Pertamina Buka Suara soal Nasib Harga BBM Non-subsidi Imbas Perang Iran-AS

BBM Non-Subsidi turun harga Pertamax Series dan Dex Series
BBM Non-Subsidi turun harga Pertamax Series dan Dex Series

Vice President Corporate Communication PT Pertamina (Persero), Muhammad Baron, buka suara soal lonjakan harga minyak mentah dunia imbas perang Iran vs Amerika Serikat (AS)-Israel, dan kaitannya dengan harga BBM non-subsidi di Tanah Air.

Dia menjelaskan, terkait dengan harga BBM non-subsidi, saat ini Pertamina masih memantau dinamika harga minyak global sebelum mengambil keputusan lebih lanjut.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

“Untuk tarif BBM ke depan, ini masih kami berproses melihat perkembangan lebih lanjut," kata Baron di Grha Pertamina, Jakarta Pusat, Selasa, 3 Maret 2026.

Vice President Corporate Communication PT Pertamina (Persero), Muhammad Baron

Dia mengatakan, kargo minyak mentah yang berasal dari Timur Tengah saat ini sekitar 19 persen dari total impor minyak mentah ke Indonesia. Menurutnya, Pertamina telah menyiapkan skema distribusi melalui sistem reguler, alternatif, maupun darurat guna menjaga ketahanan energi nasional.

Baron menambahkan, strategi pengadaan dan kemungkinan penyesuaian sumber pasokan masih berproses dengan tetap mengedepankan tata kelola yang baik.

"Saat ini untuk penyediaan energi kami melakukan beberapa strategi yang tentunya sedang berproses, baik melalui pola yang ada, dilakukan, dan juga kami melihat bahwa tata kelola tetap harus kita kedepankan,” ujarnya.

Diketahui, sebelumnya Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia memastikan, harga BBM subsidi jenis Pertalite tidak naik, meskipun harga minyak dunia meroket imbas perang antara Iran dan Amerika Serikat (AS)-Israel.

"Kalau harga BBM yang subsidi, yang bensin Pertalite, itu mau (harga minyak dunia) naik berapa pun, tetap harganya sama sebelum ada perubahan dari pemerintah," kata Bahlil dalam konferensi pers di Kementerian ESDM, Jakarta, Selasa, 3 Maret 2026.

Sementara untuk bahan bakar minyak non-subsidi seperti Pertamax, Bahlil mengakui memang akan mengalami penyesuaian harga atau akan naik mengikuti fluktuasi harga minyak mentah dunia.

Bahlil menyampaikan, harga minyak sudah naik menjadi US$78-US$80 per barel, melebihi asumsi makro APBN 2026 yakni US$70 per barel. Sebagai negara yang mengimpor minyak sekitar 1 juta barel per hari, maka kenaikan harga minyak dunia tentunya akan membebani APBN dengan potensi pembengkakan subsidi energi yang ditanggung oleh negara.

Namun di sisi lain, Indonesia juga memperoleh tambahan pendapatan dari kenaikan harga minyak dunia tersebut dari produksinya.

"Karena Indonesia kan berkontribusi kurang lebih sekitar 600 ribu barel per hari. Nah, selisih ini yang sedang kami hitung," ujarnya.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Perhitungan tersebut menurutnya akan dilakukan dengan hati-hati, sebab terkait dengan subsidi energi di dalam negeri. Hingga saat ini, setelah rapat Dewan Energi Nasional (DEN), pemerintah belum berencana untuk menaikkan harga BBM bersubsidi.

"Sampai dengan kami rapat tadi, belum ada (kenaikan harga BBM subsidi), jadi aman-aman saja. Hari raya yang baik, puasa yang baik, insya Allah belum ada kenaikan harga BBM," ujarnya.