Cerita Giuliano Simeone soal Insiden Kartu Merah Pau Cubarsi: Saya Rasakan Benturan
Hasil akhir kemenangan 2-0 Atletico Madrid atas Barcelona pada leg pertama perempat final Liga Champions 2025-2026 menyisakan perdebatan sengit, terutama terkait pengusiran bek muda tuan rumah, Pau Cubarsi.
Insiden yang terjadi di Spotify Camp Nou pada Rabu tersebut menjadi titik balik krusial yang mengubah arah pertandingan di ajang UEFA Champions League itu.
Penyerang Atletico, Giuliano Simeone, menjadi sosok sentral dalam momen tersebut setelah ia dijatuhkan oleh Pau Cubarsi saat dalam posisi menguntungkan untuk mencetak gol.
Keunggulan jumlah pemain sebelum turun minum berhasil dimanfaatkan dengan baik oleh Los Colchoneros untuk mencuri kemenangan di kandang lawan.
pertandingan, Giuliano Simeone membagikan sudut pandangnya mengenai drama yang berujung pada penggunaan VAR tersebut.
Ia menjelaskan bahwa dirinya sudah berada dalam jalur yang tepat untuk mengancam gawang Barcelona sebelum akhirnya terjatuh.
“Julian menendang bola ke punggung saya. Saya tahu dia adalah pemain terakhir," ujar Giuliano dikutip dari Barca Universal, Kamis (9/4/2026).
"Saya belum menonton ulang kejadian itu, tetapi saya menghalangi jalannya dan melaju ke gawang, and saya merasakan benturan itu."
Ia juga menceritakan perubahan keputusan wasit setelah berkonsultasi dengan layar monitor di pinggir lapangan.
“Awalnya wasit menunjukkan kartu kuning, tetapi kemudian, setelah berkonsultasi dengan VAR, dia menunjukkan kartu merah,” simpulnya.
Atletico Tidak Ubah Pendekatan
Meski diuntungkan dengan jumlah pemain, Giuliano Simeone menekankan bahwa timnya tetap menaruh rasa hormat yang tinggi terhadap kekuatan lawan.
Menurutnya, Atletico Madrid harus tetap disiplin karena tim asuhan Hansi Flick tetap berbahaya dengan identitas permainan yang konsisten.
Gestur pelatih Atletico Madrid, Diego Simeone, pada laga leg pertama perempat final Liga Champions UEFA antara FC Barcelona dan Club Atletico de Madrid di Stadion Camp Nou di Barcelona pada 8 April 2026.
“Melawan Barcelona, hanya sedikit hasil yang menentukan," tutur putra dari Diego Simeone tersebut.
"Mereka adalah tim hebat. Mereka memiliki beberapa pemain luar biasa. Kami telah mengerahkan upaya besar untuk mencoba mendapatkan hasil ini."
Ia menambahkan bahwa tim harus terus bekerja keras.
“Baik mereka bermain dengan sepuluh pemain atau unggul jumlah pemain, mereka bermain dengan cara yang sama. Jadi pendekatannya sama. Cobalah untuk bermain, menekan, dan bertahan.”
Kritik Pedas Hansi Flick Terhadap VAR
Di sisi lain, suasana kontras terlihat di kubu tuan rumah.
Pelatih Hansi Flick meluapkan kekecewaannya secara terbuka terhadap kepemimpinan wasit, terutama terkait keputusan yang merugikan timnya dan beberapa insiden yang luput dari pantauan, termasuk dugaan handball oleh Marc Pubill.
“VAR sangat berpihak pada Atlético… dia orang Jerman, terima kasih Jerman,” kata Flick dengan nada sarkastis.
Ia juga mempertanyakan mengapa insiden di kotak penalti Atletico tidak ditinjau ulang.
“Saya tidak tahu mengapa VAR tidak turun tangan. Saya pikir ini tidak bisa dipercaya. Kita semua melakukan kesalahan, tetapi untuk apa VAR?"
"Saya tidak mengerti. Seharusnya itu penalti, kartu kuning kedua, dan kartu merah. Ini persisnya tidak boleh terjadi,” lanjutnya.
Sebagai penutup, pelatih asal Jerman itu kembali menyuarakan keraguannya terhadap keabsahan hukuman yang diterima Pau Cubarsi.
“Saya tidak yakin dia melakukan kontak yang cukup karena bola berada di belakangnya,” pungkas Hansi Flick.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang