Bukan Sekadar Nilai Rapor, Ini Cara Baru Mengukur Kesiapan Anak Vokasi Masuk Dunia Kerja
Dunia kerja makin kompetitif, tapi rupanya kesiapan lulusan vokasi tak lagi diukur dari nilai akademik semata. Kementerian Perindustrian Republik Indonesia lewat Pusat Pengembangan Pendidikan Vokasi Industri (PPVI) menggandeng Markija Berdaya untuk menghadirkan pendekatan baru dalam memetakan potensi dan kesiapan siswa vokasi menghadapi industri.
Kolaborasi ini ditandai dengan penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) dan Perjanjian Kerja Sama (PKS) di Gedung PIDI 4.0, Jakarta. Empat institusi vokasi di bawah Kementerian Perindustrian—SMK-SMAK Bogor, Akademi Kimia Analisis (AKA) Bogor, Politeknik STMI Jakarta, dan Politeknik APP Jakarta—menjadi bagian dari implementasi awal program ini. Scroll untuk info lengkapnya, yuk!
Lewat solusi asesmen keterampilan berbasis teknologi bernama PractiWork, mahasiswa tak hanya dinilai dari sisi akademik, tetapi juga dari kemampuan kognitif dan psikomotorik, karakter kepribadian, hingga minat dan preferensi kerja. Pendekatan ini dinilai lebih relevan dengan kebutuhan industri yang terus berkembang.
Sekretaris Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Industri Kementerian Perindustrian Republik Indonesia, Dr. Sidik Herman, S.Sn., M.M., menekankan pentingnya asesmen berbasis data dalam pendidikan vokasi.
“Data hasil asesmen menjadi instrumen strategis bagi satuan pendidikan vokasi di bawah Kementerian Perindustrian dalam melakukan evaluasi dan penyempurnaan kurikulum secara berkelanjutan. Pendekatan berbasis kompetensi dan bukti ini diharapkan mampu memperkuat keterkaitan antara dunia pendidikan dan industri,” ujar Sidik dalam keterangannya, dikutip Rabu 11 Februari 2026.

Menariknya, uji coba yang dilakukan di SMK-SMAK Bogor pada 10–12 September 2025 terhadap 47 siswa menunjukkan hasil yang cukup membuka mata. Potensi siswa ternyata tidak selalu sejalan dengan nilai akademik. Pemetaan data mengelompokkan siswa ke dalam delapan klaster karakteristik, dengan kelompok terbesar merupakan siswa yang well-rounded—memiliki keseimbangan kemampuan kognitif, sosial, dan emosional.
Temuan ini juga memperlihatkan bahwa siswa dengan nilai akademik rendah tersebar di berbagai klaster karakteristik, menandakan banyak faktor yang memengaruhi performa belajar. Sebaliknya, siswa dengan capaian akademik baik cenderung berada di klaster berkemampuan tinggi dan fokus.
President Director Markija Berdaya, Csongor Hunyar, menyebut kolaborasi ini sebagai langkah konkret mendukung pengembangan SDM industri yang lebih terarah.
“Melalui PractiWork, kami menghadirkan asesmen keterampilan yang komprehensif dan objektif untuk menjembatani pendidikan vokasi dengan kebutuhan nyata industri, tidak hanya dari sisi kemampuan teknis, tetapi juga karakter kerja dan kesiapan individu,” ujar Csongor.
“Penempatan individu pada jalur yang tepat harus didukung oleh data yang akurat. Kolaborasi dengan PPVI Kementerian Perindustrian ini menjadi langkah awal dalam membangun pengembangan SDM industri yang lebih terarah dan berbasis kompetensi," sambungnya.
Dari sisi industri, Wakil Ketua Bidang Hubungan Internasional Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO), Didit Ratam, menilai pendekatan ini bisa membantu mempercepat adaptasi tenaga kerja baru.
“Kesesuaian keterampilan dengan kebutuhan industri akan memperpendek learning gap tenaga kerja sejak awal memasuki dunia kerja. Dengan fondasi kompetensi yang tepat, individu akan lebih cepat beradaptasi dan mampu menyelesaikan tugas yang semakin kompleks dan bernilai tambah,” ungkap Didit.