Saat Anak Muda Berebut Jadi Konten Kreator, Profesi Ini Justru Banyak Diburu
Di tengah menjamurnya profesi konten kreator, influencer, hingga pekerja ekonomi digital, sejumlah sektor konvensional mulai menghadapi tantangan regenerasi sumber daya manusia. Salah satunya adalah sektor perkebunan yang selama puluhan tahun menjadi salah satu penopang ekonomi RI.
Perubahan preferensi karier generasi muda membuat banyak industri harus beradaptasi untuk menarik minat tenaga kerja baru. Tidak sedikit anak muda yang lebih tertarik bekerja di sektor teknologi, kreatif, maupun startup dibandingkan bidang agrikultur dan perkebunan yang kerap dianggap kurang menarik.
Padahal, sektor perkebunan masih memiliki kontribusi besar terhadap perekonomian nasional, baik dari sisi penyerapan tenaga kerja maupun aktivitas ekonomi di daerah. Tantangannya kini bukan hanya meningkatkan produktivitas, tetapi juga memastikan adanya regenerasi pekerja dan profesional yang akan mengelola industri tersebut di masa depan.
Berikut sejumlah faktor yang membuat sektor perkebunan membutuhkan lebih banyak talenta muda, sebagaimana dihimpun Viva pada Jumat, 5 Juni 2026.
1. Minat Generasi Muda Cenderung Bergeser ke Profesi Digital
Perkembangan media sosial dan ekonomi kreatif membuat banyak anak muda memiliki pilihan karier yang lebih beragam dibanding generasi sebelumnya. Profesi seperti konten kreator, streamer, hingga digital marketer kini menjadi tujuan karier yang populer.
Akibatnya, sektor-sektor tradisional seperti pertanian dan perkebunan harus bekerja lebih keras untuk memperkenalkan peluang yang tersedia kepada generasi muda.
2. Masih Ada Anggapan Perkebunan Hanya Soal Kerja di Lapangan
Salah satu tantangan yang dihadapi sektor perkebunan adalah persepsi masyarakat. Banyak orang masih menganggap industri ini hanya berkaitan dengan aktivitas di kebun. Padahal, kebutuhan tenaga kerja di sektor ini cukup beragam, mulai dari bidang riset, teknologi, pengolahan hasil, manajemen rantai pasok, hingga keberlanjutan lingkungan.
3. Literasi Mengenai Industri Perkebunan Masih Terbatas
Rendahnya minat generasi muda juga dipengaruhi oleh minimnya pemahaman mengenai peran industri perkebunan dalam kehidupan sehari-hari. Karena itu, sejumlah lembaga mulai melakukan program edukasi untuk memperkenalkan sektor tersebut sejak usia sekolah.
Salah satunya dilakukan BPDP melalui kegiatan edukasi di SD Negeri 29 Dangin Puri, Denpasar, Bali, yang diikuti ratusan siswa, guru, dan karyawan sekolah. Dalam kegiatan tersebut, Kepala Divisi Kerja Sama dan Kelembagaan BPDP, Aida Fitria, mengatakan produk perkebunan, khususnya sawit, sebenarnya dekat dengan kehidupan masyarakat.
"Kelapa sawit memiliki peran yang sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari masyarakat melalui berbagai produk turunannya, mulai dari kebutuhan rumah tangga, makanan, kosmetik, hingga bahan bakar biodiesel," ujarnya.
Selain itu, kelapa sawit juga merupakan komoditas strategis nasional yang berkontribusi terhadap penciptaan lapangan kerja, pembangunan daerah, dan menjadi sumber penghidupan bagi jutaan masyarakat Indonesia, khususnya petani.
4. Regenerasi Menjadi Tantangan Jangka Panjang
Seperti sektor agrikultur lainnya, perkebunan membutuhkan regenerasi tenaga kerja agar aktivitas produksi dan pengembangan industri dapat terus berjalan. Tanpa masuknya tenaga kerja baru yang memiliki keterampilan dan pengetahuan yang memadai, sektor ini berpotensi menghadapi kesenjangan SDM pada masa mendatang.
5. Kebutuhan Talenta Akan Semakin Beragam
Transformasi teknologi juga mulai menyentuh sektor perkebunan. Penggunaan data, mekanisasi, hingga inovasi berbasis teknologi membuat kebutuhan SDM tidak lagi terbatas pada pekerjaan konvensional. Hal ini membuka peluang bagi generasi muda dengan latar belakang yang beragam untuk terlibat dalam industri perkebunan, mulai dari bidang teknologi hingga riset.
Meski belum sepopuler profesi di sektor digital, kebutuhan talenta di industri perkebunan diperkirakan akan tetap tinggi dalam beberapa tahun ke depan. Tantangannya adalah bagaimana memperkenalkan sektor tersebut kepada generasi muda agar mereka melihatnya sebagai salah satu pilihan karier yang relevan di masa depan.