Dampak Perang Iran vs AS-Israel, Ada Warga Bali Terjebak di Dubai, Kunjungan Wisman Terancam Turun 30 Persen

Bali, Dampak Perang Iran vs AS-Israel, Ada Warga Bali Terjebak di Dubai, Kunjungan Wisman Terancam Turun 30 Persen, Terjebak di Dubai dan Bandara Tutup, Nasib Pekerja Migran Indonesia (PMI) asal Bali, Pariwisata Bali Terancam Kehilangan 30 Persen Wisatawan, Imbauan KBRI dan Langkah Pemerintah

Eskalasi konflik militer antara Amerika Serikat (AS)-Israel melawan Iran mulai berdampak signifikan terhadap keamanan global dan mobilitas internasional. Selain memicu penutupan wilayah udara di sejumlah negara Timur Tengah, konflik ini menyebabkan warga negara Indonesia (WNI) asal Bali terjebak di luar negeri dan mengancam stabilitas pariwisata Pulau Dewata.

Salah satu warga Bali yang terdampak adalah Adi Darmadi (31). Pria asal Sanur, Denpasar ini dilaporkan tertahan di Dubai, Uni Emirat Arab (UAE), akibat pembatalan penerbangan massal.

Terjebak di Dubai dan Bandara Tutup

Adi, yang awalnya hanya berniat berlibur selama satu pekan, mengaku tidak menyangka situasi akan memburuk secepat ini. Setelah tiga hari menikmati liburan, pecahnya perang memaksa Adi untuk segera mencari tiket pulang, namun operasional Bandara Dubai dan wilayah udara UAE masih ditutup.

“Kemarin dapat informasi kalau maskapai Emirates akan melanjutkan jadwal penerbangan mereka kemarin, Senin (2/3/2024) pukul 15.00. Tetapi belum ada konfirmasi dari pihak Bandara Dubai,” ungkap Adi kepada awak media, Selasa (3/3/2026).

Hingga kini, Adi sudah tertahan selama lima hari di Dubai tanpa kepastian jadwal kepulangan. Ia mengungkapkan rasa was-was jika nantinya pesawat yang ia tumpangi melintasi zona konflik.

“Sangat ada rasa khawatir karena belum ada kepastian kapan akan bisa balik ke Bali. Dan ada rasa takut juga kalau nantinya sudah bisa terbang ke Bali, pesawat kena rudal. Semoga tidak ya,” imbuhnya.

Meski demikian, Adi menyebutkan bahwa aktivitas publik di Dubai selain bandara terpantau masih normal dan kondusif.

Nasib Pekerja Migran Indonesia (PMI) asal Bali

Bali, Dampak Perang Iran vs AS-Israel, Ada Warga Bali Terjebak di Dubai, Kunjungan Wisman Terancam Turun 30 Persen, Terjebak di Dubai dan Bandara Tutup, Nasib Pekerja Migran Indonesia (PMI) asal Bali, Pariwisata Bali Terancam Kehilangan 30 Persen Wisatawan, Imbauan KBRI dan Langkah Pemerintah

Ilustrasi harga tiket pesawat.

Pemerintah Provinsi Bali melalui Dinas Ketenagakerjaan dan ESDM terus memantau keberadaan Pekerja Migran Indonesia (PMI) di kawasan Timur Tengah. Berdasarkan data tahun 2025, tercatat ada 2.490 PMI asal Bali yang bekerja di wilayah tersebut, sementara untuk periode Januari-Februari 2026 tercatat sebanyak 187 orang.

Kepala Dinas Ketenagakerjaan dan ESDM Provinsi Bali, Ida Bagus Setiawan, menegaskan bahwa hingga saat ini belum ditemukan laporan adanya PMI asal Bali yang bekerja di Iran.

“Sampai saat ini belum ada laporan PMI asal Bali yang bekerja di Iran. Kami sudah berkoordinasi dengan BP3MI Bali dan dinas kabupaten/kota untuk menginventarisir jumlah PMI di negara terdampak, khususnya di Timur Tengah dan spesifik di Iran,” jelas Setiawan, Selasa (3/3/2026).

Sementara itu, di Kabupaten Gianyar, dua PMI bernama Putu Kramania Sinta Dewi dan Ni Nyoman Juliantari terkonfirmasi berada di Kuwait.

Namun, pemerintah setempat mengaku belum bisa menghubungi keduanya untuk memastikan kondisi terkini.

Pariwisata Bali Terancam Kehilangan 30 Persen Wisatawan

Sektor pariwisata menjadi yang paling rapuh terdampak gejolak global ini. Ketua Bali Villa Rental and Management Association (BVRMA), I Kadek Adnyana, melaporkan bahwa tingkat pembatalan pemesanan vila sudah mencapai angka 30 persen.

"Pembatalan dipicu penutupan jalur penerbangan di sejumlah negara akibat perang. Dampaknya terutama terasa dari pasar Eropa dan Timur Tengah," kata Adnyana.

Senada dengan itu, Wakil Ketua PHRI Bali, I Gusti Ngurah Rai Suryawijaya, menyebut tingkat hunian hotel saat ini menurun ke angka 55 persen dari rata-rata normal 60 persen.

Pembatalan penerbangan dari hub utama seperti Doha (Qatar Airways), Dubai (Emirates), dan Abu Dhabi (Etihad) menjadi penyebab utama terhambatnya arus wisatawan Eropa.

Pengamat pariwisata dari Universitas Warmadewa, Dr. I Made Suniastha Amerta, memperingatkan bahwa konflik berkepanjangan akan memicu lonjakan harga minyak dunia yang berimplikasi pada harga tiket pesawat.

“Jika konflik berlanjut, kemungkinan kehilangan tamu dari wilayah terdampak bisa mencapai 10-30 persen. Struktur ekonomi Bali yang bertumpu pada pariwisata internasional akan sangat tertekan jika pasar Eropa menyusut,” papar Suniastha.

Imbauan KBRI dan Langkah Pemerintah

Sejumlah perwakilan RI di Timur Tengah telah mengeluarkan imbauan resmi bagi WNI:

  • KBRI Abu Dhabi & KJRI Dubai: Meminta WNI waspada terhadap suara dentuman dan menghindari area berisiko.
  • KBRI Amman (Yordania): Mengimbau kepatuhan terhadap aparat dan kehati-hatian dalam bermedia sosial.
  • KBRI Manama (Bahrain): Menutup sementara layanan fisik sejak 1 Maret 2026, namun membuka hotline darurat.
  • KBRI Kuwait City: Meminta WNI melakukan lapor diri dan mempelajari panduan kontinjensi.

Anggota Komite III DPD RI, Ida Bagus Rai Dharmawijaya Mantra, mengusulkan pembentukan Satuan Tugas (Satgas) Pelayanan untuk mendampingi wisatawan yang terjebak di Bali demi menjaga citra pariwisata budaya Indonesia di mata dunia.

Artikel ini telah tayang di Tribun-Bali.com dengan judul Bandara Ditutup, Warga Asal Sanur Bali Terjebak di Dubai, Adi Rindu Makan Nasi Babi Guling

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang