Perang Iran vs Israel-AS Bisa Picu Krisis Minyak Terbesar Sepanjang Sejarah, Ini Prediksi Analis
Konflik militer antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran kini tidak hanya memicu ketegangan geopolitik, tetapi juga menimbulkan kekhawatiran serius terhadap stabilitas pasokan energi global. Para analis memperingatkan bahwa dunia bisa menghadapi gangguan pasokan minyak terbesar dalam sejarah modern apabila arus pengiriman melalui Selat Hormuz tetap rendah atau bahkan berhenti total.
Menurut analisis tim S&P Global, situasi saat ini berpotensi berkembang menjadi krisis energi berskala historis. Hal tersebut diungkap dari analisis Jim Burkhard, kepala riset minyak mentah S&P Global Energy, bersama tim S&P Global Energy Crude Oil Markets.
Data S&P Global Energy Commodities at Sea menunjukkan bahwa pada 1 Maret hanya lima kapal tanker minyak yang melintasi Selat Hormuz. Angka ini sangat kontras dibandingkan rata-rata normal sekitar 60 tanker per hari.
Penurunan drastis ini menjadi sinyal awal potensi gangguan besar terhadap distribusi energi dunia. Dalam dua bulan pertama tahun ini saja, sekitar 20,8 juta barel per hari minyak mentah dan produk turunannya dikirim melalui Selat Hormuz, dengan 82 persen di antaranya menuju pasar Asia.
Selain itu, sekitar 18 persen pasokan gas alam cair atau LNG global juga melewati jalur strategis tersebut. “Kehilangan sebagian besar pasokan energi ini dapat memicu guncangan finansial dan ekonomi,” ungkapnya sebagaimana dikutip dari Rigzone, Rabu, 5 Maret 2026.
Skenario terburuknya, jika tanker berhenti melintasi Selat Hormuz, sebanyak 15 juta barel per hari minyak mentah dan produk turunannya berisiko terdampak. Jumlah pastinya akan bergantung pada seberapa besar kapasitas pipa Arab Saudi dan Uni Emirat Arab yang bisa digunakan untuk menghindari Selat Hormuz.
Bahkan gangguan di kisaran menengah, yakni tujuh hingga delapan juta barel per hari, disebut lebih besar dibandingkan volume yang terdampak saat Rusia menginvasi Ukraina atau saat Irak menginvasi Kuwait pada 1990.
Sebelum konflik meletus, proyeksi S&P Global Energy memperkirakan produksi minyak global akan melampaui permintaan sebesar 1,4 juta barel per hari pada kuartal pertama 2026 dan rata-rata satu juta barel per hari sepanjang tahun. Namun laporan tersebut menegaskan bahwa penurunan lalu lintas tanker dan penargetan infrastruktur energi berpotensi menggeser dari surplus menjadi defisit besar, yang berarti harga cukup tinggi untuk merasionalisasi pasokan yang langka dan menurunkan permintaan.
Jim Burkhard juga menekankan bahwa durasi perang sangat krusial. “Jika pengurangan lalu lintas tanker berlanjut selama sekitar satu minggu, itu akan menjadi peristiwa bersejarah. Jika lebih lama dari itu, dampaknya akan bersifat epokal bagi pasar minyak dengan harga naik untuk merasionalisasi pasokan langka dan berdampak pada pasar keuangan,” jelasnya.
“Meski tidak pasti, risikonya nyata. Dampak potensial terhadap pasokan minyak global dan ekonomi dunia bisa sangat signifikan sehingga sulit membayangkan skenario terburuk,” ungkap dia.
Daniel Yergin, Wakil Ketua S&P Global, turut mengingatkan bahwa kuncinya adalah berapa banyak pasokan yang akan hilang, berapa lama, dan bagaimana kekuatan besar dunia.
Laporan terpisah dari BMI, unit riset di bawah Fitch Group, menyebut konflik ini membuka dua risiko utama bagi pasar minyak dan gas global, yakni kerusakan infrastruktur fisik serta gangguan transit di Selat Hormuz. “Perkembangan awal menunjukkan kampanye berskala besar namun berumur pendek, dengan ancaman eskalasi lebih lanjut dalam beberapa minggu mendatang,” tulis analis BMI.
BMI memetakan tiga kemungkinan jalur harga minyak. Dalam skenario rendah, harga minyak diperkirakan bergerak di kisaran US$75 hingga US$90 per barel atau sekitar Rp1.260.000 hingga Rp1.512.000.
Skenario menengah memperkirakan harga berada di rentang US$90 hingga US$110 per barel atau sekitar Rp1.512.000 hingga Rp1.848.000. Sementara dalam skenario tinggi, harga dapat bertahan di kisaran US$110 hingga US$130 per barel atau sekitar Rp1.848.000 hingga Rp2.184.000, bahkan berisiko melampaui US$130 per barel atau lebih dari Rp2.184.000.
Dalam skenario paling ekstrem, transit komersial melalui Selat Hormuz menjadi tidak layak secara komersial meskipun tidak secara resmi ditutup dan infrastruktur mengalami gangguan luas dan signifikan secara sistemik. Meski demikian, BMI masih mempertahankan proyeksi harga rata-rata Brent 2026 di US$67 per barel atau sekitar Rp1.125.600.
Namun para analis juga mengingatkan bahwa risiko kini condong ke arah kenaikan harga. Jika konflik Iran vs Israel-AS meluas dan gangguan berlangsung lebih lama dari perkiraan, pasar energi global bisa memasuki babak krisis baru dengan dampak besar terhadap inflasi, stabilitas keuangan, dan pertumbuhan ekonomi dunia.