Kisah Mira Sumanti Gagal Menikah, Bangkit Lewat Dating App hingga Menemukan Jati Diri
Lima minggu sebelum hari yang seharusnya menjadi salah satu momen paling bahagia dalam hidupnya, Mira Sumanti justru harus menerima kenyataan pahit. Pernikahan yang telah direncanakan berbulan-bulan batal terlaksana.
Semua persiapan sudah hampir rampung. Vendor telah dibayar, tamu dari luar negeri sudah memesan tiket pesawat, dan Bali telah dipilih sebagai lokasi untuk mengikat janji seumur hidup.
Namun, mimpi yang selama ini dibangun bersama pasangan mendadak runtuh.
Di tengah rasa kehilangan, kecewa, dan kebingungan yang datang bersamaan, Mira tidak hanya berusaha menyembuhkan luka akibat gagal menikah. Ia juga menjalani perjalanan panjang untuk memahami dirinya sendiri.
Perjalanan itulah yang kemudian ia tuangkan dalam buku Swipe Therapy, sebuah kisah tentang proses bangkit dari patah hati melalui pengalaman berkencan di aplikasi daring, bertemu orang-orang baru, hingga menemukan perspektif yang berbeda tentang cinta dan kehidupan.
Cerita Mira Sumanti bangkit dari gagal nikah hingga healing lewat dating app
Ketika karier membawa hubungan ke ujian besar
Penulis Buku Swipe Therapy, Mira Sumanti.
Jauh sebelum pernikahan itu batal, Mira menjalani kehidupan di Belanda. Ia menempuh pendidikan, bekerja, sekaligus menjalin hubungan serius dengan pria asal Belanda selama sekitar 3,5 tahun.
Hubungan tersebut bahkan telah memasuki tahap pertunangan dan keduanya sepakat untuk menikah. Namun, sebuah tawaran pekerjaan dari Jakarta datang pada saat yang tidak terduga.
"Awalnya aku tinggal di Belanda, kuliah dan kerja di sana. Lalu aku ditawarkan pekerjaan di Jakarta dan aku ambil tawaran itu," jelas Mira saat ditemui Kompas.com di Jakarta Selatan, Jumat (29/5/2026).
Keputusan untuk pulang ke Indonesia tidak sepenuhnya mudah. Di satu sisi, ada kesempatan karier yang menjanjikan. Di sisi lain, ada hubungan yang sedang menuju jenjang pernikahan.
"Waktu itu aku sudah bertunangan dengan orang Belanda dan aku bilang mau kembali ke Jakarta untuk ambil tawaran itu. Tapi, gara-gara offer pekerjaan itu, somehow hubungan aku juga berantakan," katanya.
Saat itu usianya masih 27 tahun. Ia mengaku masih memiliki ambisi besar untuk membangun karier dan mengejar berbagai kesempatan yang datang.
Sang tunangan memilih mendukung keputusan tersebut. Ia bahkan rela meninggalkan pekerjaannya di Belanda dan ikut pindah ke Jakarta demi mempertahankan hubungan mereka.
"Aku melihat keputusannya sangat suportif pada waktu itu," ujar Mira.
Namun, kehidupan baru yang mereka bayangkan ternyata tidak berjalan mulus.
Lima minggu sebelum pernikahan, semua berubah
Penulis Buku Swipe Therapy, Mira Sumanti.
Jakarta menjadi tantangan besar bagi sang tunangan. Kesulitan mendapatkan pekerjaan dan culture shock membuat proses adaptasi berlangsung berat.
Pada saat yang sama, Mira juga tengah sibuk menyesuaikan diri dengan pekerjaan barunya di dunia teknologi.
Perlahan, tekanan demi tekanan mulai memengaruhi hubungan mereka. Hingga akhirnya, sesuatu yang tidak pernah dibayangkan terjadi.
"Akhirnya mantan tunangan aku itu kabur 5 minggu sebelum hari pernikahan kami. Pada saat itu hancur banget, kami seharusnya nikah di Bali dan semuanya sudah direncanakan dengan baik, sudah dibayar," ungkap Mira.
Bukan hanya hubungan yang berakhir. Bersamaan dengan itu, Mira harus menghadapi kenyataan bahwa seluruh rencana pernikahan yang telah disusun dengan detail juga ikut ambruk.
Satu per satu vendor harus dihubungi untuk mengabarkan pembatalan acara. Sebagian besar biaya yang telah dibayarkan tidak bisa dikembalikan.
Tak cuma itu, ia pun harus memberitahu seluruh keluarga dan tamu undangan bahwa pernikahannya dibatalkan. Tentu, hal ini bukanlah kondisi yang mudah untuk dihadapi.
Di saat yang sama, teman-temannya dari Belanda telah memesan tiket pesawat dan mengambil cuti untuk menghadiri hari bahagianya.
Alih-alih tenggelam dalam kesedihan, Mira mengambil keputusan yang tidak biasa.
"Akhirnya aku beranikan diri untuk tetap ke Bali dan di hari yang seharusnya aku menikah, aku bikin wedding cancellation party di Bali. Idenya ingin membalikan hari yang harusnya sedih banget, tapi jadi momen positif bersama sahabat," tuturnya.
Di tengah luka yang masih terasa segar, ia berusaha mengubah hari yang seharusnya dipenuhi air mata menjadi ruang untuk merayakan dukungan dari orang-orang terdekatnya.
Mencari distraksi hingga menemukan proses healing
Penulis Buku Swipe Therapy, Mira Sumanti saat ditemui Kompas.com di Jakarta Selatan, Jumat (29/5/2026).
Beberapa minggu setelah hubungan itu berakhir, Mira membuat keputusan spontan yang bahkan tidak pernah ia rencanakan sebelumnya.
Ia mengunduh aplikasi kencan. Saat itu sekitar tahun 2016, ketika Tinder menjadi salah satu aplikasi kencan yang paling populer.
"Sejujurnya aku enggak tahu kenapa aku memutuskan ke dating app, tapi pada saat itu aku hanya butuh distraksi dari kegagalan nikah. Aku enggak mau diem doang mikirin apa yang sudah terjadi sama aku," terang dia.
Apa yang awalnya hanya menjadi pelarian sementara, justru berubah menjadi perjalanan mengenal diri sendiri lebih dalam.
"Di sinilah aku mulai perjalanan swipe therapy atau healing journey, bertemu berbagai macam tipe orang yang membantu mengenal diriku, mengajarkan aku banyak hal, dan enggak selalu berujung jadi relasi romantis," ujarnya.
Dari percakapan-percakapan sederhana dengan orang asing, Mira menemukan sudut pandang baru tentang dirinya, tentang hubungan, dan tentang cara menghadapi kegagalan.
Ia bahkan menemukan teman-teman yang bersedia mendengarkan tanpa menghakimi.
"Ternyata aku butuh cerita juga ke orang yang tidak tahu background aku," tutur Mira.
Menulis luka menjadi sebuah buku
Penulis Buku Swipe Therapy, Mira Sumanti.
Meski terlihat perlahan bangkit, proses pemulihan yang dijalani Mira tidak selalu mudah. Ada masa ketika ia kesulitan tidur selama berhari-hari dan merasa kewalahan menghadapi emosinya sendiri.
Karena itu, ia memutuskan mencari bantuan profesional untuk membantunya mengelola kondisi emosionalnya lebih baik.
"Proses healing aku ini juga disertai sama bantuan psikiater, karena ada momen aku enggak bisa tidur berhari-hari dan aku ngerasa butuh bantuan profesional, bahkan sampai dibantu obat-obatan untuk lebih calm," ujarnya.
Selama sekitar sembilan bulan, ia menjalani pendampingan intensif hingga merasa kondisinya berangsur membaik.
Di tengah proses tersebut, Mira rutin menulis jurnal. Halaman demi halaman berisi catatan tentang perasaan, pertemuan, dan pelajaran hidup yang ia dapatkan setelah gagal menikah.
Catatan itulah yang kemudian berkembang menjadi buku Swipe Therapy.
"Buku ini menggambarkan perjalanan aku menyusuri dating app, yang justu membantu aku mengenal diri sendiri lebih baik, bahkan juga menemukan platonic relationship," ujarnya.
Bagi Mira, aplikasi kencan pada akhirnya bukan sekadar tempat mencari pasangan. Pengalaman itu justru membantunya memahami bahwa setiap orang membawa cerita, luka, dan perjalanan hidup masing-masing.
"Orang yang kita swipe itu real human dengan cerita, luka, masa lalunya masing-masing. Jangan memperlakukan orang lain secara buruk, perlakukanlah sebagaimana kamu ingin diperlakukan," tutup Mira.
Pada akhirnya, perjalanan yang bermula dari kegagalan menikah itu membawa Mira pada penemuan yang tidak pernah ia duga sebelumnya, yaitu menemukan kembali dirinya sendiri.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang