Harga Kebutuhan Pokok Bisa Naik Imbas Perang, Begini Penjelasannya

Ilustrasi minimarket.
Ilustrasi minimarket.

Perang yang melibatkan Iran, Israel dan Amerika Serikat, disebut-sebut mulai memberikan dampak nyata terhadap isi isi dompet dan gairah belanja masyarakat. Bagaimana tidak, mulai dari harga produk makanan hingga barang kebutuhan sehari-hari, dilaporkan naik. 

Kenaikan harga energi akibat konflik tersebut memicu efek berantai pada rantai pasok global. Biaya produksi meningkat karena bahan baku seperti plastik dan bahan kimia menjadi lebih mahal. 

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Dampaknya, harga barang konsumsi pun ikut terdorong naik, bahkan di negara yang jauh dari lokasi konflik. Perang yang dimulai pada 28 Februari ini memicu salah satu gangguan pasokan minyak dan gas terburuk dalam sejarah modern. 

Terganggunya akses Selat Hormuz hingga kerusakan infrastruktur seperti kilang minyak di Timur Tengah yang diperkirakan membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk pulih sepenuhnya, menjadi biang kerok. 

Sebagian besar plastik diproduksi dari minyak atau gas alam yang diolah menjadi bahan kimia, lalu diubah menjadi polimer untuk berbagai kebutuhan. Mulai dari kemasan makanan hingga tekstil seperti polyester.

Di Eropa, harga plastik PET yang digunakan untuk botol minuman dan kemasan makanan tercatat naik 15,4 persen pada pertengahan Maret dibandingkan tahun sebelumnya. Sementara di Amerika Utara, harga polyethylene melonjak sekitar 29 persen secara tahunan.

“Plastik adalah inti dari semua ini,” kata Steve Zurek, wakil presiden tim analitik lanjutan NielsenIQ, sebagaimana dikutip dari Reuters, Selasa, 5 Mei 2026. “Terutama dalam kategori rumah tangga dan perawatan pribadi, karena banyak menggunakan botol dan tabung plastik.”

Kenaikan harga kemasan ini sangat berpengaruh karena biaya packaging biasanya menyumbang sekitar 5 persen hingga 15 persen dari total biaya produksi suatu produk. Data dari NielsenIQ menunjukkan bahwa rata-rata harga bahan makanan di Amerika Serikat naik 2,9 persen dalam empat minggu sejak konflik dimulai hingga 28 Maret. 

Para ekonom memperkirakan bahwa angka inflasi tersebut baru mencerminkan dampak awal dari lonjakan harga minyak. Artinya, tekanan harga masih berpotensi meningkat dalam beberapa bulan ke depan.

Dampaknya, diperkirakan akan semakin terasa di Asia, yang menjadi pusat industri petrokimia dunia. Negara-negara seperti Jepang, Korea Selatan, Singapura, India, dan China bersiap menghadapi kenaikan inflasi.

Kilang di China yang selama ini bergantung pada pasokan minyak Timur Tengah mulai mengurangi produksi dan bahkan membatalkan kontrak akibat kelangkaan bahan baku. Harga plastik di pasar China melonjak drastis, bahkan mencapai hampir 44 persen hanya dalam satu bulan.

Harga bahan baku petrokimia dari kilang juga mengalami lonjakan signifikan. Seorang pelaku industri di China menyebutkan bahwa harga bahan tersebut meningkat tajam dalam waktu singkat. “Harga bahan baku petrokimia dari kilang yang digunakan untuk membuat plastik telah melonjak, naik sekitar 50 hingga 60 persen,” kata Peng Xin, manajer umum perusahaan material di Guangdong.

Lonjakan harga ini memicu aksi borong bahan baku, yang justru memperparah kelangkaan dan menyebabkan kemacetan distribusi di pusat perdagangan plastik terbesar di China.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Kenaikan biaya produksi inilah yang pada akhirnya akan diteruskan ke konsumen. Produsen menghadapi dilema antara menaikkan harga atau menanggung penurunan margin keuntungan.

Perusahaan besar seperti Nestle, Unilever, dan Procter & Gamble disebut lebih mampu menaikkan harga dibanding produsen kecil. “Bahkan jika perang berhenti besok, begitu harga naik, butuh waktu lama untuk turun kembali,” kata Zurek.