Menlu Iran Ungkap Pandangan Suram soal Perang AS-Israel: Tidak Ada Pemenang!

Menteri Luar Negeri Iran, Seyed Abbas Araghchi
Menteri Luar Negeri Iran, Seyed Abbas Araghchi

 Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, mengungkapkan pandangannya terkait serangan udara gabungan Amerika Serikat dan Israel ke wilayah Iran. Seperti diketahui, Sabtu pekan lalu, serangan tersebut menargetkan Iran hingga menyebabkan pemimpin tertinggi negara itu, Ali Khamenei, meninggal dunia.

Menyusul serangan tersebut, Iran membalas dengan menyerang sejumlah pangkalan militer AS di kawasan Timur Tengah. Serangan demi serangan terus terjadi, dan hingga saat ini tercatat sekitar 1.230 orang tewas akibat serangan udara tersebut.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Terkait konflik ini, Araghchi memiliki pandangan yang suram mengenai kemungkinan akhir dari perang yang sedang berlangsung. Ia menyebut bahwa tidak ada pemenang dalam perang ini.

“Tidak ada pemenang dalam perang ini,” ujarnya saat wawancara dengan NBC pada Kamis waktu setempat.

Araghchi menjelaskan bahwa bagi Iran, kemenangan diartikan sebagai kemampuan untuk bertahan dan menolak tujuan-tujuan yang dianggap tidak sah.

“Bagi kami, kemenangan adalah mampu bertahan dan menolak tujuan-tujuan yang tidak sah itu, dan sejauh ini itulah yang telah kami lakukan,” kata dia.

Dalam kesempatan itu juga Araghchi menjawab dengan nada menantang terkait dengan kemungkinan invasi darat militer AS ke negaranya menyusul perluasan serangan ke berbagai wilayah di Iran.

“Tidak. Kami justru menunggu mereka. Kami yakin bisa menghadapi mereka, dan itu akan menjadi bencana besar bagi mereka,” kata dia dikutip dari laman NBC, Jumat 6 Maret 2026.

Dalam wawamcara itu juga, Araghchi menolak kemungkinan negosiasi dengan Amerika Serikat dan menegaskan bahwa Iran tidak pernah meminta gencatan senjata.

“Kami bahkan tidak meminta gencatan senjata pada konflik sebelumnya. Justru Israel yang memintanya. Mereka meminta gencatan senjata tanpa syarat setelah 12 hari, setelah kami berhasil bertahan dari agresi mereka,” kata Araghchi, merujuk pada perang selama 12 hari pada Juni lalu ketika militer Israel dan AS menyerang fasilitas nuklir Iran tahun lalu.

Soal Pemimpin Tertinggi Iran yang Baru

Kematian Ali Khamenei meninggalkan kekosongan kekuasaan di Iran. Beredar berbagai rumor bahwa Mojtaba Khamenei, putra kedua dari Ali Khamenei, berpeluang dipilih sebagai penggantinya. Jika iya, hal ini berpotensi memicu kritik di dalam negeri Iran, karena pewarisan kekuasaan dari ayah ke anak merupakan ciri khas sistem monarki yang justru digulingkan dalam Revolusi Iran 1979, yang kemudian melahirkan Republik Islam Iran.

Terkait dengan masalah ini, Araghchi mengatakan bahwa secara konstitusional sudah ada mekanisme yang mengatur proses penentuan pemimpin tertinggi yang baru.

“Ada banyak rumor yang beredar, tetapi kita harus menunggu Majelis Ahli memilih pemimpin tertinggi yang baru,” kata Araghchi.

Ia juga menyebut proses itu kemungkinan memakan waktu lebih lama karena konflik yang masih berlangsung.

Majelis Ahli merupakan lembaga pemerintahan Iran yang beranggotakan 88 orang dan memiliki tugas memilih pemimpin tertinggi negara.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Araghchi kembali menegaskan bahwa berbagai rumor memang beredar luas, tetapi belum ada kepastian siapa yang akhirnya akan terpilih.

“Seperti yang saya katakan, banyak sekali rumor, tetapi tidak ada yang benar-benar tahu siapa yang akan dipilih pada akhirnya,” ujarnya.