Reservasi Restoran Thailand Turun 70 Persen akibat Perang AS-Israel vs Iran

restoran, Thailand, Reservasi Restoran Thailand Turun 70 Persen akibat Perang AS-Israel vs Iran

Industri restoran di Thailand terdampak krisis harga minyak dan kenaikan biaya transportasi yang dipicu konflik Amerika Serikat (AS) dan Israel versus Iran. 

Kondisi ini tidak hanya meningkatkan biaya operasional, tapi juga memengaruhi jumlah pemesanan pelanggan.

Chef Parkorn Kosiyabong dari restoran GOAT yang meraih satu bintang Michelin mengatakan, bisnis restoran sempat terpukul cukup parah pada awal konflik terjadi.

“Dalam minggu pertama dan kedua perang, pembatalan reservasi mencapai hingga 70 persen,” ujar Kosiyabong, dilansir dari The Straits Times, Kamis (3/4/2026).

Ia menjelaskan, pada minggu ketiga dan keempat, bisnis mulai terbantu oleh pelanggan dari wilayah Asia, seperti Singapura, Malaysia, Hong Kong, dan Taiwan. Kehadiran mereka membantu restoran bertahan hingga akhir Maret.

Restoran di Thailand terdampak konflik AS-Israel vs Iran

Wisatawan asing berkurang dan terpaksa ubah strategi

restoran, Thailand, Reservasi Restoran Thailand Turun 70 Persen akibat Perang AS-Israel vs Iran

Restoran di Thailand terpaksa ubah strategi karena pemesanan turun hingga 70 persen akibat perang AS-Israel vs Iran.

Sebelumnya, lebih dari 70 persen pelanggan restoran tersebut merupakan wisatawan asing.

Namun, saat ini, komposisi pelanggan berubah menjadi sekitar 50 persen wisatawan asing dan 50 persen pelanggan lokal asal Thailand.

Adapun wisatawan asing yang datang masih didominasi oleh pengunjung dari Asia serta Eropa, termasuk Italia dan Perancis.

Meski demikian, prospek reservasi untuk bulan April dan bulan-bulan berikutnya dinilai sulit diprediksi.

Perilaku pelanggan pun berubah signifikan. Jika sebelumnya reservasi dilakukan jauh hari, saat ini banyak pelanggan baru memesan satu hari sebelumnya atau bahkan pada hari yang sama.

Di sisi lain, kenaikan harga minyak mendorong pemasok mulai menaikkan biaya pengiriman dan logistik sekitar lima hingga 10 persen.

Meski dampaknya belum terlalu besar dalam jangka pendek, kondisi ini berpotensi membebani pelaku usaha jika berlangsung hingga akhir 2026.

Kosiyabong menambahkan, restoran tidak bisa serta-merta menaikkan harga menu mengikuti kenaikan biaya.

Oleh karena itu, pihaknya harus mengubah strategi operasional, termasuk dalam pengadaan bahan baku.


Restoran saat ini beralih dari pemesanan dalam jumlah besar menjadi pemesanan lebih sering dengan jumlah lebih kecil.

Strategi ini memang meningkatkan biaya logistik, tapi dianggap perlu untuk menghindari kekurangan bahan atau pemborosan akibat bahan yang tidak terpakai.

Dengan kapasitas maksimal hanya 20 pelanggan per hari atau sekitar 300 pelanggan per bulan, restoran tersebut harus memantau situasi secara ketat dan tetap fleksibel agar bisa bertahan di tengah ketidakpastian.

Porsi makanan disesuaikan

restoran, Thailand, Reservasi Restoran Thailand Turun 70 Persen akibat Perang AS-Israel vs Iran

Restoran di Thailand terpaksa ubah strategi karena pemesanan turun hingga 70 persen akibat perang AS-Israel vs Iran.

Sementara itu, Chef Paisarn Cheewinsiriwat dari restoran Kaen di Khon Kaen juga mengungkapkan dampak serupa.

Ia menyebut harga minyak telah meningkat sekitar enam baht (sekitar Rp 3.123) per liter, yang berdampak pada biaya energi dan operasional.

Meski beban biaya belum sepenuhnya terasa, tekanan mulai muncul. Restoran tersebut belum menaikkan harga, tapi melakukan penyesuaian pada porsi makanan untuk menjaga biaya.

Meski begitu, perubahan porsi tidak bisa dilakukan secara signifikan karena pelanggan cenderung mengingat ukuran porsi sebelumnya.

Jika biaya transportasi dan bahan baku terus meningkat dalam jangka panjang, restoran kemungkinan harus menghitung ulang biaya dan menyesuaikan harga menu.

Saat ini, biaya transportasi menjadi komponen yang paling terasa kenaikannya.

Selain itu, jumlah wisatawan juga menurun, terutama dari Thailand.

Kota Khon Kaen yang biasanya mengandalkan wisatawan dari provinsi sekitar juga mengalami penurunan kunjungan.

Menjelang periode Songkran pada April, pemesanan restoran tercatat masih terbatas dan turun sekitar 20 persen dibandingkan periode normal.

Kondisi ini menunjukkan, dampak konflik global tidak hanya dirasakan pada sektor energi, tetapi juga merembet ke industri pariwisata dan kuliner, yang sangat bergantung pada mobilitas dan daya beli konsumen.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang