Ngeri! Harga Minyak Dunia Diprediksi Tembus Rp3 Juta Lebih Imbas Perang Iran-AS
Harga minyak dunia kembali melonjak tajam seiring meningkatnya tensi konflik antara Amerika Serikat dan Iran. Minyak mentah Brent bahkan sempat menembus US$126 per barel atau sekitar Rp2.142.000 per barel (kurs Rp17.000), menjadi level tertinggi sejak 2022.
Lonjakan ini terjadi setelah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, memperingatkan bahwa blokade terhadap Iran bisa berlangsung selama berbulan-bulan. Pernyataan tersebut langsung mengguncang pasar energi global yang sebelumnya sudah tertekan akibat perang yang dimulai sejak akhir Februari.
Dalam 24 jam terakhir saja, harga minyak melonjak lebih dari 13 persen. Kenaikan ini menjadikannya salah satu lonjakan tercepat sejak konflik dimulai. Sebagai perbandingan, harga minyak terakhir kali menyentuh level di atas US$120 terjadi saat invasi Rusia ke Ukraina pada 2022, dengan puncak saat itu mencapai sekitar US$139 per barel.
Kenaikan harga minyak ini tidak lepas dari situasi di Selat Hormuz, jalur vital distribusi minyak dunia. Amerika Serikat memperketat blokade terhadap pelabuhan Iran, sementara Iran merespons dengan membatasi akses kapal tanker minyak melalui selat tersebut. Akibatnya, pasokan minyak global terganggu secara signifikan.
Perundingan antara AS dan Iran yang direncanakan berlangsung di Pakistan juga dilaporkan gagal terlaksana, sehingga kebuntuan terus berlanjut tanpa solusi jelas dalam waktu dekat.
Trump bahkan menegaskan sikap kerasnya terhadap Iran. “Iran sebaiknya segera berpikir cerdas,” ungkapnya, sebagaimana dikutip dari The Guardian, Kamis, 30 April 2026.
Ia juga disebut membahas kemungkinan untuk mempertahankan blokade dalam jangka panjang. “Melanjutkan blokade saat ini selama berbulan-bulan jika diperlukan,” ungkapnya.
Dalam pernyataan lain, Trump menilai strategi blokade lebih efektif dibandingkan serangan militer langsung. “Blokade ini sedikit lebih efektif daripada pemboman. Mereka tercekik seperti babi yang kekenyangan.”
Seiring berlanjutnya konflik, dampak terhadap pasokan global semakin terasa. Setiap hari Selat Hormuz terganggu, suplai minyak dunia bisa berkurang hingga hampir 20 juta barel per hari.
Lembaga riset ekonomi Oxford Economics memperingatkan bahwa jika kebuntuan ini berlangsung hingga enam bulan, harga minyak bisa melonjak hingga US$190 per barel atau sekitar Rp3.230.000 pada Agustus mendatang.
Lonjakan harga energi ini mulai memicu kekhawatiran akan dampak ekonomi yang lebih luas. Analis pasar dari Deutsche Bank menyebut kondisi ini dapat memicu “kejutan stagflasi” yang berkepanjangan, di mana inflasi tinggi terjadi bersamaan dengan pertumbuhan ekonomi yang melambat.
Kenaikan harga minyak juga mulai mendorong lonjakan imbal hasil obligasi pemerintah di berbagai negara. Di Jepang, yield obligasi 10 tahun mencapai 2,51 persen, level tertinggi sejak 1997. Di Eropa, obligasi Jerman dan Inggris juga mencatat kenaikan signifikan ke level tertinggi dalam lebih dari satu dekade.
Ekonom ternama Paul Krugman bahkan memperingatkan risiko resesi global jika krisis di Selat Hormuz terus berlanjut. “Menurut saya, resesi global penuh kemungkinan besar akan terjadi jika selat ini tetap tertutup selama tiga bulan lagi, yang tampaknya sangat mungkin.”
Dampak dari lonjakan harga minyak ini tidak hanya terasa pada sektor energi, tetapi juga merembet ke inflasi global. Di Amerika Serikat, inflasi tercatat naik hingga 3,3 persen secara tahunan pada Maret. Sementara di Inggris, risiko resesi juga meningkat akibat tekanan ekonomi dari perang.
Kondisi ini mengingatkan pada krisis energi global sebelumnya, seperti pada 2008 ketika harga minyak sempat mencapai sekitar US$147 per barel. Bahkan, Iran sebelumnya sempat memperingatkan bahwa harga minyak bisa menembus US$200 jika konflik terus berlanjut.