Dokter Ingatkan Orang Tua Untuk Tak Masukkan Sendok ke Mulut Saat Anak Kejang, Ini Alasannya
Ada banyak anggapan di masyarakat terkait tindakan yang perlu dilakukan orang tua saat menghadapi anak kejang. Salah satu anggapan tersebut adalah dengan memasukkan benda seperti sendok ke mulut agar lidah anak tidak tergigit.
Tindakan tersebut tidak boleh dilakukan. Hal ini diungkap oleh Spesialis anak dari Brawijaya Hospital Taman Mini, dr. Rizky Amrullah Nasution, Sp.A.
“Kadang-kadang orang tua suka memasukkan ke mulut, ya sendok, tangan, supaya nggak kegigit itu tidak boleh.Dipijat juga tidak boleh, jadi obeservasi saja pastikan dia bernafas dengan baik,” kata dia dalam acara health talk baru-baru ini.
Rizky juga menjelaskan bahwa jika orang tua memasukkan benda-benda seperti sendok ke dalam mulut saat anak mengalami kejang. Dikhawatirkan akan menimbulkan masalah lainnya pada anak.
“Karena kalau kita masukkan barang ke dalam mulut misalnya sendok kalau patah sendoknya tertelan nanti ada masalah baru lagi. Kita masukkan jari ke dalam, nanti jari kita kegigit berdarah dia nelen darah kita risiko infeksi juga. Jadi tidak perlu memasukkan benda apapun,” sambung dia.
Rizky sendiri membagikan beberapa langkah yang bisa dilakukan orang tua saat anak mengalami kejang. Pertama dan utama saat anak kejang adalah tidak boleh panik. Sebab kata Rizky ketika orang panik mereka akan sulit untuk berfikir dan bertindak yang tepat. Kedua ketika anak kejang pindahkan ke tempat yang aman yang permukaannya rata, dan keras.
“Kalau kejang bisa dimana aja bisa dilantai bisa di kasur. Pindahkan ke tempat yang aman yang permukaannya rata, keras dan pastikan tidak ada benda tajam di sekitarnya. Di lantai boleh bisa dipakai alas selimut supaya permukaannya rata dan keras,” kata dia.
Rizky juga menjelaskan bahwa saat amak kejang, anak akan seperti menahan nafas. Maka dari itu orang tua wajib membantu anak bernapas lebih aman.
“Caranya kalau pakai kemeja bisa kita buka kancing, atau pakai kaos bisa dinaikin kaosnya supaya nafasnya tidak tertutup pakaian,” kata dia lebih lanjut.
Saat kejang kata Rizky sering kali lender banyak memenuhi area saluran nafas. Hal ini sangat berisiko masuk ke saluran nafas sehingga menyebabkan anak tersedak.
“Saat kejang sering kali lender banyak sekali di saluran nafas dan ini sangat berisiko untuk lendir itu masuk ke saluran nafas dan tersedak. Jadi miringkan ke satu sisi sehingga lender itu akan keluar sendiri jadi tidak terserap masuk ke paru-paru,” kata dia.
Penting juga kata Rizky untuk memvideokan anak saat kejang. Tujuannya adalah untuk membantu dokter dalam memberikan penanagan dan terapinya.
“Akan sangaat baik saat observasi panggil bantuan, akan lebih baik divideokan karena nanti akan ditangani di rumah sakit dokternya akan tanya seperti apa kejangnya akan membantu karena penanganan dan terapinya berbeda-beda,” kata Rizky.
Rizky juga mengungkap bahwa orang tua harus sesegera mungkin membawa anak ke rumah sakit jika durasi kejang berlangsung tiga menit. Sebab kata dia kejang yang terjadi lebih dari tiga menit bisa berisiko mematikan sel otak anak.
“Kalau di video itu ada waktu berapa detik itu berhubungan dengan jenis kejang yang ke depannya berbahaya atau tidak. Kejang yang berbahaya itu terjadi tiga menit. Kalau kurang dari 3 menit itu relative tidak terlalu berbahaya. Jadi kalau di video itu timernya sudah mau menuju 3 menit kita sudah mulai waspada karena mulai kejang yang akan berisiko ke depannya. Kejang 3 menit itu bisa mematikan sel otak beda dengan kejang yang kurang dari 3 menit. Setelah kira-kiranya 3 menit belum selesai juga segera panggil bantuan atau segera bawa ke IGD terdekat,” kata dia.
Berkaitan dengan layanan IGD, Brawijaya Hospital Taman Mini memiliki layanan darurat anak yang didukung teknologi dan tim terbaik antara lain Ambulans Mini ICU dengan ventilator mobile, ventilator khusus anak, tenaga medis terlatih di bidang pediatric emergency, kamar perawatan gawat darurat dengan bed khusus anak, pediatric ICU (PICU) dan MRI 1,5 tesla berbasis AI, CT scan 128 slices, dan USG Abdomain komperhensif yang semua tersedia dalam satu lantai.
“IGD kami didesain agar anak tidak takut, orang tua tidak panik, dan tim medis bisa bergerak cepat. Kami juga memiliki ambulans dengan mini ICU siap melakukan tindakan penyelamatan bahkan sejak di perjalanann dan tentu saja lokasi kami sangat strategis tepat di exit tol Taman Mini Indonesia Indah mudah dijangkau dari berbagai wilayah Jakarta Timur dan sekitarnya,” kata Direktur Brawijaya Hospital Taman Mini, dr. Melanie Vandauli F. MARS.