Ancaman Job-pocalypse di Depan Mata, Gen Z Terancam Nganggur Massal Gara-gara AI
Generasi Z di seluruh dunia menghadapi ancaman serius di dunia kerja. Dalam laporan terbaru yang dirilis oleh British Standards Institution (BSI), para pemimpin bisnis global memperingatkan bahwa era “job-pocalypse” atau kepunahan lapangan kerja bagi anak muda sudah di depan mata.
Riset yang dilakukan BSI terhadap lebih dari 850 pemimpin bisnis di tujuh negara yakni Inggris, Amerika Serikat, Prancis, Jerman, Australia, China, dan Jepang, menunjukkan tren yang mengkhawatirkan.
Banyak perusahaan kini lebih memilih berinvestasi pada kecerdasan buatan (AI) ketimbang merekrut tenaga kerja baru, terutama di posisi entry-level.
Sebanyak 41 persen pimpinan perusahaan mengakui bahwa penggunaan AI memungkinkan mereka mengurangi jumlah karyawan, sementara 31 persen lainnya mengatakan perusahaan mereka kini mempertimbangkan solusi AI sebelum memutuskan untuk merekrut pegawai baru.
Bahkan, dua dari lima eksekutif memperkirakan praktik ini akan menjadi hal biasa dalam lima tahun ke depan. Dalam laporan itu, seperempat responden percaya bahwa sebagian besar atau bahkan seluruh pekerjaan yang biasanya dilakukan oleh pegawai entry level, kini bisa diambil alih oleh AI.
Ilustrasi aktivitas / bekerja.
Hal ini menunjukkan bahwa generasi Z menghadapi tantangan besar memasuki dunia kerja yang semakin terdigitalisasi. “AI merupakan peluang besar bagi bisnis di seluruh dunia, tetapi saat perusahaan mengejar produktivitas dan efisiensi, kita tidak boleh lupa bahwa kemajuan sejati tetap digerakkan oleh manusia,” kata Susan Taylor Martin, Chief Executive Officer BSI, sebagai dikutip dari The Guardian, Senin, 13 Oktober 2025.
“Penelitian kami menunjukkan bahwa ketegangan antara pemanfaatan AI dan menciptakan tenaga kerja yang berkembang menjadi tantangan utama zaman ini. Diperlukan pemikiran jangka panjang dan investasi pada sumber daya manusia agar pekerjaan tetap berkelanjutan," katanya.
Data BSI juga menunjukkan bahwa 39 persen pemimpin bisnis telah memangkas atau mengurangi posisi entry-level karena efisiensi yang dihasilkan oleh AI, terutama dalam bidang riset, tugas administratif, dan penyusunan laporan.
Lebih dari setengah responden mengaku beruntung memulai karier sebelum AI digunakan secara luas. Namun ironisnya, 53 persen dari mereka tetap yakin bahwa manfaat implementasi AI dalam perusahaan akan lebih besar daripada gangguan yang ditimbulkannya terhadap tenaga kerja.
Teknologi AI kini tengah diadopsi secara cepat oleh dunia bisnis, terutama di Inggris. Sekitar 76 persen pimpinan perusahaan meyakini bahwa alat berbasis AI akan membawa manfaat nyata bagi organisasi mereka dalam 12 bulan ke depan.
Motivasi utama investasi tersebut adalah untuk meningkatkan efisiensi, produktivitas, dan mengurangi biaya operasional, sekaligus menutup kekurangan tenaga kerja terampil.
Namun, analisis BSI terhadap laporan tahunan berbagai perusahaan menunjukkan bahwa kata “automation” muncul hampir tujuh kali lebih sering dibandingkan “upskilling” atau “retraining”. Fakta ini mengindikasikan bahwa perusahaan lebih fokus pada otomatisasi ketimbang peningkatan kemampuan karyawan yang ada.
Kekhawatiran publik terhadap dampak AI juga terus meningkat. Sebuah survei terpisah dari Trades Union Congress (TUC) menemukan bahwa setengah dari orang dewasa di Inggris cemas akan dampak AI terhadap pekerjaan mereka, baik karena takut kehilangan pekerjaan, maupun khawatir pekerjaannya berubah drastis akibat teknologi ini.
Sementara itu, kondisi pasar tenaga kerja Inggris sendiri tengah melambat. Tingkat pengangguran kini mencapai 4,7 persen tertinggi dalam empat tahun terakhir, meski sebagian besar ekonom tidak melihat hal ini langsung disebabkan oleh peningkatan investasi AI.