Tak Perlu Minyak Bumi, Material Ramah Lingkungan Ini Jadi Harapan Atasi Krisis Plastik

Ilustrasi plastik.
Ilustrasi plastik.

Para ilmuwan berhasil mengembangkan alternatif plastik ramah lingkungan berbahan dasar tanaman hemp atau rami, yang diklaim memiliki ketahanan tinggi bahkan terhadap air mendidih serta kemampuan elastis luar biasa.

Material baru ini merupakan jenis termoplastik non-toksik yang dapat meregang hingga 1.600 persen dari ukuran aslinya. Temuan ini dipublikasikan dalam jurnal ilmiah Chem Circularity dan disebut sebagai terobosan dalam pencarian pengganti plastik berbasis minyak bumi. Scroll untuk info lebih lanjut...

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Selain elastis, material tersebut juga memiliki glass transition temperature yang tinggi, yaitu kemampuan untuk tetap stabil saat terkena suhu panas ekstrem seperti air mendidih. Karakteristik ini jarang ditemukan pada plastik yang berasal dari bahan alami.

“Sangat sedikit, jika ada, plastik yang dibuat dari sumber alami memiliki kualitas ini,” ujar Profesor Gregory Sotzing dari University of Connecticut, sebagaimana dikutip dari Good News Network, Senin, 4 Mei 2026.

Material ini dikembangkan dari cannabidiol (CBD) yang berasal dari bunga hemp. Senyawa tersebut dinilai berpotensi menggantikan bisphenol-A (BPA), bahan kimia sintetis yang umum digunakan dalam plastik saat ini.

BPA sendiri dikenal sebagai zat yang dapat mengganggu sistem hormon manusia. Sebab itu, pengembangan bahan alternatif yang lebih aman menjadi fokus penting dalam industri material.

Profesor Sotzing menjelaskan bahwa material berbasis hemp ini dapat digunakan untuk membuat berbagai produk seperti film plastik transparan, pelapis, hingga bahan lain yang selama ini menggunakan plastik berbasis minyak bumi seperti polyethylene terephthalate (PET).

PET merupakan material yang banyak digunakan dalam botol minuman sekali pakai, kemasan makanan, hingga komponen elektronik fleksibel. Namun, material tersebut bergantung pada bahan bakar fosil seperti minyak mentah dan gas alam.

Peneliti lain dari Purdue University, Dr. Mukerrem Cakmak, mengatakan bahwa timnya berhasil mengembangkan struktur material yang tidak hanya fleksibel tetapi juga dapat diproses secara industri.

“Kami telah mengembangkan kerangka ilmu pemrosesan yang ketat yang menghubungkan arsitektur molekuler dengan kemampuan pemrosesan leleh, pengembangan orientasi, dan elastisitas tanpa mengorbankan kemampuan produksi,” ujarnya.

Menurutnya, plastik konvensional seperti PET membutuhkan sumber daya fosil dalam jumlah besar dan setelah dibuang akan terurai menjadi mikroplastik yang dapat mencemari air, udara, dan makanan, serta dikaitkan dengan peradangan dan kerusakan sel.

Selama ini, berbagai upaya telah dilakukan untuk menciptakan plastik ramah lingkungan dari bahan nabati. Namun, sebagian besar masih memiliki keterbatasan, seperti tidak tahan panas, kurang elastis, atau biaya produksi yang tinggi.

Untuk mengatasi tantangan tersebut, tim peneliti menggunakan hemp yang kini semakin banyak dibudidayakan. Tanaman ini dinilai unggul karena dapat tumbuh di berbagai iklim, membutuhkan sedikit air, dan minim penggunaan pestisida.

Selain itu, hemp juga dapat ditanam bergantian dengan tanaman pangan seperti jagung dan kedelai, sehingga membantu menjaga kesuburan tanah.

“Polikarbonat ini, sebagai film halus, memiliki sudut kontak yang sangat tinggi dengan air. Kami tidak menyangka polyCBD-carbonate kami memiliki sudut kontak lebih tinggi dibandingkan sebagian besar poliolefin,” kata Sotzing.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Material ini juga berpotensi digunakan dalam bidang medis, seperti nanopartikel untuk penghantaran obat dan pelapis kateter. Meski demikian, para peneliti mengakui bahwa produksi CBD global saat ini masih belum mencukupi untuk sepenuhnya menggantikan PET dalam industri plastik. 

Namun, dengan meningkatnya penggunaan hemp di berbagai sektor seperti tekstil, konstruksi, dan pangan, produksi bahan ini diperkirakan akan terus meningkat. Pengembangan ini menjadi salah satu langkah untuk mengurangi ketergantungan terhadap plastik berbasis fosil sekaligus menekan dampak pencemaran lingkungan yang semakin meningkat.