Kaum Mager Ingin Coba Hyrox? Ini Tips Amannya Menurut Dokter
Dua tahun belakangan ini, olahraga hyrox mulai muncul ke permukaan dan langsung menjadi tren baru di kalangan pencinta olahraga lari dan fitnes. Berbagai kelas hyrox pun dibuka di berbagai pusat kebugaran karena meningkatnya permintaan.
Banyak orang yang penasaran dengan olahraga baru ini, ada juga yang merasa tertantang ingin menjajal kemampuannya. Meski begitu, jika kamu sebelumnya masuk dalam kelompok mager alias malas gerak, ketahui dulu tips aman sebelum melakukan hyrox.
Meski perubahan gaya hidup menjadi lebih aktif adalah hal yang positif, transisi mendadak dari tubuh yang jarang berolahraga menjadi sangat aktif, membutuhkan persiapan matang.
Konsultan Senior Ahli Bedah Ortopedi di Mount Elizabeth Hospitals Singapura, dr. Alan Cheung, menegaskan bahwa anatomi manusia membutuhkan fase adaptasi bertahap untuk mencegah terjadinya kerusakan pada persendian maupun otot.
Persiapan mengikuti Hyrox untuk pemula
Mengukur waktu adaptasi dan kemampuan awal
Olahraga hyrox menggabungkan antara kemampuan lari dan 8 station gerakan fungsional. Meski gerakan-gerakan dalam olahraga hyrox sebenarnya tidak sulit, tapi lakukan secara bertahap.
Dibutuhkan latihan konsisten untuk membangun kapasitas paru-paru dan daya tahan ligamen agar tubuh tidak kaget saat menerima beban latihan berat secara bertubi-tubi.
"Dibutuhkan sekitar empat hingga enam bulan, tergantung pada intensitas latihan Anda, untuk merasa bahwa Anda siap melakukan Hyrox," jelas dr. Cheung dalam wawancara eksklusif bersama Kompas.com di Jakarta Pusat, Rabu (3/6/2026).
Kesiapan fisik pada fase ini dapat diukur dari tolok ukur kemampuan lari dasar seseorang. Apalagi jika ingin mengikuti lomba.
"Sekitar 70 persen berupa perlombaan lari, karena Anda harus berlari sejauh delapan kilometer, ditambah zona rintangan di antaranya," ungkap dr. Cheung.
"Jadi jika Anda bisa berlari sepuluh kilometer dengan kecepatan yang stabil, maka Anda bisa melakukannya," ucap dia.
Untuk meminimalisir risiko fisik saat pertama kali mencoba berpartisipasi dalam ajang ekstrem, strategi membagi beban kerja sangat disarankan bagi para amatir.
"Sebaiknya melakukannya dalam tim, baik secara ganda maupun sebagai bagian dari estafet yang terdiri dari empat orang. Karena dengan begitu, Anda berbagi beban dan memiliki waktu untuk pulih," terang dr. Cheung.
Konsultan Senior Ahli Bedah Ortopedi di Mount Elizabeth Hospitals Singapura, dr. Alan Cheung, dalam wawancara eksklusif bersama Kompas.com di Jakarta Pusat, Rabu (3/6/2026).
Penyesuaian rutinitas di luar lapangan
Latihan lari berulang dan gerakan eksplosif dapat menguras cadangan energi tubuh. Itu sebabnya sangat penting melakukan rutinitas yang jauh lebih tenang di sela hari-hari latihan agar sendi dapat beristirahat sejenak.
"Jika Anda memang harus berolahraga setiap hari, cobalah melakukan aktivitas berbeda yang tidak terlalu berdampak tinggi, seperti berenang, bersepeda, yoga, atau pilates di sela-selanya," sambung dia.
Selain asupan nutrisi seimbang, perbaikan jaringan tubuh manusia akan berjalan optimal lewat istirahat malam yang memadai. Karena itu jangan abaikan pentingnya tidur cukup.
"Anda perlu mendapatkan istirahat yang cukup. Jadi idealnya, setidaknya, tujuh atau delapan jam tidur setiap malam. Itu sangat penting untuk pemulihan," kata dr. Cheung.
Orang yang mengabaikan jeda cenderung mengalami kelelahan kronis, yang justru menghambat progresivitas latihan mingguan.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang