Bukan Joget Lagi, Kreator Edukasi Kini Masuk Forbes 30 Under 30 Asia
Media sosial kini tak lagi identik dengan konten hiburan semata. Forbes justru menyoroti tren baru di kalangan Gen Z Asia, seperti kreator edukasi yang membahas seni, astronomi, isu global, hingga kesehatan seksual kini mulai mendominasi perhatian publik.
Hal itu terlihat dalam daftar Forbes 30 Under 30 Asia 2026 kategori Social Media, Marketing & Advertisin.
Melansir Forbes (27/5/2026), banyak kreator muda dalam daftar tahun ini berhasil membangun audiens besar bukan lewat tren joget atau konten viral singkat, melainkan dengan menyederhanakan topik rumit agar lebih mudah dipahami generasi muda.
Konten edukasi makin diminati Gen Z
Media sosial kini berubah menjadi ruang belajar baru bagi anak muda.
Kreator tidak hanya dituntut menghibur, tetapi juga mampu membuat audiens merasa lebih dekat dengan isu sosial, sains, budaya, hingga berita dunia.
Salah satu contohnya adalah kreator asal Indonesia, Erika Richardo.
Dengan lebih dari 18 juta pengikut di TikTok, Erika dikenal lewat konten seni yang dipadukan dengan storytelling dan isu sosial.
Namanya semakin dikenal setelah video proses melukis pesawat Boeing 737 milik Garuda Indonesia viral pada 2025.
Karya tersebut dibuat untuk memperingati 80 tahun kemerdekaan Indonesia dengan elemen batik dan ilustrasi 16 kelompok etnis dari seluruh nusantara.
Erika Richardo berhasil memakai seni sebagai cara untuk menginspirasi anak muda agar lebih berani bereksperimen dan mengekspresikan kreativitas.
Bahas astronomi hingga isu dunia
Tangkapan layar akun Instagram Erika Richardo @erikarichardo. Forbes menyoroti tren baru kreator Gen Z yang kini populer lewat konten edukasi, bukan sekadar hiburan viral.
Tren kreator edukasi juga terlihat di bidang sains.
Astrofisikawan asal Australia, Kirsten Banks atau AstroKirsten, masuk dalam daftar Forbes berkat kontennya yang menjelaskan lubang hitam, penemuan kosmik, dan kehidupan di luar bumi dengan bahasa yang sederhana.
Ia juga memasukkan budaya Wiradjuri tentang bintang ke dalam kontennya.
Di Thailand, Nattanon Dungsunenarn membangun platform Spaceth.co yang membahas astronomi dan eksplorasi luar angkasa melalui artikel, podcast, dan media sosial.
Platform tersebut kini memiliki jutaan penonton dan ratusan ribu pelanggan.
Sementara itu, Lucy Blakiston dari Selandia Baru masuk daftar Forbes lewat platform Shit You Should Care About yang membantu anak muda memahami isu global dan berita internasional dengan format yang lebih ringan.
Media sosial berubah jadi ruang diskusi
Kreator muda Asia kini tidak lagi sekadar mengejar viralitas.
Banyak dari mereka justru membangun komunitas digital yang fokus pada edukasi dan percakapan yang lebih bermakna.
Hal serupa dilakukan kreator asal Australia, Esmé James, yang membahas sejarah hubungan intim dan seksualitas lewat serial Kinky History di TikTok dan podcast.
Kontennya kini memiliki lebih dari 3 juta pengikut.
Selain itu, Hannah Ferguson dari Australia membangun platform Cheek Media untuk membahas isu sosial dan komentar berita yang dekat dengan generasi muda.
Kreativitas manusia tetap dibutuhkan
Kreativitas manusia tetap menjadi faktor penting di tengah berkembangnya teknologi AI.
Para kreator muda ini menunjukkan bahwa media sosial masih bisa dipakai untuk membangun dampak sosial, memperluas pengetahuan, dan menghubungkan anak muda dengan isu yang sebelumnya dianggap rumit atau membosankan.
Tren ini juga memperlihatkan perubahan besar dalam dunia digital Asia.
Jika dulu kreator identik dengan hiburan cepat dan tren viral, kini semakin banyak anak muda yang mencari konten yang membuat mereka merasa lebih terhubung, lebih paham, dan lebih terinspirasi.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang