Netanyahu Tiba-Tiba Hubungi MBZ, 'Sinyal' Apa yang Dikirim Israel ke UEA?
Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu dilaporkan menghubungi Presiden Uni Emirat Arab (UEA), Mohammed bin Zayed al-Nahyan (MBZ) menyusul dengan serangan di Pelabuhan Fujairah. Berdasarkan laporan dari kantor berita resmi WAM, Rabu Waktu setempat, dalam panggilan tersebut Netanyahu menegaskan tentang solidaritas Israel terhadap UEA.
Tak hanya MBZ, dalam persidangan di Tel Aviv pada Selasa waktu setempat, Netanyahu juga mengungkap dalam waktu 24 jam terakhir dirinya sempat berbicara dengan empat pemimpin dunia termasuk sejumlah pemimpin Arab yang tak bisa disebutkan Namanya.
"Saya berbicara dengan Trump, dengan Perdana Menteri Ceko, dan juga dengan para pemimpin Arab yang tidak bisa saya sebutkan," kata Netanyahu dikutip dari laman presstv.ir, Kamis 7 Mei 2026.
Terungkapnya percakapan antara Netanyahu dan Mohammed bin Zayed ini muncul di tengah laporan media Barat yang mengungkap detail baru soal hubungan keamanan dan militer antara Israel dan Abu Dhabi.
CNN, mengutip sumber anonim, melaporkan bahwa sistem pelacakan milik Israel yang ditempatkan di UEA turut berperan dalam upaya mencegat rudal.
Laporan tersebut juga dikonfirmasi oleh Channel 12 Israel, yang menyebut adanya pendalaman aliansi strategis antara Abu Dhabi dan Tel Aviv yang mengarah pada kerja sama operasional di lapangan.
Sebelumnya, Financial Times juga melaporkan bahwa Israel telah memasok sistem persenjataan canggih serta intelijen penting kepada UEA untuk menghadapi potensi ancaman Iran.
Channel 12 Israel juga menyebut bahwa UEA kini tidak lagi berupaya menyembunyikan hubungan mereka dengan Israel dan secara terbuka memperdalam aliansi strategis tersebut.
Menurut laporan itu, Abu Dhabi memilih memperluas kerja sama hingga mencakup operasi di lapangan, dan kini disebut sebagai mitra Arab terdekat Israel saat ini.
Penempatan sistem pertahanan Israel di UEA serta komunikasi langsung antara Netanyahu dan Mohammed bin Zayed dinilai memperlihatkan secara jelas bentuk normalisasi hubungan antara Abu Dhabi dan Tel Aviv.
Hubungan UEA dan Israel kini disebut telah melampaui normalisasi diplomatik, mencakup kerja sama militer di lapangan, pertukaran intelijen keamanan, hingga kehadiran langsung infrastruktur militer Israel di wilayah negara Arab.
UEA dan Israel menandatangani perjanjian normalisasi pada 2020 dalam sebuah upacara di Gedung Putih yang dipimpin Presiden AS saat itu, Donald Trump.
Isi “Abraham Accords” dan lampirannya mencakup kerja sama secara luas di bidang politik, ekonomi, dan keamanan antara Abu Dhabi dan Tel Aviv, namun tidak memuat komitmen Israel untuk menghentikan atau menangguhkan rencana aneksasi dan pembangunan permukiman di wilayah Palestina yang diduduki.
Israel disebut terus melanjutkan operasi militernya di Gaza yang menyebabkan kerusakan luas pada infrastruktur sipil dan korban di kalangan warga, serta terus memperluas permukiman di Tepi Barat.
Menurut laporan tersebut, opini publik di dunia Arab dan Islam menilai hubungan ini bukan sebagai perdamaian, melainkan aliansi dengan pihak pendudukan di tengah puncak pelanggaran yang dilakukan.
Iran pun menyerukan agar UEA menghentikan kerja sama dan keberpihakannya dengan pihak-pihak yang dianggap bermusuhan terhadap Republik Islam tersebut, seraya menegaskan bahwa mereka berhak memberikan respons setimpal.
Kementerian Luar Negeri Iran menyatakan bahwa selain berkontribusi dalam agresi terhadap Iran, keberadaan pangkalan dan peralatan militer pihak lawan di wilayah UEA dapat membawa dampak berbahaya bagi perdamaian dan stabilitas kawasan.
Kemlu Iran juga mengecam tuduhan UEA yang menyebut Iran menargetkan negara tersebut, dengan menegaskan bahwa tindakan balasan Iran hanya ditujukan pada target yang dianggap bermusuhan di wilayah Timur Tengah.
UEA bersama sejumlah negara kawasan lain seperti Bahrain, Qatar, Arab Saudi, Kuwait, dan Yordania disebut turut membuka wilayah mereka sebagai basis peluncuran serangan ke Iran selama periode konflik yang berlangsung dari 28 Februari hingga 7 April lalu.
Sebagai balasan, Iran meluncurkan serangkaian serangan terhadap target strategis Amerika Serikat dan Israel di berbagai wilayah.
Serangan balasan tersebut juga menyasar fasilitas milik Amerika di negara-negara tersebut yang dianggap berperan penting dalam mendukung agresi.