut dia, pengakuan kernet menguatkan dugaan bahwa sopir sempat kehilangan kendali hingga kendaraan masuk ke jalur berlawanan.
“Namun sementara pengakuan dari kernet bahwa si sopir ini hilang kendali sehingga membanting ke arah kanan sisi berlawanan, begitu untuk sementara,” ujar Kombes Pol. Rendy Surya.
Polisi memastikan penyelidikan kecelakaan maut tersebut masih terus berjalan untuk memastikan penyebab utama insiden yang mengguncang Sumatera Selatan itu.