Cara Memanaskan Rendang yang Aman Saat Lebaran Menurut Dokter
- Hidangan khas Lebaran seperti rendang sering dimasak dalam porsi besar.
Tak jarang, menu ini masih tersisa banyak dan disimpan untuk dikonsumsi kembali hingga 1-2 minggu ke depan dengan cara dipanaskan berulang kali.
Namun, apakah kebiasaan memanaskan rendang tiga kali sehari setiap sebelum dikonsumsi untuk sarapan, makan siang, dan makan malam, bisa merusak kualitas nutrisinya?
"Jadi, (yang merusak kualitas nutrisinnya) lebih ke proses penyimpanannya," ujar dr. Firisha Virgidewi Witjaksono, Sp.GK dalam sebuah acara diskusi kesehatan bersama Siloam Hospitals Mampang di Jakarta Selatan, Selasa (10/3/2026).
Untuk jenis makanan yang mengandung protein tinggi dan santan seperti rendang, permasalahan bukan pada berapa kali hidangan dipanaskan dalam sehari, tetapi perubahan suhu yang ekstrem bisa memengaruhi kandungan zat gizinya.
Terapkan metode porsi sekali makan saat memanaskan
Kandungan protein dalam daging bisa tahan cukup lama meskipun dipanaskan berkali-kali dalam sehari. Hanya, daging sebaiknya disimpan dan dipanaskan dengan cara yang tepat.
Dokter Sasha menyarankan, agar masyarakat lebih bijak dalam mengambil porsi yang akan dikonsumsi. Strategi ini penting agar lauk tidak mengalami perubahan suhu yang berulang-ulang dari kulkas ke kompor.
"Lebih baik memanaskanya jangan skala besar, tapi apa yang mau kita makan saja," ujar dia.
Sebagai contoh, satu wajan rendang bisa dibagi ke beberapa kotak makan berukuran 10 cm x 10 cm untuk tiga kali makan dua orang dewasa. Masing-masing kotak berisi enam daging.
Jadi, setiap hari kamu hanya mengeluarkan sekotak rendang untuk dihangatkan sepanjang hari.
"Jadi biar si lauknya ini enggak bolak-balik masuk kulkas, terus dipanasin, terus masuk kulkas lagi. Bijaknya kita ambil porsi sesuai yang kita mau makan, baru dipanaskan," jelas dr. Sasha.
Jangan langsung masukkan makanan panas ke kulkas
Meskipun rendang sudah dibagi ke beberapa kotak makan, tidak selalu sekotak rendang langsung habis sesuai rencana. Alhasil, kemungkinan rendang kembali dimasukkan ke dalam kulkas.
Kata dr. Sasha, inilah hal lain yang perlu diperhatikan dalam keamanan pangan seperti daging rendang, yaitu proses transisi suhu. Ia menyoroti kesalahan umum saat menyimpan makanan yang baru saja dipanaskan ke dalam kulkas.
"Yang panas ini disimpannya jangan langsung dimasukin ke dalam kulkas. Jadi lebih ke proses penyimpanannya yang jangan terlalu memengaruhi perubahan suhu yang drastis. Dinginkan dulu sampai menuju suhu ruang baru masukin ke kulkas," ungkap dr. Sasha.
Menaruh makanan panas langsung ke kulkas dapat memicu pertumbuhan bakteri, karena suhu di dalam kulkas akan meningkat sementara, sehingga menciptakan lingkungan lembap yang disukai mikroorganisme.
Dokter Sasha menambahkan, bahwa perbedaan suhu yang terlalu ekstrem, seperti saat memanaskan daging rendang yang masih dingin, juga berisiko merusak struktur zat gizi di dalamnya.
Catatan untuk menu sayuran
Apabila ada olahan daging lain yang dikombinasikan dengan sayuran saat Lebaran, dr. Sasha menuturkan bahwa kandungan gizi pada sayuran rentan rusak jika dipanaskan kembali. Jadi, tidak semua jenis makanan memiliki ketahanan yang sama terhadap panas.
"Justru yang agak cepat (rusak kandungan gizinya) dan enggak boleh terlalu sering dipanaskan adalah sayuran. Jadi kalau punya sayuran, memang sebaiknya tidak dipanaskan lagi," ujar dr. Sasha.
Melansir situs web Ayo Sehat yang dikelola oleh Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI), Jumat (13/3/2026), sayuran yang mengandung nitrat seperti bayam dan seledri sebaiknya tidak dipanaskan berulang kali karena dapat mengubah senyawa nitrat menjadi nitrit yang bersifat karsinogenik atau pemicu kanker.
Jika tetap ingin disimpan dan dipanaskan, ada baiknya sayuran dipisah dari daging supaya sayuran masih bermanfaat untuk dikonsumsi, bukan sekadar membuat kenyang perut.
Lalu, meskipun rendang bisa dipanaskan berkali-kali sepanjang hari, tetap perhatikan tanda-tanda seperti aroma, tekstur bumbu, dan rasa, untuk memastikan apakah masih aman untuk dikonsumsi atau tidak.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang