Kim Jong Un Uji Coba Rudal di Tengah Konflik AS-Israel vs Iran, Ada Apa?

Kim Jong Un Uji Coba Rudal dari Kapal Destroyer terbaru Korut
Kim Jong Un Uji Coba Rudal dari Kapal Destroyer terbaru Korut

Di tengah serangan gabungan Amerika Serikat-Israel terhadap Iran pekan ini, pemimpin Korea Utara, Kim Jong Un juga jadi sorotan. Baru-baru ini, Kim Jong Un terlihat meninjau kapal perang destroyer yang baru dibangun sekaligus menyaksikan uji peluncuran ‘rudal jelajah strategis’.

Langkah yang diambil oleh Kim Jong Un ini mendapat sorotan dari para analis. Mereka menilai langkah ini menunjukkan Pembangunan kekuatan Angkatan laut menjadi bagian penting dari strategi penangkal nuklir Pyongyang yang terus berkembang.

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Melansir laman SCMP, Jumat 6 Maret 2026 Kim Jong un dilaporkan melakukan kunjungan selama dua hari di kapal perang destroyer Choe Hyeon yang berbobot 5.000 ton itu. Inspeksi ini berlangsung ketika Korea Utara tengah mencermati serangan militer Amerika Serikat baru-baru ini terhadap Iran, serta menjelang latihan militer gabungan Amerika Serikat dan Korea Selatan yang dijadwalkan dimulai Senin mendatang 9 Maret 2026.

Dalam peninjauannya itu, Kim memuji kapal perang Choe Hyein sebagai simbol baru kemampuan pertahanan laut Korea Utara setelah menyelesaikan pelayaran uji coba awalnya pada Selasa kemarin.

Di saat yang sama Kim Jong Unjuga menegaskan tekadnya untuk membangun angkatan laut paling kuat, seiring upaya Korea Utara memperluas platform yang mampu membawa senjata nuklir, baik pada kapal perang permukaan maupun kapal selam.

“Kekuatan Angkatan Laut kami untuk melakukan serangan dari bawah maupun dari atas permukaan laut akan berkembang pesat. Persenjataan nuklir bagi angkatan laut berjalan dengan kemajuan yang memuaskan,” ujar Kim seperti dikutip Kantor Berita Pusat Korea (KCNA).

Dalam laporan surat kabar resmi Partai Buruh, Rodong Sinmun, Kim juga mengatakan, bahwa jika masih ada pihak yang masih meragukan kekuatan pertahana Korea Utara. Maka bisa diartikan pihak tersebut akan menjadi musuh Korea Utara.

“Jika ada pihak yang masih meragukan penguatan kemampuan pertahanan kami, keraguan itu sendiri berarti mereka akan segera menjadi musuh kami,” kata dia.

Sementara itu, para analis menilai unjuk kekuatan laut ini dimaksudkan sebagai sinyal kepada Washington bahwa serangan dari laut di masa depan akan menghadapi risiko yang lebih besar, meskipun Pyongyang menegaskan bahwa peningkatan militernya bersifat defensif.

“Iran dan latihan militer gabungan AS–Korea Selatan yang akan dimulai pada 9 Maret tampaknya cukup memengaruhi pemikiran Kim,” kata peneliti senior di Korea Institute for National Unification, Hong Min.

Menurut Hong, pernyataan Kim pada dasarnya merupakan peringatan kepada Washington agar tidak menyamakan Korea Utara yang memiliki senjata nuklir dengan Iran.

“Ini juga dimaksudkan untuk menutup peluang Amerika Serikat melakukan serangan dari laut, seperti yang terlihat dalam perang melawan Iran,” ujarnya.

Sementara itu, Profesor Yang Moo-jin dari University of North Korean Studies menilai aktivitas militer terbaru Kim secara resmi memang terkait dengan target yang ditetapkan dalam kongres partai baru-baru ini. Namun, peluncuran rudal jelajah strategis dari kapal perang jenis destroyer itu juga tampak sebagai demonstrasi kekuatan yang diperhitungkan.

“Melihat waktunya, hal ini mencerminkan kekhawatiran terhadap situasi Iran dan tampaknya dimaksudkan untuk menunjukkan kekuatan militer menjelang latihan gabungan AS–Korea Selatan,” kata Yang.

Memperkuat Angkatan Laut dengan Senjata Nuklir

KCNA melaporkan bahwa kunjungan Kim juga mencakup penilaian kemampuan operasional, termasuk uji coba di laut untuk mengevaluasi kemampuan manuver kapal tersebut.

Ia juga meninjau perkembangan pembangunan kapal perang jenis destroyer lain dari kelas Choe Hyon yang sedang dibuat di Galangan Kapal Nampo di pantai barat. Langkah ini merupakan bagian dari upaya Pyongyang untuk mempercepat apa yang disebut Kim sebagai persenjataan nuklir bagi angkatan laut Korea Utara.

Saat menyaksikan uji coba rudal, Kim menyatakan bahwa dalam rencana lima tahun berikutnya Korea Utara menargetkan pembangunan dua kapal tempur permukaan kelas Choe Hyon atau yang lebih besar setiap tahun.

Selama ini, angkatan laut Korea Utara dianggap jauh lebih lemah dan tertinggal secara teknologi dibandingkan armada laut lepas modern milik Korea Selatan. Namun para analis menilai Pyongyang kini berupaya memperluas perannya, tidak lagi terbatas pada pertahanan pesisir.

“Dengan membangun armada yang lebih modern, angkatan laut Korea Utara berusaha memperluas perannya dari sekadar pertahanan pantai menuju operasi laut lepas,” kata Hong.

Di sisi lain, Korea Utara juga terus mempercepat program senjata nuklirnya. Dalam Strategi Pertahanan Nasional Pentagon disebutkan bahwa program tersebut menimbulkan ancaman nyata dan langsung”berupa kemungkinan serangan nuklir terhadap wilayah Amerika Serikat.

Pernyataan Kim muncul hanya beberapa jam setelah Presiden AS Donald Trump mengatakan bahwa ketika senjata nuklir berada di tangan ‘orang-orang gila’, maka hal buruk bisa terjadi. Pernyataan itu disampaikan Trump saat membela operasi militer Amerika Serikat yang sedang berlangsung terhadap Iran.

Korea Utara terakhir kali menguji rudal jelajah strategis dari laut ke darat pada Oktober lalu. Saat itu beberapa rudal diluncurkan ke Laut Kuning, tepat sebelum Trump tiba di Korea Selatan untuk menghadiri KTT Kerja Sama Ekonomi Asia-Pasifik (APEC), setelah sebelumnya ia menawarkan pertemuan dengan Kim.

“Namun, rudal jelajah merupakan jenis yang paling rentan terhadap proyektil pencegat dalam pertempuran,” kata peneliti senior di Korea Defence Network, Lee Il-woo,

Pada Juni tahun lalu, Korea Utara juga meluncurkan kapal perang jenis destroyer lain berbobot 5.000 ton bernama Kang Kon, setelah upaya peluncuran sebelumnya gagal karena kapal tersebut sempat terbalik. Negara itu menyatakan berencana menyelesaikan satu kapal perang lagi dengan kelas yang sama pada Oktober 2026.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Pada Desember, Pyongyang secara terbuka memperlihatkan bentuk lambung serta kapasitas perpindahan penuh kapal selam bertenaga nuklir pertamanya yang masih dalam tahap pembangunan. Kim menyebut kapal seberat 8.700 ton itu sebagai “perubahan penting yang menjadi tonggak baru dalam tingkat kemampuan penangkal perang”.

Menurut Kim, proyek-proyek yang sedang berjalan ini akan “mendorong lompatan besar dalam memperkuat kemampuan tempur armada kami”. Selain itu, langkah tersebut juga memungkinkan rezim untuk meningkatkan dan mempercepat pembangunan berbagai kapal perang permukaan maupun bawah laut, serta terus melengkapinya dengan beragam sistem persenjataan ofensif.