Warga Mulai Menjerit, Harga Burger hingga Kopi Naik Imbas Krisis Global
Tekanan inflasi pangan di Amerika Serikat masih belum mereda. Harga berbagai bahan makanan mulai dari daging sapi, kopi, hingga tomat dilaporkan mengalami kenaikan signifikan dalam beberapa bulan terakhir.
Hal ini membuat konsumen harus merogoh kocek lebih dalam saat berbelanja maupun makan di luar rumah.
Data Consumer Price Index (CPI) AS menunjukkan harga makanan pada April 2026 naik 0,5 persen dibanding bulan sebelumnya dan melonjak 3,2 persen secara tahunan. Kenaikan ini terjadi di tengah tekanan biaya energi, gangguan rantai pasok, hingga konflik geopolitik global yang berdampak pada sektor pangan.
Sejumlah CEO perusahaan makanan dan restoran besar di Amerika bahkan mulai angkat bicara mengenai lonjakan biaya bahan baku yang mereka hadapi. Mereka menilai tekanan harga belum akan sepenuhnya hilang dalam waktu dekat.
Salah satu komoditas yang paling terdampak adalah daging sapi. Berdasarkan data Bureau of Labor Statistics, harga daging sapi giling mentah naik sekitar 15 persen dibanding tahun lalu dan menyentuh rekor baru sebesar US$6,90 per pon.
Chief Financial Officer McDonald’s, Ian Borden, mengatakan tekanan harga daging sapi masih terus berlangsung. Menurut dia, perusahaan kini berupaya bekerja sama dengan pemasok untuk menghadapi lonjakan biaya tersebut.
“Tidak diragukan lagi masih ada tekanan pada komoditas seperti daging sapi,” ujar Borden, sebagaimana dikutip dari Yahoo Finance, Rabu, 20 Mei 2026.
CEO McDonald’s Chris Kempczinski menambahkan ketika harga daging sapi terlalu mahal, konsumen cenderung beralih ke menu ayam yang dianggap lebih ekonomis.
Tak hanya McDonald’s, perusahaan induk Burger King yakni Restaurant Brands International juga mengakui inflasi harga daging sapi masih tinggi tahun ini. CFO Restaurant Brands International Sami Siddiqui menyebut kondisi tersebut merupakan bagian dari siklus industri peternakan.
Sementara itu, Chipotle mengungkap biaya makanan, minuman, dan kemasan mereka meningkat menjadi 29,6 persen dari total pendapatan pada kuartal pertama 2026. Perusahaan bahkan sudah menaikkan harga menu sekitar 1 persen untuk menyesuaikan biaya operasional.
Selain daging, harga kopi juga mengalami kenaikan tajam. Data CPI menunjukkan harga kopi naik 18,5 persen dibanding tahun lalu dan meningkat 2 persen dibanding bulan sebelumnya.
Kondisi ini membuat sejumlah jaringan kopi besar mulai mencari strategi agar konsumen tidak terlalu terbebani. CEO Dutch Bros Christine Barone mengatakan perusahaan masih mencoba menyerap sebagian besar kenaikan biaya kopi sambil menunggu pasokan dari Brasil dan Vietnam kembali stabil.
“Kami percaya harga kopi yang saat ini sangat tinggi kemungkinan hanya bersifat sementara,” kata Barone.
Starbucks juga memperkirakan tekanan harga kopi dan tarif impor akan mulai mereda pada paruh kedua tahun fiskal 2026. Meski begitu, perusahaan belum memastikan apakah akan menaikkan harga produk dalam waktu dekat.
Tak berhenti di situ, harga sayur dan buah di AS juga ikut melonjak. Harga tomat tercatat naik hingga 40 persen dibanding tahun sebelumnya akibat cuaca dingin di Florida yang mengganggu produksi.
Ekonom pertanian Wells Fargo, Michael Swanson, mengatakan pasokan tomat yang lebih sedikit membuat produsen bisa menaikkan harga dengan mudah karena permintaan pasar tetap tinggi. “Anda tetap berharap ada tomat di dalam sandwich yang dibeli, berapa pun harganya,” ujar Swanson.
Di sisi lain, produsen nanas Fresh Del Monte Produce memperingatkan harga pangan masih berpotensi naik lebih tinggi pada akhir tahun. CEO Fresh Del Monte Mohammad Abu-Ghazaleh mengatakan konflik di Timur Tengah telah memicu gangguan besar pada energi, pupuk, kemasan, hingga transportasi pangan global.
“Tidak ada bagian dari sektor pertanian yang tidak bergantung pada energi,” kata Abu-Ghazaleh. Ia menjelaskan, biaya produksi yang meningkat saat ini baru akan terasa dampaknya terhadap harga pangan dalam beberapa bulan mendatang, terutama untuk komoditas dengan siklus tanam panjang seperti nanas.