Dukungan Legenda untuk Pau Cubarsi, Carles Puyol dan Gerard Pique Turun Tangan
Bek muda Barcelona, Pau Cubarsi, kini tengah menjadi pusat perhatian menyusul drama emosional yang terjadi di Liga Champions (UEFA Champions League) 2025-2026.
Gerard Pique harus menelan kenyataan pahit akibat kartu merah yang diterimanya saat menghadapi Atletico Madrid pada leg pertama perempat final Liga Champions 2025-2026.
Keputusan wasit untuk mengusir Pau Cubarsi tersebut terjadi tepat sebelum masa jeda babak pertama usai dirinya terlibat bentrokan dengan Giuliano Simeone.
Insiden krusial di ajang UEFA Champions League ini tidak hanya mengubah momentum pertandingan bagi skuad asuhan Hansi Flick, tetapi juga memaksa El Barca bermain dengan sepuluh orang di sisa waktu laga.
kekalahan 0-2 yang diderita timnya, sang bek menunjukkan kedewasaan luar biasa dengan mengambil tanggung jawab penuh atas kegagalan tersebut.
Melalui akun media sosial miliknya, ia mengunggah momen pertandingan disertai permohonan maaf kepada rekan setim dan para suporter yang memadati stadion.
Sikap ksatria ini memancing reaksi positif dari internal tim.
Pemain seperti Dani Olmo, Ronald Araujo, hingga Marc Bernal secara terbuka memberikan dukungan moral agar sang pemain muda tidak larut dalam kesedihan.
Dukungan paling emosional datang dari dua ikon pertahanan legendaris, Carles Puyol dan Gerard Pique, yang sangat memahami besarnya beban membela panji kebesaran klub asal Catalan tersebut.
Gerard Pique secara khusus memberikan motivasi melalui sebuah pesan menyentuh untuk juniornya yang sedang merintis karier di tim utama.
“Tetaplah tegakkan kepala, kawan. Kamu akan menghancurkan mereka dalam kebangkitanmu,” tulisnya.
Kalimat dari sang legenda ini seolah mempertegas keyakinan publik bahwa insiden di Eropa tersebut hanyalah sebuah kerikil dalam perjalanan panjang sang bek.
Kontroversi VAR dan Pengakuan Giuliano Simeone
Penyerang Atletico Madrid, Julian Alvarez, merayakan gol pertama timnya pada laga leg pertama perempat final Liga Champions antara FC Barcelona dan Club Atletico de Madrid di Stadion Camp Nou di Barcelona pada 8 April 2026.
Di sisi lain, Giuliano Simeone yang menjadi lawan dalam insiden tersebut memberikan sudut pandangnya mengenai kronologi penggunaan teknologi VAR.
Ia mengaku merasakan adanya benturan saat sedang melesat menuju gawang tuan rumah.
"Julian menendang bola ke punggung saya. Saya tahu dia adalah pemain terakhir," ujar Giuliano dikutip dari Barca Universal.
"Saya belum menonton ulang kejadian itu, tetapi saya menghalangi jalannya dan melaju ke gawang, and saya merasakan benturan itu."
Ia pun menambahkan mengenai perubahan sanksi dari wasit.
“Awalnya wasit menunjukkan kartu kuning, tetapi kemudian, setelah berkonsultasi dengan VAR, dia menunjukkan kartu merah,” simpulnya.
Kekecewaan Hansi Flick
Pelatih Hansi Flick tidak dapat menyembunyikan rasa kecewanya terhadap kepemimpinan wasit yang dianggap berat sebelah.
Arsitek tim asal Jerman tersebut menyoroti beberapa keputusan teknis yang dinilai merugikan timnya, termasuk insiden di kotak penalti lawan yang tidak ditinjau oleh VAR.
“VAR sangat berpihak pada Atlético… dia orang Jerman, terima kasih Jerman,” kata Flick dengan nada sarkastis.
“Saya tidak tahu mengapa VAR tidak turun tangan. Saya pikir ini tidak bisa dipercaya."
"Kita semua melakukan kesalahan, tetapi untuk apa VAR? Saya tidak mengerti. Seharusnya itu penalti, kartu kuning kedua, dan kartu merah. Ini persisnya tidak boleh terjadi," pungkasnya.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang