Angin Duduk Itu Mitos, Dokter Tegaskan Itu Serangan Jantung
Istilah “angin duduk” masih sering terdengar di masyarakat. Banyak orang mengira nyeri dada hebat yang datang tiba-tiba hanyalah masuk angin biasa. Padahal, menurut dokter spesialis jantung, istilah tersebut hanyalah mitos. Yang sebenarnya terjadi bisa jadi adalah serangan jantung, kondisi medis serius yang mengancam nyawa.
Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah Subspesialis Kardiologi Intervensi dari RS Pondok Indah, dr. Nanda Iryuza, menegaskan secara gamblang dalam pemaparannya.

"Itu mitos, angin duduk itu. Yang bener adalah dia kena serangan jantung. Ada pembuluh darahnya tadi yang pecah di jantung sehingga menyebabkan aliran darah yang mengalir di jantung tersebut tiba-tiba tersumbat. Sehingga mengakibatkan sakit dada yang luar biasa,” jelas dr. Nanda dalam pemaparan bersama media di Jakarta Selatan pada Rabu, 4 Maret 2026.
Pernyataan tersebut sekaligus meluruskan kesalahpahaman yang sudah lama berkembang. Penyakit jantung sendiri diketahui masih menjadi penyakit mematikan nomor satu di dunia.
"Dimana penyakit jantung koroner sampai saat ini masih menjadi penyebab utama kematian bagi seluruh manusia di dunia, tidak terkecuali mau di Indonesia, mau di Jepang, mau di Amerika, mau di Eropa, semua sama,” jelaskan lagi.
Artinya, penyakit jantung koroner bukan hanya masalah satu negara, tetapi ancaman global. Penyebab utamanya adalah penyumbatan pembuluh darah jantung akibat penumpukan lemak atau plak kolesterol.
Jika plak ini pecah, maka terbentuklah bekuan darah yang menyumbat aliran darah secara mendadak. Kondisi inilah yang memicu serangan jantung akut.
Gejala Serangan Jantung yang Sering Diabaikan
Banyak orang salah kaprah ketika mengalami nyeri dada. Mereka justru melakukan kerokan karena mengira itu “angin duduk”.
"Pertama adalah, gejala klasik serangan jantung tentunya nyeri dada. Sakit dada. Biasanya seperti rasa ditekan, berat, atau terbakar,” ujar dr. Nanda.
Rasa sakit ini sering digambarkan seperti dada diduduki sesuatu yang berat. Makanya bisa disebut sebagai angin duduk oleh masyarakat. Namun, kondisi tersebut bukan karena angin, melainkan gangguan aliran darah di jantung.
"Dadanya itu didudukin, makanya dibilang angin duduk,” ujarnya lagi.
Selain nyeri dada, gejala lain yang harus diwaspadai adalah sesak napas mendadak, terutama saat aktivitas ringan atau bahkan saat istirahat. Kemudian muncul keringat dingin berlebihan.
"Biasanya seseorang tersebut langsung keluar keringat dingin. Dan keluar keringat dinginnya ini nggak bohong-bohongan... sampai singletnya atau bajunya itu bisa diperes,” katanya menambahkan.
Jika nyeri menjalar ke lengan kiri, leher, atau rahang kiri, itu juga tanda bahaya yang tidak boleh diabaikan.
Faktor Risiko yang Bisa dan Tidak Bisa Diubah
Serangan jantung dipengaruhi faktor risiko yang terbagi dua, tidak bisa diubah dan bisa diubah. Faktor yang tidak bisa diubah meliputi usia, jenis kelamin, keturunan, dan etnis. Namun faktor yang bisa dikendalikan justru sangat menentukan.
"Rokok adalah faktor risiko utama yang masih bisa dirubah,” katanya lagi.
Selain merokok, tekanan darah tinggi (hipertensi), kolesterol tinggi terutama LDL, obesitas, dan diabetes juga meningkatkan risiko serangan jantung secara signifikan. Hipertensi bahkan disebut sebagai silent killer karena sering tanpa gejala, namun tiba-tiba memicu stroke atau serangan jantung.
Angin duduk bukanlah diagnosis medis. Jika mengalami nyeri dada hebat, sesak napas, atau keringat dingin mendadak, jangan anggap remeh. Bisa jadi itu adalah serangan jantung yang membutuhkan penanganan darurat. Mengenali gejalanya sejak awal dapat menyelamatkan nyawa.