Di Balik Klaim Damai AS-Iran, Netanyahu Dikabarkan Kaget dan Langsung Bahas Isu Ini
Presiden Amerika Serikat Donald Trump membatalkan rencana serangan terhadap Iran pada Kamis malam. Trump menyebut pembatalan serangan ini lantaran kedua negara tersebut telah bersepakat untuk mengakhiri konflik.
Pada Kamis, ia kembali membatalkan rencana serangan dan menyatakan bahwa kesepakatan sudah dekat setelah mediator Qatar dan negosiator Iran mencapai rancangan yang mereka anggap dapat diterima, menurut laporan Axios.
“Berdasarkan fakta bahwa pembahasan dengan Republik Islam Iran telah dibawa ke tingkat kepemimpinan tertinggi Iran dan telah mendapatkan persetujuan, saya, sebagai Presiden Amerika Serikat, membatalkan serangan dan pemboman yang dijadwalkan terhadap Iran malam ini," tulis Trump dikutip dari laman Times of Israel, Jumat 12 Juni 2026.
Ia menambahkan bahwa pembahasan dan poin-poin akhir, baik secara konseptual maupun dalam rincian yang mendalam, telah disetujui oleh semua pihak yang terlibat, termasuk Amerika Serikat, Israel, Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Qatar, Turki, Pakistan, Bahrain, Kuwait, Yordania, Mesir, dan lainnya.
Sementara itu, media AS, Axio melaporkan bahwa Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu tidak diberi pemberitahuan terlebih dahulu mengenai pengumuman Trump, sehingga kabar itu mengejutkannya.
Namun di sisi lain, kantor perdana menteri Israel telah memberi pernyataan yang berupaya meredan kesan pentingnya kesepakatan itu. Dalam pernyataannya, kantor Netanyahu mengonfirmasi bahwa sang perdana menteri telah berbicara melalui telepon dengan Trump mengenai nota kesepahaman yang sedang berkembang dengan Iran terkait dimulainya negosiasi.
Menurut pernyataan kantornya, Netanyahu menyampaikan pandangan yang optimistis dalam percakapan tersebut.
"Meskipun Israel bukan pihak dalam nota kesepahaman itu, perdana menteri menyampaikan apresiasinya atas komitmen Presiden Trump bahwa kesepakatan akhir yang dicapai setelah negosiasi selesai akan mencakup penghapusan material yang telah diperkaya, pembongkaran infrastruktur pengayaan, pembatasan produksi rudal, serta penghentian dukungan Iran terhadap kelompok-kelompok proksi teroris di kawasan," kata dia.