Intip 10 Pekerjaan Paling Bikin Stres di 2026, Ada Profesi Anda?
Memasuki 2026, isu stres kerja dan burnout semakin menjadi perhatian global. Tekanan pekerjaan tidak lagi terbatas pada sektor tertentu atau level jabatan tertentu, melainkan menyebar luas ke berbagai industri.
Jam kerja panjang, kekurangan tenaga kerja, tuntutan produktivitas, hingga ketidakpastian ekonomi menjadi kombinasi yang membuat banyak pekerja berada di titik kelelahan fisik dan mental.
Berbagai riset menunjukkan bahwa stres kerja kini bukan sekadar masalah individu, melainkan persoalan sistemik di dunia kerja modern. Data terbaru mengungkap bahwa mayoritas pekerja mengalami stres berkepanjangan, bahkan hingga berdampak pada kesehatan dan kehidupan pribadi.
Berbagai penelitian menunjukkan, sebanyak 90 persen karyawan mengaku merasa stres di tempat kerja, 50 persen menyatakan beban kerja berlebih menurunkan produktivitas, dan 77 persen mengatakan stres berdampak langsung pada kesehatan fisik mereka. Bahkan, kerja shift yang ekstrem kini sampai disebut sebagai shift sulking karena tekanan yang ditimbulkannya.
Welltory, aplikasi manajemen stres dan energi, melakukan analisis khusus untuk mengidentifikasi industri dengan tingkat stres tertinggi di Amerika Serikat sepanjang 2025. Penilaian dilakukan berdasarkan tujuh faktor utama, antara lain jam kerja mingguan rata-rata, tingkat lowongan pekerjaan, risiko cedera dan penyakit kerja, pendapatan mingguan, tingkat pemutusan hubungan kerja, tingkat pengunduran diri, serta tingkat burnout pekerja.
Seluruh faktor tersebut dinormalisasi menggunakan metode statistik min–max normalization untuk menghasilkan skor stres pada skala 1 hingga 100. Melansir dari laporan Forbes, Rabu, 7 Januari 2026, berikut daftar pekerjaan yang paling banyak menyebabkan stres di 2026.
10 Industri Paling Menyebabkan Stres di 2026
ilustrasi stres
Berdasarkan hasil riset Welltory, berikut daftar industri dengan tingkat stres tertinggi beserta skor tekanannya:
1. Leisure dan hospitality, skor 66
2. Jasa profesional dan bisnis, skor 56
3. Transportasi dan pergudangan, skor 53
4. Pertambangan dan kehutanan, skor 50
5. Pendidikan dan layanan kesehatan swasta, skor 46
6. Informasi, skor 43
7. Konstruksi, skor 43
8. Perdagangan ritel, skor 42
9. Utilitas, skor 42
Industri leisure dan hospitality menempati posisi teratas, yang mana dikarenakan jam kerja tidak menentu, interaksi langsung dengan pelanggan, serta tingkat upah yang relatif rendah.
Anna Elitzur, pakar kesehatan mental dari Welltory, menegaskan bahwa penyebab stres bukan semata jenis pekerjaannya. “Apa yang ditunjukkan data ini adalah bahwa stres kerja didorong oleh bagaimana pekerjaan dirancang, bukan hanya oleh sifat pekerjaannya,” ujarnya.
“Jam kerja panjang, kekurangan staf, risiko cedera, dan tekanan finansial semuanya menunjukkan masalah mendasar, yaitu ketidakseimbangan antara tuntutan kerja dan waktu pemulihan.”
Menurut Elitzur, secara medis otak dan tubuh tidak membedakan antara ancaman fisik, ketidakamanan finansial, atau beban kognitif. “Semuanya diproses sebagai stres kronis,” ujarnya.
Di sisi lain, survei MyPerfectResume terhadap 1.000 pekerja di Amerika Serikat menunjukkan bahwa 63 persen karyawan mengalami burnout beberapa kali dalam seminggu. Sebanyak 55 persen menilai tingkat burnout mereka berada di level sedang hingga berat, dan 45 persen bahkan membatalkan ulang tahun serta liburan karena tekanan pekerjaan.
Temuan ini memperlihatkan bahwa stres kerja telah merembes ke kehidupan pribadi, memengaruhi keputusan karier, serta mendorong pekerja untuk menarik diri secara emosional dari pekerjaannya.
Eva Chan, pakar karier dari Resume Genius, menegaskan bahwa tekanan kerja kini terjadi di semua lini. “Imbalan finansial sering kali datang dengan pengorbanan keseimbangan hidup. Dari sudut pandang strategi karier, kuncinya adalah stabilitas,” ujarnya.