Top 5+ Cara Meningkatkan Kualitas Sel Telur pada Perempuan Menurut Dokter
Seiring bertambahnya usia, kualitas sel telur memang dapat menurun secara alami. Hal ini tentunya berpengaruh pada pasangan yang sedang merencanakan memiliki keturunan. Meski demikian, dengan gaya hidup sehat kita bisa membantu meningkatkan kualitas sel telur.
Dokter Spesialis Obstetri dan Ginekologi Eka Hospital PIK, dr. Krisantus Desiderius Jebada, Sp.OG menjelaskan, upaya meningkatkan kualitas sel telur tidak bisa dilakukan secara instan.
Menurutnya, pendekatan yang paling efektif justru dimulai dari perubahan pola hidup secara menyeluruh.
Berikut lima langkah yang bisa dilakukan untuk membantu meningkatkan kualitas sel telur.
5 Langkah meningkatkan kualitas sel telur
1. Menjalani pola hidup sehat secara konsisten
Langkah paling mendasar dalam menjaga kualitas sel telur adalah menerapkan pola hidup sehat secara konsisten.
“Cara untuk meningkatkan sel telur memang sebagian besar itu lebih ke menjalankan pola hidup yang sehat secara keseluruhan,” jelasnya dalam Media Meet Up Eka Hospital PIK & Pluit di Jakarta Selatan, belum lama ini.
Pola hidup sehat bukan sekadar menghindari makanan tidak sehat, tetapi juga mencakup kebiasaan sehari-hari, mulai dari pola tidur yang teratur, aktivitas fisik yang cukup, hingga mengelola stres dengan baik.
Tubuh yang berada dalam kondisi sehat cenderung memiliki keseimbangan hormon reproduksi yang lebih optimal. Hal ini penting karena proses pembentukan dan pematangan sel telur sangat bergantung pada stabilitas hormonal.
Selain itu, paparan rokok, alkohol, serta gaya hidup mager juga dapat mempercepat penurunan kualitas sel telur.
Ilustrasi pasangan
2. Mengatasi penyakit penyerta sejak dini
Masalah kesehatan tertentu dapat memengaruhi kualitas sel telur jika tidak ditangani dengan baik.
“Apalagi jika ada penyakit bawaan, seperti kista atau peradangan, itu sebaiknya dicegah atau diobati dulu,” kata dr. Krisantus.
Kista ovarium, gangguan hormon, hingga peradangan pada organ reproduksi dapat mengganggu proses ovulasi dan memengaruhi kualitas sel telur yang dihasilkan.
Oleh karena itu, perempuan yang memiliki riwayat gangguan reproduksi dianjurkan untuk menjalani pemeriksaan medis sebelum merencanakan kehamilan.
Deteksi dan penanganan dini dapat membantu mencegah kondisi tersebut berkembang lebih serius sekaligus meningkatkan kesiapan tubuh untuk proses pembuahan.
3. Menjaga berat badan tetap ideal
Berat badan memiliki pengaruh besar terhadap kesehatan reproduksi perempuan.
Berat badan yang terlalu rendah maupun berlebih dapat mengganggu keseimbangan hormon estrogen dan progesteron yang berperan penting dalam siklus ovulasi.
Pada perempuan dengan obesitas, risiko gangguan ovulasi cenderung lebih tinggi akibat perubahan sensitivitas insulin dan meningkatnya peradangan dalam tubuh.
Sementara pada perempuan dengan berat badan terlalu rendah, tubuh bisa mengalami gangguan produksi hormon reproduksi sehingga pelepasan sel telur menjadi tidak optimal.
Menjaga berat badan ideal melalui pola makan seimbang dan olahraga teratur dapat membantu menciptakan kondisi hormonal yang lebih stabil.
4. Memenuhi asupan nutrisi
Makanan kaya antioksidan seperti sayuran hijau, buah-buahan, kacang-kacangan, dan biji-bijian membantu melindungi sel tubuh dari kerusakan akibat radikal bebas, termasuk sel telur.
Selain itu, asupan protein berkualitas, lemak sehat, asam folat, vitamin D, dan zat besi juga berkontribusi terhadap kesehatan reproduksi.
Mengurangi konsumsi makanan ultra-proses, gula berlebih, dan lemak trans juga penting untuk menjaga keseimbangan metabolisme tubuh.
Nutrisi yang tepat membantu menciptakan lingkungan biologis yang lebih baik bagi perkembangan sel telur.
5. Rutin memeriksa kesehatan reproduksi
Langkah terakhir yang tak kalah penting adalah melakukan pemeriksaan kesehatan reproduksi secara berkala.
Banyak perempuan baru menyadari adanya gangguan kesuburan ketika sudah mengalami kesulitan hamil. Padahal, evaluasi kesehatan reproduksi sejak awal dapat membantu mendeteksi potensi masalah lebih cepat.
Pemeriksaan medis memungkinkan dokter menilai kondisi ovarium, keseimbangan hormon, serta mendeteksi gangguan yang mungkin memengaruhi kualitas sel telur.
Dengan pemantauan yang tepat, perempuan dapat mengambil langkah preventif lebih dini untuk menjaga kesuburan.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang