Selalu Terlihat Baik-Baik Saja, Tapi Banyak Gen Z Alami 5 Masalah Mental Ini
Banyak generasi Z (gen z) menjalani hari-hari mereka sambil menyeimbangkan berbagai tekanan seperti harus tetap bersosialisasi, berprestasi secara akademis, dan membangun karier yang bagus. Tak jarang muncul perasaan bahwa jika mereka berhenti sejenak, mereka akan tertinggal.
Padahal, menjaga kesehatan mental bukan berarti harus selalu terlihat kuat atau terus mengejar pencapaian. Hal yang terpenting adalah menemukan cara-cara yang mendukung kesejahteraan diri tanpa diam-diam menguras energi dan emosi.
Seorang konselor kesehatan mental yang juga pendiri UnFix Your Feelings, Aanandita Vaghani mengatakan bahwa ada sejumlah masalah kesehatan mental yang cukup sering ia temui pada gen Z. Apa saja? Berikut ini beberapa tantangan kesehatan mental yang banyak dihadapi generasi ini, sekaligus cara menyikapinya seperti melansir laman Hindustan Times, Minggu 18 Januari 2026.
1. Tekanan media sosial dan kebiasaan membandingkan diri
Diungkap Aanandita dalam sesi tanya jawabnya dengan Gen Z, diketahui media sosial hampir selalu muncul saat membahas harga diri. Banyak dari mereka sadar bahwa konten di media sosial sudah dipilih dan disusun sedemikian rupa, tetapi tetap saja perbandingan dengan orang lain memengaruhi emosi mereka.
Setelah berselancar di media sosial, mereka kerap merasa tertinggal, tidak cukup baik, atau cemas. Bahkan, ia sering melihat hubungan langsung antara unggahan tertentu dengan meningkatnya kecemasan, masalah citra tubuh, serta rasa takut ketinggalan momen (FOMO).
Dalam terapi, fokusnya adalah membantu mereka memahami bagaimana media sosial memengaruhi suasana hati.
“Saya mendorong mereka untuk mengambil jeda dengan sadar dari gawai dan mengikuti akun-akun yang menyajikan pesan lebih realistis dan sesuai nilai hidup,” jelasnya.
Tujuannya bukan berhenti total dari media sosial, melainkan kembali memegang kendali agar penggunaannya lebih bijak dan tidak merusak rasa percaya diri.
2. Tekanan akademik dan karier
Banyak Gen Z merasa harus sukses sejak dini dan terlihat berhasil di mata orang lain. Mereka datang ke terapi dalam kondisi lelah secara mental akibat sekolah, atau takut satu pilihan karier yang keliru bisa menghancurkan masa depan. Tekanan ini diperparah oleh ketidakpastian ekonomi, sehingga kegagalan terasa jauh lebih menakutkan dibandingkan sebagai kesempatan belajar.
Dalam terapi, keberhasilan dipandang sebagai proses, bukan tujuan mutlak. Sasaran yang realistis dan fleksibel ditetapkan, serta nilai diri dipisahkan dari produktivitas. Pendampingan, pengembangan keterampilan, dan rasa ingin tahu dinilai jauh lebih membantu daripada mengejar kesempurnaan atau validasi dari orang lain.
3. Rasa kesepian dan terisolasi
Banyak anak muda mengaku merasa kesepian, meski mereka aktif di dunia digital dan punya kehidupan sosial. Mereka sering kesulitan mengungkapkan perasaan atau meminta bantuan karena takut merepotkan orang lain.
Meski koneksi digital bisa membantu, hubungan semacam ini sering kali kurang memiliki kedalaman emosional. Terapi bertujuan membantu membangun hubungan yang lebih aman dan bermakna, dengan cara melatih komunikasi emosi, menetapkan batasan yang sehat, serta mendorong interaksi tatap muka jika memungkinkan. Seiring waktu, mereka belajar bahwa kedekatan sejati lahir dari kehadiran yang utuh, bukan sekadar berada di tempat yang sama.
4. Kecemasan dan depresi
Tingkat kecemasan dan gejala depresi pada Gen Z tergolong tinggi. Hal ini sering berkaitan dengan tekanan global seperti kecemasan terhadap perubahan iklim, ketidakstabilan politik, dan ketidakpastian masa depan. Banyak dari mereka menyimpan kesedihan yang tak terucap atas dunia yang terasa semakin tidak pasti dan melelahkan.
Dalam terapi, emosi-emosi tersebut dinormalkan sebagai respons wajar terhadap stres berkepanjangan. Klien diberi ruang untuk memproses rasa takut dan sedih tanpa diremehkan, sekaligus membangun strategi coping yang bisa diterapkan dalam jangka panjang. Dukungan dari teman sebaya dan percakapan terbuka soal kesehatan mental juga membantu mengurangi rasa terisolasi dan stigma.
5. Burnout dan overstimulasi
Burnout dan overstimulasi adalah tantangan besar yang sering saya lihat pada Gen Z, kata Vaghani. Budaya serba aktif dengan notifikasi tanpa henti, arus berita terus-menerus, dan tuntutan multitasking membuat sistem saraf jarang benar-benar beristirahat.
Banyak yang merasa kelelahan, tetapi tetap merasa bersalah saat mencoba beristirahat. Dalam terapi, mereka dibantu untuk menetapkan batasan dengan teknologi, menjadwalkan waktu istirahat secara sengaja, serta mempraktikkan mindfulness dengan cara yang realistis dan mudah diterapkan. Mengenali tanda-tanda awal kelelahan membantu seseorang mengambil langkah sebelum burnout benar-benar terjadi.
Bagaimana terapi membantu mengelola emosi?
Terapi menyediakan ruang aman untuk belajar mengatur emosi, menerima ketidakpastian, mendefinisikan ulang makna kesuksesan, dan kembali terhubung dengan diri sendiri demi kesehatan mental jangka panjang.
“Dengan dukungan yang tepat, Gen Z menunjukkan pemahaman yang luar biasa dan kemauan besar untuk peduli pada kesehatan emosional mereka. Bahkan, mereka sering menjadi pelopor dalam mengubah cara kita memandang kesehatan mental saat ini,” kata Vaghani.