Iran Ubah Taktik Perang Lawan AS-Israel, Siapkan Serangan Lebih Brutal

Ledakan akibat serangan rudal Iran di pusat kota Tel Aviv Israel
Ledakan akibat serangan rudal Iran di pusat kota Tel Aviv Israel

Perang antara Iran melawan Amerika Serikat dan Israel masih terus berlangsung hingga kini. Memasuki hari ke-23, belum terlihat tanda-tanda konflik ini akan segera berakhir.

Memasuki pekan keempat konflik,taktik dan serangan Iran terhadap dua negara itu pun kini berubah. Seorang sumber militer mengatakan kepada kantor berita Tasnim pada Sabtu bahwa Iran kini mengubah strateginya, menandakan pergeseran dari kebijakan balasan yang selama ini bersifat seimbang.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Menurut sumber tersebut, Teheran kini berniat membuat setiap serangan yang dilakukan lawan harus dibayar dengan harga yang jauh lebih mahal, dengan peringatan bahwa respons berikutnya akan lebih luas dan lebih merusak.

“Musuh seharusnya sudah menyadari bahwa jika mereka menyerang satu infrastruktur, kami akan menyerang beberapa infrastruktur mereka. Jika mereka menyerang kilang atau fasilitas gas, kami akan membalas dengan menyerang sejumlah fasilitas serupa dan memberi mereka pelajaran yang sangat keras," kata sumber itu dikutip dari laman Middle East Eye, Minggu 22 Maret 2026.

Sumber itu menambahkan, Iran akan membalas setiap kesalahan musuh dengan cara yang tak terduga dan membakar kepentingan mereka.

Seperti diketahui, serangan demi serangan terus meningkat dalam beberapa hari terakhir. Terbaru, pada Sabtu, 21 Maret, Israel dan Amerika Serikat melancarkan serangan ke situs nuklir Iran di Natanz. Iran mengecam aksi tersebut sebagai tindakan kriminal yang melanggar hukum internasional serta perjanjian nuklir, termasuk Traktat Non-Proliferasi (NPT), dan memperingatkan adanya konsekuensi yang lebih luas.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Tak berselang lama, Iran langsung membalas. Di hari yang sama, Teheran meluncurkan rudal ke wilayah Dimona. Sebelumnya, Iran juga telah memperingatkan bahwa kawasan itu bisa menjadi target jika Israel terus menyerang fasilitas nuklirnya.

Dimona sendiri berada di dekat salah satu lokasi paling sensitif di Israel, yaitu Pusat Penelitian Nuklir Shimon Peres Negev, yang selama ini dikaitkan dengan program senjata nuklir Israel yang tidak pernah diumumkan secara resmi. Pemerintah Israel tetap tertutup tidak mengonfirmasi maupun membantah kepemilikan senjata nuklir sambil menjaga ketat salah satu fasilitas paling terlindungi di kawasan gurun Naqab.