AI Bikin Pekerjaan Entry Level Nyusut, Gen Z Terancam Kena PHK hingga Susah Cari Kerja

Ilustrasi Gen Z
Ilustrasi Gen Z

 Pasar kerja global sedang tidak baik-baik saja. Banyak laporan menyebut, generasi Z, yang seharusnya menjadi angkatan kerja aktif, makin kesulitan mendapatkan pekerjaan.

Bahkan, gen Z yang notabene-nya lahir serta tumbuh bersama internet, media sosial, dan berbagai teknologi digital, kini justru sulit mendapatkan tempat di perusahaan teknologi raksasa. 

Padahal, selama bertahun-tahun mereka digadang-gadang sebagai generasi penerus yang akan membawa inovasi segar di industri ini. Namun realitas berkata lain, kecerdasan buatan atau AI yang seharusnya menjadi alat bantu, justru perlahan menggantikan peran mereka, terutama di entry level.

Fenomena ini tercermin dari data terbaru. Sejak 2023, jumlah pekerja Gen Z usia 21 hingga 25 tahun di perusahaan teknologi publik besar seperti Meta dan Microsoft terpangkas hingga separuh. Jika pada Januari 2023 mereka masih mencapai 15 persen dari total tenaga kerja, maka pada Agustus 2025 jumlahnya tinggal 6,8 persen. 

Perusahaan swasta besar pun mengalami tren serupa, di mana proporsi karyawan muda turun dari 9,3 persen menjadi 6,8 persen dalam periode yang sama. Bersamaan dengan itu, rata-rata usia pekerja di perusahaan teknologi publik naik tajam, dari 34,3 tahun menjadi 39,4 tahun hanya dalam dua setengah tahun. 

Di perusahaan swasta, kenaikan lebih moderat, dari 35,1 tahun menjadi 36,6 tahun. Perubahan ini menandakan pergeseran besar dalam ekosistem tenaga kerja teknologi. 

“Jika Anda berusia 35 atau 40 tahun, Anda sudah cukup mapan dalam karier, Anda memiliki keterampilan yang Anda tahu belum bisa digantikan oleh AI,” kata Matt Schulman, Chief Executive Officer Pave, seperti dikutip dari Fortune, Rabu, 10 September 2025. 

Ilustrasi stres kerja.

Ilustrasi stres kerja.

“Jika Anda berusia 22 tahun yang dulunya ahli Excel atau semacamnya, maka itu bisa tergantikan,” sambungnya.

Menurut Schulman, ada beberapa alasan mengapa perusahaan teknologi kini semakin menua dan tidak lagi ramah bagi talenta muda. Perusahaan raksasa seperti Salesforce, Meta, dan Microsoft menjadi jauh lebih efisien berkat AI. 

Walau mencatat keuntungan triliunan dolar, mereka tetap memangkas banyak pekerjaan di level bawah yang biasanya diisi oleh Gen Z. Otomasi membuat peran entry level menyusut drastis, sementara peluang promosi pun tersendat karena perusahaan memilih jalan ‘efisiensi’.

Sementara itu, Jeri Doris, Chief People Officer di Justworks, menambahkan bahwa pengurangan besar-besaran tenaga kerja menciptakan hambatan serius bagi Gen Z. Menurut laporan Challenger, Gray & Christmas, perusahaan-perusahaan di Amerika Serikat telah mengumumkan lebih dari 806.000 pemutusan hubungan kerja dari Januari hingga akhir Juli tahun ini, naik 75 persen dibanding sekitar 460.000 pada periode yang sama tahun lalu. 

“PHK massal di bidang teknologi dan berkurangnya pekerjaan entry level berarti Gen Z lebih sulit menemukan lowongan untuk dilamar. Di sisi lain, Gen Z memprioritaskan fleksibilitas kerja, stabilitas pekerjaan, dan keseimbangan hidup-kerja, sesuatu yang mungkin tidak bisa ditawarkan oleh industri teknologi, sehingga mereka melamar pekerjaan di industri lain,” jelas Doris.

Namun masalahnya bukan sekadar soal kesempatan kerja saat ini. Jika Gen Z terus kehilangan pijakan untuk memulai karier dari bawah, akan muncul persoalan regenerasi. 

Ketika pekerja milenial yang kini mendominasi naik ke level senior, siapa yang akan mengisi posisi menengah jika Gen Z tidak mendapat kesempatan untuk belajar dan berkembang? Schulman mencontohkan jalur karier di bidang penjualan, di mana seseorang biasanya memulai dari sourcing level junior, naik menjadi account executive menengah, lalu mencapai posisi enterprise seller. 

“Enterprise sellers masih dibutuhkan, tetapi Anda menghapus peran di bawah mereka dalam hierarki karier. Bagaimana kita akan melatih penjual perusahaan masa depan, jika mereka tidak melewati langkah konvensional untuk sampai ke sana?” ujarnya.

Meski begitu, masih ada secercah harapan. Schulman berpendapat bahwa Gen Z justru memiliki keunggulan karena mereka tidak terikat oleh pola pikir lama. 

“Perusahaan dapat mempekerjakan anak berusia 21 atau 22 tahun yang belum dicuci otaknya bertahun-tahun oleh dunia korporat. Sebaliknya, mereka bisa melanggar aturan dan memanfaatkan AI jauh lebih maksimal tanpa hambatan dari bias,” katanya. 

Priya Rathod dari Indeed juga menekankan pentingnya strategi adaptif. Menurutnya, membangun keterampilan melalui sertifikasi, pekerjaan lepas, dan komunitas online dapat membuka pintu. Peran di bidang UX, etika AI, keamanan siber, dan operasi produk menjadi jalur masuk yang menjanjikan.

“Alih-alih menunggu kesempatan, mereka sebaiknya menciptakannya—melalui proyek freelance, networking, dan memamerkan karya secara online,” kata Rathod. 

Ia juga menambahkan bahwa pemberi kerja kini semakin fleksibel terhadap persyaratan gelar. “Untuk Gen Z, sertifikasi atau micro-credential yang tepat bisa lebih berharga daripada pengalaman bertahun-tahun di CV. Ini membantu mereka tetap kompetitif bahkan ketika peluang entry level menyusut.”